Mengenal Halim Perdanakusuma: Pilot Tempur RI Veteran Perang Dunia II

Wait 5 sec.

Marsekal Muda (Anumerta) TNI AU Abdul Halim Perdanakusuma merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, yang namanya diabadikan menjadi Bandara Internasional Halim Perdanakusuma di Jakarta. Selain berkiprah mendirikan TNI AU pilot tempur Inggris selama Perang Dunia II yang turut mengebom markas Nazi Jerman di Eropa. Sumber Gambar: http://tni-au.mil.idSetiap hari ribuan orang menyebut namanya.Di tiket pesawat.Di pengumuman keberangkatan.Di peta digital dan percakapan singkat: “Ketemu di Halim, ya.”Namun nyaris tak ada yang benar-benar mengenalnya.Halim Perdanakusuma telah direduksi menjadi sekadar nama bandara, penanda geografis tanpa ingatan. Padahal, sebelum namanya dilekatkan pada landasan pacu dan terminal keberangkatan, ia adalah pilot tempur legendaris yang bekerja untuk pasukan Sekutu selama Perang Dunia II dan dijuluki “Black Mascot.” Ia mendapatkan julukan demikian karena misinya selalu berhasil dan ia selalu pulang dengan selamat meski dalam misi berbahaya sekalipun, keberuntungannya melegenda.Bila kita mempelajari lebih dalam kisah Halim Perdanakusuma, ternyata dia adalah pilot tempur legendaris asal Madura yang bekerja untuk militer Inggris selama Perang Dunia II dan banyak melakukan pengeboman terhadap markas militer Nazi Jerman. Tentu tidak pernah terbayangkan ada orang Madura yang ikut Perang Dunia II di Eropa dan berperan menjadi pilot tempur untuk pasukan Sekutu.Siapa sangka bahwa Halim Perdanakusuma ternyata bukan orang sembarangan? Tidak pernah terbayang kalau Indonesia punya pilot militer dengan pengalaman tempur kelas dunia, jauh sebelum Indonesia memiliki Angkatan Udaranya sendiri. Selama ini banyak orang pergi ke Bandara Halim Perdanakusuma, tanpa benar-benar mengenal sosoknya dan memahami kisahnya.Halim Perdanakusuma adalah manusia yang mengarungi langit perang, menantang maut, dan mempertaruhkan hidupnya demi sebuah republik yang bahkan belum sempat bernapas lega.Ia bukan pahlawan yang lahir dari ruang seminar atau pidato peringatan. Ia lahir dari kokpit pesawat tempur, dari dentuman bom, dari langit Eropa yang terbakar oleh Perang Dunia II, lalu kembali ke langit Indonesia yang rapuh, miskin, dan diblokade.Dari Sampang ke Langit EropaAbdul Halim Perdanakusuma lahir pada 18 November 1922 di Sampang, Madura. Sebuah wilayah yang jauh dari imaji industri militer modern. Tak ada tradisi penerbangan, tak ada akademi udara, tak ada mimpi besar tentang langit. Namun sejarah sering kali memilih jalannya sendiri secara tak terduga.Coba bayangkan ketika perang terbesar sepanjang sejarah manusia meletus, seorang pemuda dari Sampang justru menjadikannya sebagai “Kawah Candradimuka” untuk menggembleng dirinya. Halim tidak belajar terbang dari game simulator penerbangan atau ruang kelas yang nyaman. Ia belajar dari udara Eropa yang terbakar, dari misi-misi pengeboman ke jantung pertahanan Nazi, dari setiap kali ia lepas landas dengan kemungkinan tak kembali. Ia bergabung dengan Angkatan Udara Kanada (Royal Canadian Air Force), lalu Royal Air Force (RAF)—Angkatan Udara Inggris. Tentu bukan sebagai figuran dari sebuah negeri kolonial, melainkan sebagai pilot tempur yang diakui kemampuannya.Misi-misinya ngeri: Halim menjalankan 44 misi pengeboman udara di Eropa, menyasar instalasi militer dan basis pertahanan Nazi Jerman. Ini bukan angka kecil. Setiap misi berarti kemungkinan tidak kembali. Setiap penerbangan adalah perjudian antara keterampilan, keberanian, dan nasib.Di RAF, Halim mencapai pangkat Wing Commander, sebuah posisi yang tak mungkin diraih tanpa kompetensi, keberanian, kepemimpinan, dan jam terbang yang tinggi. Pada titik ini, hidup bisa