Narasi Puitis dalam Perang AS-Israel vs Iran

Wait 5 sec.

Ilustrasi rudal yang diluncurkan di tengah kobaran api dan asap. Sementara judul-judul operasi seperti True Promise, Epic Fury, dan Rising Lion melayang di udara bagaikan bait-bait puisi di langit. Ilustrasi: AIDi zaman ketika perang dijalankan dengan drone, satelit, dan rudal hipersonik, ada satu hal yang tetap terasa kuno: bahasa yang digunakan untuk menamai perang itu sendiri. Operasi militer modern hampir selalu memiliki nama yang terdengar puitis—seolah-olah diambil dari judul novel epik atau film blockbuster. Di balik teknologi perang yang semakin dingin dan mekanis, bahasa yang dipakai justru terasa dramatis, bahkan romantik.Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan fenomena itu dengan sangat jelas. Serangan dan operasi militer diberi nama seperti “Epic Fury”, “True Promise”, dan “Rising Lion”. Kata-kata ini tidak sekadar label administratif. Ia adalah narasi. Ia adalah pesan. Dan dalam banyak kasus, ia adalah propaganda yang dirancang dengan sangat hati-hati. Di sinilah perang modern menunjukkan wajahnya yang lain: bukan hanya pertempuran senjata, tetapi juga pertempuran makna.Bahasa yang Indah, Realitas yang HancurNamun di balik keindahan bahasa tersebut, realitas perang tetaplah brutal. Di balik kata-kata seperti “fury”, “promise”, atau “freedom”, terdapat kehancuran kota, korban sipil, dan trauma yang panjang. Inilah paradoks besar dalam perang modern: semakin canggih teknologi senjata yang digunakan, semakin dramatis pula bahasa yang dipakai untuk menggambarkannya.Seolah-olah dunia membutuhkan narasi yang indah untuk menjelaskan tindakan yang sebenarnya sangat destruktif. Nama-nama puitis ini berfungsi sebagai "anestesi moral"—sebuah upaya untuk menghaluskan kekerasan yang tak terkatakan menjadi sesuatu yang bisa dicerna oleh publik. Ketika sebuah rudal diluncurkan di bawah nama yang estetis, fokus penonton berita sering kali teralih dari debu dan darah menuju kemegahan kata-kata.Dalam banyak kasus, nama operasi bahkan terdengar seperti judul film atau novel. Tetapi bagi mereka yang berada di wilayah konflik, kata-kata itu bukan metafora. Ia adalah realitas yang menentukan hidup dan mati. Sebuah "Janji Sejati" bagi satu pihak bisa berarti "Malam Ketakutan" bagi pihak lainnya.Perang sebagai Cerita BesarJika dilihat dari sudut pandang naratif, konflik geopolitik sering kali menyerupai struktur cerita klasik. Ada prolog berupa ketegangan diplomatik dan retorika di podium PBB. Ada konflik yang meningkat melalui serangan-serangan kecil dan balasan yang terukur. Ada klimaks berupa operasi militer besar yang menyedot perhatian dunia. Dan pada akhirnya, ada resolusi—biasanya dalam bentuk gencatan senjata.Dalam struktur seperti ini, nama operasi militer berfungsi seperti judul bab dalam sebuah cerita besar.Iran, memilih gaya penulisan yang berbeda. Melalui “True Promise” (Va’de-ye Sadeq), mereka menyentuh aspek teologis dan eskatologis. Nama ini bukan hanya kode serangan, melainkan sebuah pernyataan bahwa ada janji suci yang harus dipenuhi. Ini mengubah serangan rudal menjadi sebuah kewajiban moral yang sakral.Israel, mengambil referensi yang berakar jauh pada identitas spiritual dan historisnya, "Rising Lion" (Singa yang Bangkit). Nama ini merujuk langsung pada ayat Alkitab dalam Bilangan 23:24, yang menggambarkan sebuah bangsa yang bangkit layaknya singa jantan yang tidak akan berbaring sebelum menyelesaikan urusannya. Pilihan simbolisme ini membangun narasi tentang perlindungan diri dan kedaulatan yang teguh.Berbeda dengan Iran dan Israel yang cenderung religius, AS menggunakan diksi yang bersifat "sekuler-sinematik" untuk menunjukkan hegemoni teknologi. Amerika Serikat menulis babnya dengan diksi kekuasaan yang bersifat global: “Epic Fury”. Nama ini memberikan kesan dominasi teknologi yang tak tertandingi. Sebuah "kemarahan" yang bukan sekadar emosi manusiawi, melainkan manifestasi kekuatan global yang bersifat epik dan hegemonikMeskipun ketiga