Senjakala Ramadan

Wait 5 sec.

Masjid terapung di Kota Kendari (Dok. Pribadi)“Nikmatilah cahaya senja yang mempesona itu sebelum ditelan oleh cakrawala”Tidak terasa, perjalanan Ramadan sebentar lagi akan berakhir. Betapa bahagianya sebab kita masih bersama dengannya sampai saat ini. Tidak dapat dinafikan, begitu bermaknanya Ramadan bagi kehidupan kita. Hadirnya Ramadan laksana vitamin spiritual bagi diri kita. Lahir maupun batin. Cahayanya yang menghangatkan membuat kita selalu ingin dekat dengannya. Itulah bulan suci nan mulia. Bulan rahmat. Bulan maghfirah. Bulan pembebasan dari api neraka. Merugilah kita apabila tidak memanfaatkan waktu dengan baik saat bersamanya. Tidak ada garansi kita akan berjumpa lagi dengannya tahun depan.Ramadan Penuh MaknaDisadari atau tidak, kehadiran Ramadan telah membuat banyak perubahan positif di kehidupan kita. Yang sering bolong-bolong solat lima waktu, tiba-tiba menjadi rajin berjamaah di masjid. Yang sering lupa membuka mushaf Al-Quran untuk membacanya, seketika merutinkan satu juz setiap hari. Yang masih sungkan untuk berderma, seketika rajin sedekah. “Tidak apa-apa sedikit yang penting konsisten. Lama-lama jadi bukit.” Kata orang bijak.Di awal-awal puasa barangkali kita masih berjibaku menaklukkan hawa nafsu. Mencium aroma masakan saja, rasanya kita ingin segera mencicipinya. Barangkali karena kita belum terlatih puasa sunah. Senin-kamis misalnya. Apalagi sudah menjadi kebiasaan kita selama sebelas bulan sebelumnya makan dengan pakem tiga kali sehari. Lalu kita pun berdalih butuh adaptasi. Tidak apa-apa. Esoknya, kita mulai gas pol. Melahap semua amalan yang potensinya besar diganjar pahala berkali lipat.Solat lima waktu kita dirikan di masjid. Berupaya berdiri di shaf terdepan. Selepas itu, kita mulai mendaras kitabullah. Sesekali dengan terjemahannya. Target kita patok: satu juz setiap hari. Kebiasaan tidur pagi sempat menggoda di awal-awal, namun setelah sadar mudaratnya, kita segera bangkit menjemput rezeki (cuan). “Memang uang tidak dibawa mati. Tetapi kalau tidak ada uang rasanya pengen mati.”Tatkala menjelang magrib, kita juga mengambil peran yang lain. Menyiapkan menu berbuka untuk saudara-saudara kita; Kurma, es buah, kolak, jalangkote, bakwan, dan berbagai jenis kuliner khas nusantara yang lain. Malam hari kita paripurnakan puasa dengan solat tarawih dan witir berjamaah. Sesampai di rumah, lanjut santap sisa-sisa buka (SSB). Nikmat betul. Alhamdulillah. Tak lupa lanjut baca buku sejenak, tidur, bangun tahajjud di sepertiga malam terakhir, makan sahur bersama keluarga tercinta, dan solat subuh berjamaah. Lebih kurang begitulah siklus aktivitas kita selama Ramadan.Pernah di suatu podcast yang tayang di kanal Youtube, ada pertanyaan yang cukup menarik, “Mengapa orang muslim yang sedang berpuasa, jarang atau bahkan tidak ada yang mengeluhkan asam lambungnya naik?” Lalu mantan binaragawan, Ade Ray pun menjawab. Juga menarik sekali;“Puasa itu sifatnya menguatkan hati. Orang yang berpuasa punya asosiasi di alam bawah sadarnya. Yang mana tubuh beserta seluruh perangkatnya merespons dengan afirmasi yang positif pula. Hati dan persepsi kita yang tenang, gembira, dan sukacita itulah yang menguatkan saat kita berpuasa.”Demikianlah Puasa benar-benar menjadikan kita berada dalam nuansa pikiran yang bagus. Menjadi orang yang benar-benar tangguh. Bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial.Setelah Ramadan BerlaluIlustrasi Ramadan di Timur Tengah. Foto: Noushad Thekkayil/ShutterstockMendekati garis finis Ramadan tahun ini, tentu sudah banyak amaliah yang kita kerjakan. Siang maupun malam. Maka setelah Ramadan berlalu, kita seyogianya terus berupaya untuk istiqomah menunaikan ibadah. Bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas ibadah itulah yang sejatinya patut kita berikan atensi khusus. Harus dengan niat ikhlas, lurus karena Allah Swt. Bukan karena mengharapkan pujian orang lain. Rasulullah Saw mewanti-wanti, “Tidaklah seorang hamba meminta pujian dari manusia kecuali Allah akan mengambil kehormatannya" (HR. Tirmidzi). Dalam posisi kita sebagai makhluk sosial, kita juga harus terus menjaga silaturrahmi dengan sesama warga bangsa.Begitu istimewanya Ramadan, sahabat Rasulullah Saw pun sampai bersedih ditinggalkan oleh bulan yang mulia ini. Sebab mereka merasakan kenikmatan beribadah di bulan Ramadan yang sangat luar biasa. Dalam suatu riwayat, sahabat bernama Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Sungguh aku merasa lebih sedih di penghujung Ramadan daripada ketika kehilangan anakku sendiri.”Jika para sahabat saja bersedih di penghujung Ramadan, bagaimana dengan kita? Saudara Rasulullah. Jangan kaget! Dalam percakapan dengan para sahabatnya, Rasullulah menyebut kita adalah saudaranya. Sabdanya, “Kalian adalah sahabatku. Tetapi saudara-saudaraku adalah mereka yang datang setelahku dan beriman kepadaku tanpa pernah melihatku.” (HR. Muslim). Allahumma Sholli Alaa Sayyidinaa Muhammad.Pada akhirnya, Ramadan memasuki masa senjanya untuk bergegas meninggalkan kita. Namun sebelum dia benar-benar pergi, dititipkannya pertanyaan penting untuk kita renungkan. “Bagaimana ibadah kita setelah Ramadan berlalu? Masihkah kita memiliki motivasi beribadah seperti di bulan Ramadan?”Mari kencangkan ikatan sarung kita. Hidupkan malam-malam terakhir Ramadan bersama keluarga. Marilah fokus mengejar pakaian taqwa ketimbang baju lebaran. Semoga kita semua dimampukan oleh Allah Swt untuk meraih "ijazah" La’allakum Tattaqun sehingga kita dapat berhari raya bersama keluarga dan sanak famili dengan penuh sukacita dibalut dengan kedamaian dan kesyukuran. Aamiin yaa rabbal aalamin.