‘Lebaran blues’ dan rasa kehilangan: Bagaimana momen hari raya bisa memicu duka

Wait 5 sec.

Tampak belakang seorang perempuan mengenakan pakaian salat duduk di kursi roda pada perayaan Idulfitri. Creativa Images/Shutterstock● Bagi mereka yang sedang berduka, hari raya dapat membuat rasa kehilangan terasa lebih nyata. ● Orang yang sedang berduka kerap merasa tersisih dan terisolasi dalam keriaan momen Lebaran.● Jangan memaksa mereka untuk ikut perayaan, berikan ruang untuk dukanya sambil sesekali memberi dukungan.Idulfitri sebagai “ritual” dirayakan umat muslim dengan mudik ke kampung halaman, dapat memperkuat jaringan kekerabatan dan identitas. Tradisi ini biasanya dilanjutkan dengan halalbihalal sebagai sarana rekonsiliasi dan solidaritas bersama.Namun, suka cita perayaan Idulfitri bukanlah milik semua orang. Bagi sebagian orang yang sedang berduka, hari raya justru dapat memicu rasa kehilangan terasa lebih nyata. Melalui aktivitas spesial, perayaan hari raya identik dengan kegiatan berkumpul, bertamu, berbagi cerita, serta makan bersama. Kegiatan-kegiatan ini dapat mengingatkan seseorang jika ada sesuatu yang hilang, berkurang, atau suasana yang tidak sama lagi. Ingatan ini bisa memicu rasa sakit, dan membuat orang-orang yang sedang berduka merasa kesepian. Baca juga: Kangen Lebaran masa kecil: Ada ketimpangan di balik nostalgia hari raya Perayaan yang memicu dukaPenelitian mengemukakan, individu yang kehilangan orang berarti dalam hidupnya cenderung mudah mengalami stres dalam berbagai perayaan, seperti ulang tahun dan perayaan hari besar. Sebab, pada hari tersebut, kenangan mulai muncul seperti sebuah film yang terputar otomatis. Dua perempuan sedang mengunjungi makam anggota keluarga mereka yang meninggal akibat COVID-19 di Jakarta Barat menjelang Idulfitri. BahbahAconk/Shutterstock Secara psikologis, kenangan yang sangat manis akan memicu perasaan rindu yang menyayat hati. Sebaliknya, kenangan sedih akan memicu seseorang yang berduka menjadi merasa bersalah, cemas, bahkan marah.Perasaan-perasaan tersebutlah yang membuat seseorang yang telah kehilangan mengalami kesulitan dalam menghadapi perayaan hari raya. Baca juga: Korban bencana Sumatra menyambut Lebaran dengan cemas: Imbas pemulihan belum efektif Berduka bukan proses yang lurusTeori lima tahap berduka (five stages of grief) yang muncul pada dekade 1970-an dan terkenal hingga kini di kalangan muda menjelaskan, rasa kehilangan ketika menghadapi kematian terjadi secara bertahap, lalu berangsur berkurang. Lima tahap tersebut adalah denial (penyangkalan), anger (kemarahan), bargaining (tawar-menawar), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan).Padahal, penelitian setelahnya (2007) yang menguji lima tahapan berduka tersebut menemukan bahwa secara kognitif dan emosional, tidak semua orang memproses kehilangan anggota keluarga secara bertahap. Sering kali penerimaan suatu kehilangan justru muncul di awal, lalu meningkat seiring berjalannya waktu. Sementara fase lain mengalami naik turun dalam kurun waktu yang berbeda.Penelitian berikutnya menemukan model lain dalam proses berduka, yakni bergerak maju-mundur. Prosesnya multidimensional, dan kompleks, dan ini terjadi pada setiap orang. Ini menunjukkan bahwa, meski peristiwa kehilangan sudah berlalu sangat lama dan seseorang nampak stabil secara emosional, perasaan berduka dapat kembali meningkat pada momen-momen tertentu. Pengalaman kehilangan setiap orang pasti berbeda-beda. Orang yang kehilangan anak, orang tua, atau pasangan memiliki proses berduka yang khas. Begitu pula peristiwa kehilangan yang mendadak atau setelah sakit panjang.Hal tersebut juga terjadi pada saya, yang