negara memiliki ideologi yang berbeda, mereka bertemu di satu titik: menggunakan bahasa metafora untuk mengubah tindakan militer menjadi narasi yang besar. Di sinilah bahasa menjadi alat untuk memenangkan "hati dan pikiran" publik internasional.Kodefikasi dan Manipulasi PsikologisMengapa militer modern tidak menggunakan kode angka yang membosankan? Mengapa harus puitis? Sejarah penamaan operasi militer sebenarnya berawal dari kebutuhan praktis untuk keamanan komunikasi. Namun, seiring waktu, fungsi ini bergeser menjadi alat branding dan manipulasi psikologis.Ada beberapa pola yang bisa kita amati dalam estetika penamaan ini:Personifikasi Alam: Penggunaan kata seperti "Badai", "Fajar", atau "Singa" memberikan kesan bahwa serangan militer adalah kekuatan alam. Seolah-olah rudal yang jatuh adalah takdir alamiah yang tidak bisa dihentikan manusia, bukan hasil dari keputusan politik di ruang rapat yang nyaman.Religiositas yang Dipersenjatai: Terutama di Timur Tengah, penggunaan istilah yang memiliki resonansi kitab suci bertujuan untuk memobilisasi dukungan domestik. Ini mengubah tentara menjadi pejuang iman dan musuh menjadi personifikasi kejahatan.Teknologi yang Dimanusiakan: Kata-kata seperti "Iron" (Besi) atau "Shield" (Perisai) memberikan rasa aman palsu bahwa perang ini bersih, presisi, dan defensif, padahal dampaknya tetaplah ofensif dan menghancurkan.Di balik kemegahan nama-nama tersebut, setiap pihak sebenarnya sedang menjalankan strategi komunikasi jangka panjang. Mereka tidak selalu menyerang dengan peluru; terkadang mereka menyerang dengan persepsi. Nama operasi yang puitis adalah investasi dalam "perang narasi".Negara-negara ini sadar bahwa di era informasi, memenangkan pertempuran di lapangan tidaklah cukup jika mereka kalah dalam pertempuran di layar ponsel masyarakat dunia. Dengan membungkus kekerasan dalam estetika, mereka mencoba membangun legitimasi. Nama yang indah membuat tindakan yang dipertanyakan secara hukum internasional menjadi terlihat benar secara moral di mata pendukungnya.Siapa yang Menulis Sejarah?Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih besar muncul: siapa yang menentukan makna dari semua nama itu? Apakah sejarah akan mengingat “Epic Fury” sebagai pembelaan terhadap keamanan global, atau sebagai eskalasi konflik yang berbahaya? Apakah “True Promise” akan dipandang sebagai pembalasan yang sah, atau sekadar retorika yang memperpanjang rantai kekerasan?Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak ditentukan oleh keindahan nama operasi itu sendiri. Ia ditentukan oleh siapa yang memenangkan konflik dan bagaimana mereka menceritakannya kembali. Namun, satu hal hampir selalu terjadi dalam setiap perang: bahasa yang dipakai pada awalnya sering terasa sangat besar dan heroik, sementara ingatan sejarah akhirnya lebih banyak diisi oleh nama-nama korban yang terlupakan.Dalam pengertian itu, narasi puitis dalam perang modern mungkin bukan sekadar strategi komunikasi. Ia juga mencerminkan kebutuhan manusia untuk memberi makna pada kekerasan yang sulit dijelaskan secara logika kemanusiaan. Kita menciptakan "estetika" agar kita bisa tidur lebih nyenyak, menjauhkan diri dari bayang-bayang kehancuran yang sebenarnya.Tragedi yang Terbungkus RimaSeperti dalam epik kuno, perang selalu dimulai dengan kata-kata besar. Dari "Iliad" hingga operasi militer di Timur Tengah hari ini, pola itu tetap sama. Namun, sejarah yang jujur tidak akan ditulis dengan tinta emas nama operasi yang megah, melainkan dengan air mata mereka yang kehilangan segalanya.Narasi puitis dalam perang modern mungkin berhasil memenangkan simpati jangka pendek atau menggentarkan lawan di meja diplomasi. Namun, pada akhirnya, sejarahlah yang memutuskan apakah kata-kata itu akan dikenang sebagai legenda—atau hanya sebagai retorika kosong yang menutupi sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam. Di dunia yang semakin bising dengan propaganda, kejujuran terhadap realitas adalah bentuk perlawanan yang paling puitis.