Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: lavizzara/ShutterstockBadan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) tengah mempertimbangkan untuk melepas stok minyak lebih banyak imbas krisis yang disebabkan oleh perang AS-Israel dengan Iran.Mengutip Reuters, Senin (23/3), Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan saat ini pihaknya tengah berkonsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa mengenai pelepasan lebih banyak stok minyak."Jika memang perlu, tentu saja kami akan melakukannya. Kami akan melihat kondisinya, menganalisis, menilai pasar, dan berdiskusi dengan negara-negara anggota kami," kata Birol.Pada 11 Maret 2026 lalu, negara-negara anggota IEA telah menyepakati agar badan tersebut melepaskan cadangan minyak sebanyak 400 juta barel. Angka tersebut menjadi rekor yang pernah dilepaskan.400 juta barel itu sekitar 20 persen dari total cadangan minyak untuk mengatasi permasalahan krisis minyak global. Jika dikalkulasikan, sebelumnya cadangan minyak ada 2 miliar barel dan kini menjadi 1,6 miliar barel.Birol mengatakan tidak akan ada level harga minyak mentah spesifik yang akan memicu rilis data lebih lanjut. "Rilis data saham akan membantu menenangkan pasar, tetapi ini bukanlah solusi. Ini hanya akan membantu mengurangi dampak negatif pada perekonomian,” imbuh Birol.Birol tengah melakukan tur dunia dan dimulai dari Canberra, Australia, dengan alasan kawasan Asia Pasifik berada di garis depan krisis minyak. Hal ini dikarenakan ketergantungan kawasan ini pada minyak dan produk penting lainnya seperti pupuk dan helium yang melewati Selat Hormuz.Setelah bertemu dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Birol akan melakukan perjalanan ke Jepang akhir pekan ini sebelum bertemu dengan negara-negara G7.Birol juga mengatakan dampak perang di Iran sangat parah dan lebih buruk dibandingkan dua krisis minyak pada 1970-an dan perang Rusia-Ukraina.