Indonesia bisa mengalami musim kemarau yang berkepanjangan dan musim hujan yang sangat ekstrem karena fenomena alam bernama El Nino. Foto: ShutterstockIlmuwan cuaca memprediksi fenomena El Niño tahun ini berpotensi datang dengan kekuatan besar pada musim panas 2026, yang bisa mendorong suhu global ke tingkat ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya.National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), melalui Climate Prediction Center, mengumumkan pada pekan lalu bahwa peluang kemunculan El Niño mencapai 62% pada periode Juni hingga Agustus. Artinya, fenomena ini lebih mungkin terjadi dibanding tidak.Dilansir Live Science, El Niño merupakan fase hangat dari El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yakni pola iklim alami yang melibatkan perubahan suhu laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Saat El Niño terjadi, perairan hangat terkumpul di bagian timur Pasifik khatulistiwa dan mendorong aliran jet stream ke selatan.Dampaknya wilayah utara Amerika Serikat cenderung mengalami kondisi lebih hangat dan kering, sementara kawasan pesisir Teluk Meksiko dan tenggara AS menghadapi peningkatan risiko banjir.Saat ini, Samudra Pasifik tropis masih berada dalam fase La Niña, yakni fase dingin ENSO, ketika suhu permukaan laut turun setidaknya 0,5 derajat Celsius di bawah rata-rata jangka panjang. Namun, kondisi ini diperkirakan segera berakhir dalam beberapa minggu ke depan seiring menghangatnya suhu laut.Pola enomena El Nino dunia. Foto: Dok. WMOEl Niño akan terjadi jika suhu permukaan laut naik dan bertahan setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang. Jika benar terbentuk, El Niño tahun ini bahkan berpotensi berkembang menjadi super El Niño. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut meningkat hingga minimal 2 derajat Celsius di atas rata-rata.“Intensitasnya masih belum pasti, tetapi ada potensi El Niño moderat hingga kuat pada musim gugur hingga musim dingin,” ujar Paul Pastelok, meteorolog dari AccuWeather.AccuWeather memperkirakan peluang terbentuknya super El Niño mencapai 15% pada akhir musim badai pada November. Sementara itu, NOAA memberikan peluang sekitar sepertiga untuk El Niño kuat terjadi pada Oktober hingga Desember, meski kekuatannya masih dianggap sangat tidak pasti.Secara umum, El Niño cenderung memperkuat aktivitas badai di Pasifik tengah dan timur, namun justru menekan pembentukan badai di Atlantik. Hal ini biasanya membuat musim badai secara keseluruhan menjadi lebih lemah.Siklus ENSO sendiri biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun, bergantian antara fase hangat El Niño dan fase dingin La Niña. Meski demikian, waktu kemunculannya tidak selalu teratur, dan durasi tiap fase bisa bervariasi antara 9 hingga 12 bulan.Bumi terakhir mengalami El Niño pada Mei 2023 hingga Maret 2024. Saat itu, fenomena tersebut hampir mencapai kategori super El Niño, namun tidak bertahan cukup lama di ambang batas suhu yang dibutuhkan.Tahun terjadinya El Nino sejak tahun 1990-2024. Foto: Oceanic Nino IndexSuper El Niño terakhir tercatat terjadi pada periode 2015–2016. Fenomena El Niño sebelumnya turut berkontribusi terhadap rekor suhu panas global pada 2023 dan 2024, dengan tahun 2024 tercatat sebagai yang terpanas sepanjang sejarah.Jika El Niño kembali terjadi pada 2026, suhu global diperkirakan akan meningkat, meski kemungkinan tidak akan melampaui rekor 2024 karena tahun ini diawali dengan fase La Niña.Namun, dampak yang lebih signifikan justru berpotensi terjadi pada 2027. Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menyebut suhu global pada tahun tersebut bisa mencapai rekor baru, mengingat adanya jeda waktu antara fenomena ENSO dan dampaknya terhadap suhu permukaan Bumi.“El Niño akan datang. Ini akan mendorong kenaikan suhu global pada 2026, dan membuat 2027 sangat mungkin menjadi tahun terpanas dalam sejarah,” tulisnya.Meski begitu, penting untuk diingat bahwa cuaca dan iklim dipengaruhi oleh berbagai faktor. Bumi saat ini sudah mengalami pemanasan akibat perubahan iklim, dan tren tersebut akan terus berlanjut, terlepas dari siklus ENSO.