Aktris AS dan Duta Besar Kehormatan UN Women, Anne Hathaway, berbicara selama peringatan Hari Perempuan Internasional di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada Senin (9/3/2026). Foto: Timothy A. Clary/AFPDalam peringatan International Women’s Day (IWD) 2026 di markas besar PBB pada Senin (9/3), aktris Anne Hathaway menyampaikan pesan tentang realitas yang masih dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia.Sebagai Goodwill Ambassador UN Women sejak 2016, Anne menekankan bahwa jarak antara wacana kesetaraan gender dengan realitas yang dirasakan perempuan masih sangat besar. Menurutnya, banyak perempuan di dunia yang hingga kini belum merasakan perlindungan dan kesempatan yang benar-benar setara.Ironi di Balik International Women’s DayMassa yang tergabung dalam Aliansi Simpul Puan menunjukan poster saat melakukan unjuk rasa dalam rangka Hari Perempuan Internasional di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Minggu (8/3/2026). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTOAnne Hathaway juga menyinggung ironi di balik peringatan International Women’s Day. Hari yang seharusnya menjadi momen perayaan bagi perempuan, menurutnya, masih sering diiringi dengan kenyataan bahwa perempuan dan anak perempuan di banyak tempat masih menghadapi risiko kekerasan dan ketidakamanan.Dalam pidatonya, Anne mengungkapkan kegelisahannya terhadap situasi tersebut.“Sulit rasanya mengetahui bahwa hari yang seharusnya merayakan perempuan ini justru masih harus membicarakan tentang betapa tidak amannya menjadi seorang perempuan. Bahkan lebih tidak aman lagi jika menjadi seorang anak perempuan,” ujarnya.Keberanian Perempuan dalam Memperjuangkan KeadilanAktris AS dan Duta Besar Kehormatan UN Women, Anne Hathaway, tiba untuk berbicara selama peringatan Hari Perempuan Internasional di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada Senin (9/3/2026). Foto: Timothy A. Clary/AFPDalam kesempatan itu, Anne juga menyoroti keberanian sejumlah perempuan yang tetap memperjuangkan keadilan meskipun menghadapi kekerasan dan tekanan besar. Ia menyebut nama Malala Yousafzai, aktivis pendidikan asal Pakistan yang menjadi simbol perjuangan hak pendidikan bagi anak perempuan.Selain Malala, ia juga menyinggung Virginia Giuffre dan Gisèle Pelicot sebagai contoh perempuan yang berani menyuarakan pengalaman mereka dan memperjuangkan hak atas martabat serta keadilan. Bagi Anne, keberanian mereka menunjukkan bahwa tindakan individu dapat membawa dampak yang lebih luas bagi masyarakat.Meski menyoroti berbagai tantangan yang masih ada, Anme juga menekankan pentingnya tetap merayakan kemajuan yang telah dicapai perempuan di berbagai bidang. Menurutnya, gerakan perempuan di seluruh dunia telah memainkan peran penting dalam mendorong perubahan sosial dan kebijakan, terutama dalam upaya melawan kekerasan berbasis gender.Ia menilai kemajuan menuju kesetaraan memang sering berjalan lambat, tetapi kerja kolektif dari berbagai gerakan perempuan telah membantu menjaga momentum perubahan tetap bergerak maju.Selain aktif di UN Women, Anne juga dikenal terlibat dalam berbagai inisiatif global yang mendukung pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Ia pernah bekerja sama dengan organisasi seperti World Bank dan Nike Foundation untuk mempromosikan program yang meningkatkan akses pendidikan dan peluang ekonomi bagi anak perempuan.Melalui pidatonya di markas PBB, Anne mengajak masyarakat global untuk terus menjaga solidaritas dan komitmen dalam memperjuangkan kesetaraan. Baginya, perubahan tidak akan terjadi tanpa keberanian untuk mendengar, mendukung, dan berdiri bersama melawan kekerasan serta ketidakadilan yang masih dialami perempuan di seluruh dunia.