Wall Street Anjlok, S&P 500 Jatuh ke Level Terendah 6 Bulan Imbas Perang di Iran

Wait 5 sec.

New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Brendan McDermid/REUTERSWall Street ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (20/3) dengan indeks S&P 500 jatuh ke posisi terendah dalam enam bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi seiring konflik AS-Israel melawan Iran yang telah memasuki minggu keempat, memicu kekhawatiran inflasi serta potensi kenaikan suku bunga.Situasi di Timur Tengah masih memanas tanpa tanda-tanda mereda. Militer AS dilaporkan mengerahkan kapal serbu amfibi yang membawa ribuan marinir dan personel tambahan ke kawasan tersebut. Di sisi lain, pemimpin tertinggi baru Iran menegaskan semangat persatuan dan perlawanan negaranya.Mengutip Reuters, Sabtu (21/3), Indeks S&P 500 turun 1,51 persen dan ditutup di level 6.506,48 poin, terendah sejak September. Nasdaq terkoreksi 2,01 persen ke posisi 21.647,61 poin, atau hampir 10 persen di bawah rekor penutupan tertingginya pada 29 Oktober. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 0,96 persen menjadi 45.577,47 poin."Pasar akhirnya mulai menerima kenyataan bahwa ini mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan semula, dan saya pikir itulah mengapa pasar mengalami penurunan. Konflik ini mungkin tidak hanya berlangsung beberapa minggu, tetapi mungkin lebih dari beberapa bulan," kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.Saham Big Tech TertekanSaham-saham berkapitalisasi besar di Wall Street kompak melemah. Nvidia dan Tesla masing-masing turun lebih dari 3 persen. Sementara Alphabet, Meta Platforms, dan Microsoft terkoreksi sekitar 2 persen.Di pasar obligasi, surat utang pemerintah AS kembali turun untuk hari ketiga berturut-turut, sejalan dengan tekanan yang juga terjadi di obligasi Inggris dan Eropa. Kenaikan harga minyak akibat konflik turut memperkuat kekhawatiran inflasi.Menurut alat FedWatch CME, kontrak berjangka suku bunga AS menunjukkan peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga pada akhir 2026 lebih besar dibandingkan menurunkannya."Kita hanya menghadapi lingkungan klasik yang mendorong kenaikan suku bunga dan hal itu didorong oleh ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang berkaitan dengan harga minyak. Dan fakta bahwa kita memasuki minggu keempat perang ini menunjukkan tekanan itu tidak akan hilang dalam waktu dekat," kata Padhraic Garvey, kepala strategi suku bunga dan utang global di ING di New York.Indeks Russell 2000 yang berisi saham berkapitalisasi kecil turun 2,26 persen dan kini sekitar 10 persen di bawah rekor penutupan tertingginya pada Januari.Sebanyak sembilan dari 11 sektor di S&P 500 ditutup di zona merah, dipimpin sektor utilitas yang merosot 4,11 persen, disusul sektor properti yang turun 3,15 persen. Sementara sektor energi cenderung stagnan secara harian, tetapi mencatat kenaikan mingguan ke-13 berturut-turut terpanjang sejak akhir 1980-an didorong faktor geopolitik global.Perdagangan Jumat juga bertepatan dengan fenomena “triple witching”, yakni berakhirnya kontrak derivatif saham, opsi indeks, dan kontrak berjangka secara bersamaan. Volume transaksi melonjak menjadi 27,5 miliar saham, jauh di atas rata-rata 20,1 miliar saham dalam 20 sesi terakhir.Secara mingguan, S&P 500 turun 1,9 persen, sedangkan Nasdaq dan Dow masing-masing melemah lebih dari 2 persen. Sejak konflik Iran pecah pada 28 Februari, S&P 500 telah turun 5,4 persen, Nasdaq melemah 4,5 persen, dan Dow terpangkas hampir 7 persen. Ketiga indeks juga kini bergerak di bawah rata-rata 200 hari, mencerminkan memburuknya sentimen pasar.Saham Super Micro Computer anjlok 33 persen setelah tiga individu yang terkait perusahaan tersebut didakwa menyelundupkan teknologi kecerdasan buatan senilai setidaknya 2,5 miliar dolar AS ke China.Di sisi lain, FedEx yang kerap dijadikan indikator aktivitas ekonomi global memberikan proyeksi optimistis. Perusahaan menyebut permintaan global tetap stabil meski tensi geopolitik meningkat, sehingga sahamnya naik hampir 1 persen.Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun jauh lebih banyak dibanding yang naik di S&P 500, dengan rasio 3,4 banding satu. Indeks ini mencatatkan 11 rekor tertinggi baru dan 36 rekor terendah baru, sementara Nasdaq membukukan 43 rekor tertinggi baru dan 274 rekor terendah baru.