saja berbelok nyaman: pensiun terhormat, gaji tinggi, status mapan di Eropa.Namun semuanya berubah ketika ia mendengar kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.Ketika Republik MemanggilBayangkan berada di titik tertinggi karier, diakui di lingkungan militer paling disegani dunia, masa depan cerah menanti di Eropa yang mulai pulih dari perang. Lalu memilih pulang ke Indonesia yang baru merdeka yang masih kacau, miskin, dan belum punya apa-apa. Itulah yang dilakukan Halim.Ini bukan keputusan emosional semata. Ini pilihan moral yang membutuhkan keberanian lebih besar daripada terbang di tengah tembakan flak Jerman. Karena pulang ke Indonesia saat itu berarti memeluk ketidakpastian, sementara Eropa menawarkan segalanya dengan kedua tangan terbuka.Halim tiba di Indonesia pada awal 1947. Ia langsung menemui Suryadi Suryadarma, Kepala Staf TNI Angkatan Udara pertama. Ia berkata: "Saya siap mati untuk mempertahankan kemerdekaan ini." Bukan sekadar kata-kata. Ia membuktikannya dengan tindakan.Halim direkrut dan diangkat sebagai Komodor Udara (setara Marsekal Pertama) di TNI Angkatan Udara. Sesuai dengan keahlian dan pengalaman tempurnya, Halim dipercaya sebagai Perwira Operasi Udara. Ia bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi udara: menembus blokade Belanda untuk mencari logistik, menyusun siasat serangan udara atas daerah lawan, operasi penerjunan pasukan di luar Jawa, hingga penyelenggaraan penerbangan dalam rangka pembinaan wilayah. Di sela-sela kesibukannya, ia juga menjadi instruktur navigasi di sekolah penerbangan yang dirintis oleh Agustinus Adisutjipto.Ketika Agresi Militer Belanda I meletus, Halim mendapat perintah menyusun serangan balasan. Pada dinihari 29 Juli 1947, atas persetujuan pimpinan AURI, Halim memimpin pesawat-pesawat Indonesia untuk melakukan serangan udara pertama Indonesia dengan menyerang markas Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.Serangan udara pertama Indonesia itu berhasil dan sukses. Nama AURI melambung, untuk pertama kalinya setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia dapat menunjukkan superioritas kekuatan udaranya. Namun keberhasilan itu harus dibayar mahal.Sore harinya, Belanda membalas dengan menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan dari Palang Merah Malaya di langit Maguwo, Yogyakarta. Tiga perintis AURI gugur: Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, dan Juru Radio Opsir Udara Adisoemarmo Wiryokusumo.Halim Perdanakusuma kemudian menggantikan posisi Adisutjipto sebagai Wakil Kepala Staf AURI. Beban tanggung jawabnya semakin berat.Di tengah kesibukannya, pada 24 Agustus 1947, Halim menikah dengan Koesdalina di Madiun. Dua bulan setelah menikah, ia mendapat tugas baru: membangun angkatan udara di Sumatera. Tujuannya strategis. menghubungkan Jawa dan Sumatera menembus blokade Belanda, sekaligus menyiapkan basis perjuangan jika Jawa jatuh.Didampingi Opsir Udara II Iswahjudi, Halim berangkat ke Sumatera. Di sana ia diangkat sebagai Komandemen Tentara Sumatera. Bersama Iswahjudi, mereka disibukkan dengan misi mengangkut senjata dan amunisi, menembus blokade udara Belanda yang sangat ketat. Penerbangan dilakukan malam hari, menyelinap di antara radar dan patroli musuh.Coba bayangkan betapa tegangnya malam-malam itu: terbang dalam gelap, tanpa navigasi modern, hanya mengandalkan insting dan keberanian, sementara di bawah sana ada musuh yang siap menembak jatuh kapan saja.Selama di Sumatera, Halim berhasil menjalin kerjasama dengan tentara dan masyarakat. Bersama rakyat, mereka membangun lapangan udara darurat dan yang lebih menakjubkan. Berhasil menghimpun emas dari rakyat untuk membeli pesawat. Bukan dari APBN, bukan dari pinjaman luar