tengah melewati fase berduka atas kepergian ayah dan menghadapi perayaan Idulfitri 1447 H.Oleh karena itu, penting untuk tidak melakukan generalisasi yang terlalu lebar ketika merespons seseorang yang sedang berduka–karena dapat memperparah kondisi psikologisnya. Baca juga: Jangan tanya kapan menikah dan punya anak–hindari pertanyaan tak berempati saat kumpul keluarga Tekanan untuk berbahagia di hari rayaLebaran cenderung selalu diartikan sebagai peristiwa yang penuh keceriaan, sehingga orang yang sedang berduka kerap merasa tersisih dan terisolasi dalam keriaan momen ini. Ada perasaan canggung untuk ikut merayakan, tapi terlalu sungkan untuk terus bersedih karena khawatir merusak suasana Lebaran.Akibatnya, mereka yang sedang kesulitan berdamai dengan kehilangan, terpaksa harus berpura-pura tersenyum dan bahagia, seolah dapat melanjutkan hidup. Tiga perempuan menangis usai melaksanakan salat Eid. alfawardana/Shutterstock Kondisi tersebut memunculkan perasaan tertekan dan kesepian. Ketika hal ini terus dilakukan, mereka akan sulit memvalidasi perasaan berduka yang sedang ia alami. Ini dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik yang serius, termasuk: Gangguan tidur, penurunan sistem imun, masalah kardiovaskular, depresi berkepanjangan, kecemasan (anxiety), bahkan stres kronis. Baca juga: Melek kematian: mengapa penting bicara tentang kematian Memberi ruang bagi duka, ingatan, dan perayaan yang baruDuka cita adalah pengalaman yang sangat pribadi dan kompleks. Setelah kehilangan, seseorang akan melakukan dua proses besar. Pertama adalah loss-oriented coping: fokus pada kehilangan, rasa rindu, emosi dan kenangan. Proses kedua adalah restoration-oriented coping: fokus pada penyesuaian hidup, peran baru, rutinitas dan fungsi sehari-hari.Kedua proses ini tidak bisa dihadapi sendirian. Perlu dukungan dan penguatan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika membersamai orang yang telah kehilangan di perayaan hari raya antara lain:Pertama, beri mereka ruang untuk meluapkan perasaan berduka.Proses berduka tidak dapat dihindari, melainkan perlu dilalui. Tidak perlu memaksa seseorang yang berduka untuk terlibat dalam perayaan, berikan waktu mereka untuk mengenang dengan sesekali memberikan dukungan.Kedua, ikut mengenang dengan mengirimkan doa. Mengubah perayaan dengan mengawali dengan berdoa bersama dapat membantu seseorang yang berduka merasa didukung dan ditemani dalam proses menerima ketentuan-Nya. Sebuah keluarga melihat dan meratapi lingkungan mereka yang hancur akibat banjir di Barabai, Kalimantan Selatan, 21 Januari 2021. Ismitullah/Shutterstock Ketiga hindari memberikan positive reframing atau terlalu cepat dan memaksa melihat sisi baik kematian.Misalnya seperti: “setidaknya dia tidak sakit lagi”, “ambil hikmahnya”, “ini yang terbaik.” Ujaran semacam itu merupakan bentuk komunikasi yang tidak membantu dan justru menambah beban.Terakhir, usahakan untuk tidak menasihati dan memaksa orang berduka segera move on dan kembali normal. Menasihati mereka untuk, misalnya, ikhlas dan menerima keadaan secepatnya justru menyakiti mereka. Alih-alih menasehati, lebih baik dengarkan mereka dan ikut berbagi pengalaman rasa sedih atau kehilangan.Hari raya tidak harus selalu tentang tawa yang sempurna, tapi bisa menjadi tempat saling mengekspresikan rindu dan kehilangan tanpa perlu disembunyikan.Di tengah gema takbir dan hangatnya kebersamaan, memberi ruang bagi duka adalah bentuk kasih yang paling sederhana, tapi sangat berarti. Baca juga: Ketika dampak kematian teman dekat sama traumatisnya dengan kehilangan anggota keluarga Siti Aminah tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.