Ketika BYD Atto 1 Benar-benar Usik Pasar LCGC

Wait 5 sec.

Mobil listrik BYD di IIMS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparanPublik kerap membicarakan kedigdayaan penjualan BYD Atto 1 terhadap rival sesama battery electric vehicle (BEV), baik dari kelas segmen maupun harga. Padahal dalam diam, model ini ternyata juga mulai mengusik produk LCGC atau Low Cost Green Car.Menilik data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang tahun ini BYD Atto 1 masih di atas angin. Selama Januari-Februari 2026, distribusi dari pabrik ke diler (wholesales) sudah mencapai 7.061 unit.Hasil yang cukup untuk mempertahankan posisinya di puncak klasemen mobil listrik terlaris dua bulan 2026 berturut-turut. Bahkan melampaui jauh dibanding pesaingnya yang juga sama-sama andalkan banderol terjangkau.Disandingkan dengan seluruh model-model LCGC, Atto 1 juga masih perkasa. Sebut saja duo raja LCGC seperti Daihatsu Sigra atau Honda Brio Satya, masing-masing pada periode serupa telah terkirim ke jaringan diler sebanyak 5.650 unit dan 6.526 unit.Penjualan wholesales BYD Atto 1 dibanding model LCGC per Januari-Februari 2026 BYD Atto 1: 7.061 unitHonda Brio Satya: 6.526 unitDaihatsu Sigra: 5.650 unitToyota Calya: 5.615 unitToyota Agya: 2.257 unitDaihatsu Ayla: 1.960 unit.Honda Brio di IIMS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparanMemang secara umum hampir semua model LCGC alami pertumbuhan penjualan dari Januari ke Februari, kecuali untuk Honda Brio Satya yang justru melandai dari 3.430 unit menjadi 3.096 unit alias terkoreksi 9,73 persen.Sedangkan Daihatsu Sigra sebelumnya 2.610 unit menjadi 3.040 unit (+16,8 persen), Toyota Calya dari 2.579 unit jadi 3.036 unit (+17,7 persen), Toyota Agya semula 1.077 unit jadi 1.180 unit (+9,56 persen), dan Daihatsu Ayla dari 900 unit jadi 1.060 unit (+177,7 persen).Total semua lini LCGC yang telah terdistribusi mencapai 22.106 unit selama Januari-Februari 2026 atau turun sekitar 21,46 persen dibanding periode yang sama 2025 kemarin dengan akumulasi mencapai 28.147 unit.Penerimaan LCGC yang kian menukik ini sempat disinggung oleh pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung, Yannes Pasaribu. Menurutnya kurangnya variasi produk LCGC jadi salah satu faktor penentu.Mobil listrik BYD di IIMS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan“LCGC dengan desain yang kompromistis dan cenderung sangat basic, serta minimnya inovasi model, seringkali hanya facelift minor dengan fitur yang stagnan, mengurangi daya tarik emosional konsumen,” kata Yannes akhir Januari lalu.Karuan saja, penurunan segmen yang disebut sebagai ranahnya first car buyer itu sejak 2023. Kala itu, LCGC masih merasakan kenaikan penjualan hingga 29,39 persen, dari 158.206 unit pada 2022 menjadi 204.705 unit.Setelah itu, nasib memburuk. Pamor LCGC terus merosot, lihat saja dari tahun 2023, turun 13,15 persen ke angka 176.766 unit pada 2024. Kemudian lanjut anjlok 30,6 persen selama 2025 dengan hanya meraup angka 122.686 unit.Daihatsu Sigra di IIMS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparanApa yang dialami oleh BYD Atto 1 sebenarnya bukan perkara baru. Sejak awal kemunculannya tahun kemarin, model paling terjangkau dari BYD ini sudah mampu merebut angka penjualan yang selama ini diraih oleh model LCGC pada umumnya.Ambil Oktober 2025, 9.363 unit Atto 1 sudah sampai di gudang-gudang jaringan diler BYD. Bulan yang sama menandai pengiriman perdanannya sesaat belum lama meluncur resmi di Indonesia pada gelaran GIIAS 2025.Trennya berlanjut hingga November yang terjual 8.333 unit, meski lebih sedikit dibanding bulan sebelumnya, catatan itu jelas masih terpaut cukup jauh dari model LCGC paling laris kala itu yakni Toyota Calya yang terserap 3.122 unit.Sambut tahun baru 2026, pamor Atto 1 belum kunjung surut. Jenama China ini masih sanggup mengirimkan 3.361 unit lainnya, walau lebih sedikit sebesar 30,7 persen dibanding Desember 2025 yang peroleh 4.853 unit. Apakah performa itu berlanjut pada bulan berikutnya?