Parasocial Grief: Ketika Duka pada Publik Figur Terasa Seperti Nyata

Wait 5 sec.

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: ShutterstockPernahkah kamu merasa sangat sedih hanya karena serial drama yang kamu tonton sudah tamat? atau ketika salah satu member kesayangan kamu di sebuah grup musik keluar dari grupnya? Fenomena seperti ini berangkat melalui Teori Parasocial Interaction (PSI) yang diperkenalkan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada tahun 1956. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang dapat membangun hubungan emosional dengan figur media dari interaksi yang terjadi secara tidak langsung. Interaksi yang dimaksud dapat berupa mengikuti sosial media figur publik favorit, menonton serial drama dengan perasaan, bermain game dengan kesadaran penuh, atau mengonsumsi karya yang dihasilkan oleh idola kesayangan. Seiring dengan meningkatnya paparan terhadap figur media tersebut, keterikatan emosional dapat berkembang menjadi hubungan parasosial yang kuat.Apakah Hubungan Parasosial bermanfaat atau malah berdampak buruk bagi seseorang?Dikutip dari jurnal acta Psychologia, Hubungan Parasosial memiliki beberapa manfaat diantaranya menurunkan rasa kesepian, meningkatkan kesejahteraan diri, mendorong perkembangan pribadi dan eksplorasi identitas diri. Selain itu, ternyata hubungan parasosial juga memiliki dampak negatif yakni seperti kecanduan media, menumbuhkan sikap agresi dan bahkan obsesi jika hubungan ini tidak dikelola dengan baik. Parasocial GriefSama seperti kehidupan nyata, hubungan parasosial ini pun tak luput dari yang namanya perpisahan. Ketika hubungan parasosial berakhir secara tiba-tiba, misalnya karena sang idola keluar dari grupnya, novel yang dibaca telah tamat, tokoh favorit dalam drama meninggal dunia dan lain sebagainya, penggemar akan mengalami keadaan yang disebut parasocial grief, atau duka parasosial. Penelitian menunjukkan bahwa semakin kuat keterikatan parasosial seseorang terhadap figur media, maka semakin besar pula tekanan emosional yang dirasakan ketika hubungan tersebut berakhir (Cohen, 2004; Eyal & Cohen, 2006).Reaksi Parasocial grief dapat berupa syok, sedih, dan bahkan dapat serupa dengan reaksi duka setelah kehilangan orang terdekat seperti pasangan atau keluarga. Beberapa penelitian menemukan bahwa reaksi emosional dalam parasocial grief dapat menyerupai proses berduka dalam hubungan sosial di kehidupan nyata. Seseorang dapat mengalami tahapan seperti penyangkalan, kemarahan, kesedihan, hingga penerimaan, sebagaimana dijelaskan dalam model tahapan duka yang diperkenalkan oleh Elisabeth Kübler-Ross.Cara Mengatasi Kesedihan karena Parasocial GriefDikutip dari jurnal acta Psychologia, untuk mengatasi rasa sedih yang mendalam, seseorang dapat mengekspresikan emosi mereka dengan mengungkapkan perasaan di forum online atau media sosial untuk mencari dukungan emosional dari orang-orang yang memiliki pikiran yang sama. Mencoba melihat sisi positif dari hal yang terjadi juga dapat dilakukan oleh seseorang yang mengalami Parasocial grief. Cynthia Vinney dalam artikel Verywell Mind menyebutkan bahwa hubungan parasosial adalah hal yang wajar dan dialami oleh sebagian besar orang. Kesimpulannya, merasa kehilangan dalam konteks hubungan parasosial seperti fenomena para penggemar yang sangat emosional adalah hal yang wajar dan mereka akan melalui hal itu sesuai dengan tahapan grief seperti penyangkalan, kemarahan, kesedihan, hingga penerimaan.