negeri. Dari emas sumbangan rakyat.Salah satu hasilnya adalah sebuah pesawat Avro Anson dengan registrasi VH-PBY, dibeli seharga 12 kg emas murni, dan kemudian diberi nomor registrasi RI-003.Gugur di Langit, di Ujung Misi yang SunyiBulan Desember 1947. Langit Thailand baru saja ditinggalkan.Halim dan Iswahjudi mengudara sekali lagi, membawa Avro Anson RI-003 pesawat yang lahir dari dua belas kilogram emas, keringat rakyat Sumatera, dan doa yang tak sempat diucapkan. Di dalamnya, senjata-senjata berdesakan: karabin, bren gun, pistol, granat. Bukan besi mati, tapi harapan yang diasah jadi peluru.Misi mereka kali ini rumit, banyak hal yang harus dikerjakan. Mulai dari mengantar pulang Keegan, warga Australia yang menjual pesawat itu. Menjajaki pembelian senjata baru. Mengintip perwakilan RI di negeri orang, tempat barang-barang dari tanah air ditukar dengan nyawa.Selesai di Bangkok, RI-003 membelok ke Singapura. Tapi langit Malaya (kini Malaysia) menyimpan takdir lain.Di atas Perak, awan menggulung seperti tirai besi. Kabut tebal merayap, membungkus sayap, membutakan mata-mata navigasi. Badai datang tanpa diundang, mengguncang badan pesawat seperti tangan raksasa yang tak kenal ampun. Bahkan Halim yang 44 kali selamat dari neraka pengeboman Eropa, hanya bisa merasakan kendali lepas dari genggamannya.Pesawat oleng. Daratan mendekat. Lalu hening.Tidak ada dentuman tembakan.Tidak ada ledakan di angkasa.Tidak ada duel di udara.Hanya langit yang tiba-tiba memadamkan lampu-lampunya, dan dua pilot terbaik republik ini jatuh di tempat yang tak pernah mereka kenal: Labuhan Bilik Besar, di antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin, Pantai Lumut, Malaysia.Coba bayangkan detik-detik terakhir itu. Udara yang dulu jadi sahabat, kini jadi lawan. Kokpit yang dulu jadi singgasana, kini jadi keranda terbang. Seorang anak Sampang yang pernah mengepung Nazi dari ketinggian, harus berpulang di ujung misi yang sunyi, di negeri jiran, dalam cuaca yang tak sudi berkompromi.Langit tak selalu setia. Paling tidak Halim tetap setia memenuhi janjinya: mati demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Tragisnya Halim meninggal tidak di tanah kelahirannya dan dalam peti, diselimuti Merah Putih, di Masjid Adki, tanah asing yang tiba-tiba jadi rumah terakhir.Mayat yang Ditemukan di Negeri JiranLaporan pertama diterima polisi Lumut dari dua penebang kayu keturunan Cina, Wong Fatt dan Wong Kwang, pada 14 Desember 1947 pukul 16.30. Berita jatuhnya pesawat RI-003 mendapat perhatian luas, bahkan disiarkan surat kabar berbahasa Inggris, The Times dan Malay Tribune edisi 16 Desember 1947.Tim penyelamat di lokasi kejadian hanya menemukan jasad Halim. Sementara Iswahjudi bersama seluruh senjata yang mereka bawa, lenyap tanpa jejak. Hingga kini, tidak diketahui di mana rimbanya. Sebuah misteri yang menambah duka di balik tragedi itu.Karena di daerah Lumut belum ada pemakaman Islam, jenazah Halim sempat dimakamkan di Teluk Murok, sekitar 30 km dari Lumut. Atas persetujuan pihak RI, pemakaman dilaksanakan secara Islam pada 19 Desember 1947. Jenazah disemayamkan di Masjid Adki dengan diselimuti bendera Merah Putih. Di nisannya terpahat:“Jenazah Komodor Muda Udara A. Halim yang gugur di Tanjung Hantu tanggal 14 Desember 1947.”Halim meninggalkan seorang istri, Koesdalina, yang saat itu tengah mengandung empat bulan. Sebelum berangkat tugas, ia berpesan: jika kelak anak yang lahir laki-laki, beri nama Ian Santoso untuk mengenang sahabat karibnya semasa Perang Dunia II di Eropa.Ian Santoso kemudian tumbuh dan mengikuti jejak ayahnya: menjadi prajurit TNI AU, penerbang di Skadron Udara 17, Lanud Halim Perdanakusuma. Jabatan terakhirnya adalah Marsekal Madya TNI (Purn.) Ian