AS Kirim Ribuan Marinir dan Kapal Amfibi ke Timur Tengah

Wait 5 sec.

Warga melihat bangunan yang hancur di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Teheran, Iran, 2 Maret 2026. Foto: West Asia News Agency via REUTERSAmerika Serikat (AS) kembali mengerahkan ribuan personel marinir serta kapal serbu amfibi ke Timur Tengah di saat konflik yang masih memanas di kawasan tersebut.Tiga pejabat AS mengatakan, sekitar 2.500 marinir akan dikerahkan bersama kapal serbu amfibi USS Boxer dan sejumlah kapal perang pendukung ke wilayah Timur Tengah. Namun, mereka tidak merinci secara pasti peran pasukan tersebut dalam operasi yang sedang berlangsung.Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan negaranya hampir mencapai tujuan dalam perang tersebut.Trump juga menyindir sekutu-sekutu NATO yang dinilainya enggan terlibat langsung dalam membuka kembali Selat Hormuz. "Kami tidak punya siapa pun untuk diajak bicara," ujar Trump, dilansir Reuters, Sabtu (21/3). "Dan Anda tahu apa? Kami menyukainya seperti itu," lanjutnya. Selat Hormuz sebagai jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia tertutup bagi sebagian besar pelayaran sejak perang pecah.Situasi ini memicu lonjakan harga energi global. Harga minyak melonjak sekitar 50 persen sejak awal konflik pada 28 Februari, meningkatkan kekhawatiran akan guncangan ekonomi dunia.Sebagai langkah meredam krisis energi, pemerintah AS menyatakan akan melonggarkan sanksi terhadap Iran untuk memungkinkan penjualan sekitar 140 juta barel minyak yang tertahan di kapal tanker sejak perang dimulai.Warga melintasi puing-puing di depan bangunan yang rusak setelah serangan Israel yang dilaporkan terjadi di Zuqaq al-Blat, Beirut tengah, menyusul eskalasi antara Hizbullah dan Israel di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, Lebanon, (12/3). Foto: REUTERS/Mohamed AzakirHingga kini, lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas, sebagian besar berada di Iran dan Lebanon. Di sisi lain, kekhawatiran publik meningkat bahwa konflik ini bisa berkembang menjadi perang skala besar. Di tengah situasi tersebut, sekutu-sekutu Barat masih berhati-hati. Sejumlah negara menyatakan siap mendukung upaya menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, tetapi Jerman dan Prancis menegaskan bahwa pertempuran harus dihentikan terlebih dahulu.Sementara itu, Inggris telah mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang situs rudal Iran yang menargetkan kapal di selat tersebut.Pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyampaikan pesan perlawanan. "Rakyat Iran telah menunjukkan persatuan dan ketahanan serta memberikan pukulan yang membingungkan kepada musuh," katanya. Namun, absennya Khamenei dari publik sejak awal perang memunculkan spekulasi terkait kondisi kesehatannya dan kepemimpinan di dalam negeri.