Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTORupiah kembali melemah dan menyentuh Rp 17.005 per Dolar AS menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Senin (16/3). Selain itu, komitmen Prabowo terkait batas defisit APBN 3 persen dari PDB. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Rupiah Melemah Lagi, Sentuh Level Rp 17.005 per Dolar ASNilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menembus level psikologis Rp 17.000 per Dolar AS pada perdagangan Senin (16/3). Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah melemah di posisi Rp 17.005 per Dolar AS, menunjukkan penurunan 47,50 poin atau 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.958 per Dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang domestik ini bergerak dalam kisaran Rp 16.956 hingga Rp 17.011 per Dolar AS.Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar AS secara global serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Secara tahunan (year to date), rupiah tercatat masih melemah sekitar 1,72 persen. Pergerakan rupiah dalam rentang 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp 16.079 hingga Rp 17.224 per Dolar AS, menunjukkan volatilitas yang signifikan.Tekanan terhadap mata uang juga terlihat di Asia, dengan peso Filipina yang melemah mendekati level psikologis 60 peso per Dolar AS, memicu intervensi dari Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) untuk menopang nilainya. Situasi ini menunjukkan kerentanan mata uang regional terhadap faktor eksternal seperti kenaikan harga energi global. Harga minyak Brent naik lebih dari 1 persen menjadi sekitar USD 104 per barel, memperpanjang kenaikan di tengah konflik Iran yang masih berlanjut.Prabowo: Batas Defisit 3% Tak akan Diubah Kecuali Krisis BesarPresiden Prabowo Subianto saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026). Foto: YouTube/Sekretariat PresidenPresiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan batas defisit APBN sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Aturan ini tidak akan diubah kecuali dalam kondisi darurat besar, merujuk pada pengalaman pandemi COVID-19. Batas defisit ini telah menjadi instrumen penting untuk menjaga kedisiplinan pengelolaan keuangan negara sejak awal 2000, pasca krisis keuangan Asia, dan merupakan salah satu pilar utama yang diperhatikan oleh para investor.Prabowo menolak gagasan sejumlah pemikir ekonomi yang mendorong pertumbuhan dengan menambah utang besar-besaran, menekankan prinsip "hidup sesuai kemampuan" bangsa. Ia menyebut pengeluaran harus disesuaikan dengan penghasilan, sebuah nilai yang ia pegang teguh. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) dan Juda Agung (kanan) menyampaikan konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTOKomitmen terhadap disiplin fiskal ini tetap dipertahankan meskipun banyak negara lain, termasuk anggota Uni Eropa, telah melonggarkan atau mengabaikan target defisit yang ketat.Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyoroti krisis di Iran sebagai pengingat penting bagi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Indonesia dinilai memiliki posisi yang lebih baik berkat sumber energi domestik seperti minyak sawit dan batu bara, serta potensi besar dalam pengembangan energi panas bumi, tenaga surya, tenaga air, dan biofuel. Targetnya, dalam dua tahun, Indonesia akan menjadi sangat efisien dan tidak bergantung pada sumber eksternal untuk ketahanan energi nasionalnya.