Santoso Perdanakusuma, Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Sebuah garis darah yang tak putus dari pengabdian sang ayah.Nama yang Diabadikan, Ingatan yang Perlahan SirnaBandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta Foto: Aditia Noviansyah/kumparanNama Halim Perdanakusuma diabadikan menggantikan nama Pangkalan Udara Cililitan melalui Surat Penetapan KASAU nomor Kep/76/48/Pen.2/KS/1952 tanggal 17 Agustus 1952. TNI AU juga menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa menjadi Laksamana Muda Udara Anumerta, yang kemudian diselaraskan menjadi Marsekal Muda TNI AU Anumerta.Pada 15 Februari 1961, pemerintah menganugerahkan Bintang Maha Putera Tingkat IV. Dan melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 063/TK/1975 tanggal 9 Agustus 1975, Abdul Halim Perdanakusuma ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.Kerangka jenazahnya yang bersemayam di Malaysia kemudian dipulangkan dan dimakamkan kembali dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 1975.Hari ini, Halim Perdanakusuma hidup sebagai nama bandara. Ia disebut tanpa jeda, tanpa cerita, tanpa kesadaran. Ribuan orang melintas di terminal yang memakai namanya, naik turun pesawat, sibuk dengan urusan masing-masing, tanpa pernah bertanya: siapa gerangan yang namanya kami pakai setiap hari ini?Padahal, di balik nama itu ada sejarah panjang. Ada 44 misi pengeboman di langit Eropa. Ada julukan "Black Mascot" yang melegenda. Ada kepulangan yang tak mudah di saat dunia lain menawarkan kenyamanan. Ada serangan balasan atas Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa. Ada misi-misi rahasia menembus blockade. Ada 12 kilogram emas dari rakyat Sumatera yang dikumpulkan untuk membeli pesawat. Ada pesan kepada istri yang sedang hamil empat bulan, tentang nama yang harus diberikan jika anak itu lahir laki-laki. Ada jasad yang hilang dan senjata yang tak pernah ditemukan. Ada pengorbanan yang tak pernah ia hitung sebagai utang piutang.Halim bukan sekadar pahlawan masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa keahlian kelas dunia bisa diabdikan sepenuhnya untuk republik yang baru lahir. Bahwa nasionalisme sejati bukan soal slogan di atas kertas, bukan soal cuitan di media sosial, bukan soal atribut yang dipakai setahun sekali. Nasionalisme sejati adalah soal pulang. Pulang ketika dunia lain menawarkan kenyamanan. Pulang ketika Eropa membuka pintu lebar-lebar. Pulang ke Indonesia yang masih berdarah-darah, masih miskin, masih terancam, tapi tetap ia pilih sebagai tempat untuk hidup dan mati.Mungkin sudah waktunya, setiap kali kita menyebut "Halim", kita berhenti sejenak. Bukan untuk menunggu boarding. Bukan untuk scroll TikTok. Bukan untuk melihat jadwal kedatangan. Tetapi untuk mengingat, bahwa di langit yang sama dengan pesawat-pesawat yang kini lepas landas dengan aman, seorang anak Sampang pernah mempertaruhkan segalanya. Bahwa di langit itulah, Indonesia pernah dipertahankan. Dan di langit yang sama, ia memilih pulang, meski tahu itu bisa jadi terbang terakhirnya.Maka, lain kali jika Anda berkata “Ketemu di Halim, ya,” sempatkanlah bertanya dalam hati: Halim yang mana?Dan biarkan jawabannya membawa Anda pada kisah tentang seorang pemuda dari Madura yang menjadikan perang sebagai sekolahnya, yang pulang saat republik memanggil, dan yang namanya kini kita pakai setiap hari tanpa pernah benar-benar mengenalnya.Karena mengenal Halim berarti mengenal kembali arti pulang. Arti pengabdian. Arti memilih Indonesia di saat segalanya lebih mudah di tempat lain.Mungkin, hanya dengan mengenalnya, kita bisa mulai bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana kita mencintai negeri yang ia perjuangkan hingga titik darah penghabisan?