Aku Hanya Ingin Melihatmu Sekali Lagi di Ujung Jalan Itu

Wait 5 sec.

Ini cerita dari saya, Lintar. Tentang Pakladingan. Ilustrasi Ai Dede LemanIni cerita dari saya, Lintar. Tentang Pakladingan yang tidak pernah benar-benar saya tinggalkan, meski saya sudah lama pergi. Lampu petromak itu tidak pernah benar-benar terang. Tapi juga tidak cukup redup untuk dilupakan. Ia menggantung di tengah ruangan, bergetar pelan, seperti ikut bernapas bersama kami yang baru saja terbangun untuk sahur.Waktu itu saya masih kelas dua SMA. Mengikuti ayah dan ibu berjualan di sebuah kampung yang belum disentuh listrik. Kami menginap di rumah seorang pemilik warung, bersama beberapa pedagang lain. Setiap dini hari, suara piring dan sendok yang beradu menjadi alarm paling jujur lebih jujur daripada jam manapun.Dari dapur, bau ayam goreng kecap datang lebih dulu daripada suara manusia.Saya bangun setengah sadar, lalu duduk di dekat ayah dan ibu. Kami mengelilingi talang bulat berisi makanan. Talang itu diputar pelan, mendekatkan lauk kepada siapa pun yang menunggu. Dan setiap kali ayam itu berhenti di depan saya, rasanya seperti mendapat giliran kecil dari kebahagiaan.Siang hari, pasar berdiri di tanah yang lebih tinggi. Dari tepinya, kalau menoleh ke bawah, tampak sungai mengalir deras tanpa jeda. Cahaya memantul di permukaannya, bergerak terus seperti sesuatu yang tidak pernah menunggu siapa pun.Rumah-rumah bambu berderet, beratap seng yang memantulkan panas. Dari tempat saya duduk membantu ayah dan ibu, sesekali saya melirik ke arah belakang ke jalan kecil yang menurun ke arah sungai.Menjelang dhuhr, saat panas mulai menempel di kulit dan kaki terasa kaku karena terlalu lama duduk bersila, saya biasanya pamit lebih dulu."Saya mau beli lammang dulu, Bapa'." Dalam logat Makassarku. "Iya, jangan lama-lama ya" Sahut Bapak. Alasan yang sederhana dan memang benar. Tapi tidak seluruhnya.Jalan setapak itu sempit, cukup untuk satu orang lewat. Tanahnya keras, seperti sudah terlalu sering diinjak untuk mengingat siapa saja yang pernah melaluinya. Dari kejauhan, suara sungai tetap terdengar tidak keras, tapi tidak pernah hilang. Saya berjalan seperti biasa. Tapi langkah saya selalu melambat saat mendekati satu titik. Di seberang tempat penjual lammang itu, ada sebuah rumah. Sejak hari pertama, saya sudah hafal letaknya. Saya pura-pura melihat ke sekitar ke orang-orang yang lewat, ke asap lammang yang mengepul pelan padahal pandangan saya hanya tertahan di satu tempat itu. Rumah itu. Pintu kayunya tertutup, tidak rapat. Di sampingnya, selembar kain tergantung di jemuran. Kain itu pernah saya lihat dipakai seseorang sekilas saja pada hari pertama kami datang. Sejak itu, entah mengapa, rumah itu tidak pernah benar-benar menjadi biasa.Saya berhenti beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Menunggu sesuatu yang tidak pernah jelas. Mungkin berharap pintu itu terbuka sedikit. Atau sekadar ada bayangan yang melintas di baliknya. Tapi tidak ada. Dan anehnya, saya tidak ingin cepat pergi. Seolah-olah, kalau saya melangkah terlalu cepat, harapan itu ikut selesai di situ.Di ujung jalan, lammang dibakar di antara bara kayu. Asapnya naik perlahan, membawa aroma yang sederhana, tapi selalu berhasil memanggil sesuatu yang sulit dijelaskan. Saya berdiri di situ, menunggu. Sesekali melirik ke arah jalan yang tadi saya lewati seolah masih ada kemungkinan yang tertinggal di sana.Ketika lammang itu akhirnya saya pegang, hangatnya terasa lebih nyata daripada apa pun yang saya tunggu sejak tadi. Saya membawanya kembali ke pasar. Kadang dimakan pelan-pelan. Kadang hanya digenggam lebih lama dari biasanya. Seolah ada yang ingin saya tunda.Kini, ketika mengingat Ramadhan di Pakladingan, yang pertama hadir bukan lagi lammang. Bukan pula jalan setapak itu. Yang datang lebih dulu adalah ayah dan ibu. Cara kami duduk berdekatan saat sahur. Talang yang diputar pelan. Dan rasa sederhana yang dulu tidak pernah saya pikir akan menjadi sesuatu yang begitu utuh ketika dikenang.Saya dulu mengira saya datang ke kampung itu karena banyak hal. Termasuk alasan kecil yang tidak pernah saya ucapkan tentang seseorang yang saya harapkan ada di ujung jalan setapak itu, meski hanya sekilas. Tapi waktu berjalan seperti sungai di bawah pasar itu. Ia tidak berhenti. Tidak menunggu. Tidak kembali. Dan tidak semua yang pernah kita datangi, ditinggalkan untuk kita miliki.Kini, ketika hidup membawa saya lebih jauh ketika keluarga dan tanggung jawab memberi arti yang berbeda saya tidak ingin mengubah apa pun dari masa itu. Jika diberi kesempatan kembali, saya tetap ingin menjadi remaja itu. Yang pamit membeli lammang. Yang berjalan pelan di jalan setapak.Yang berhenti di depan sebuah rumah yang tidak pernah benar-benar ia kenal. Dengan harapan yang sama barangkali hari ini, kamu ada di sana. Seperti sungai itu, yang terus mengalir di bawah pasar meski tidak semua yang pernah berdiri di atasnya memilih untuk tinggal.