Mengapa ratusan hiu paus terdampar di Selatan Jawa dalam 13 tahun terakhir? Riset kami temukan jawabannya

Wait 5 sec.

Penanganan hiu paus terdampar di Purworejo, Senin (8/12/2025) Arief Nugroho/Sealife Indonesia, CC BY-NC● Populasi hiu paus di Indo-Pasifik menurun tajam, diperparah dengan banyaknya kasus hiu paus terdampar di Indonesia.● Mayoritas yang terdampar pun hiu paus muda (4–7 m) yang penting bagi keberlanjutan populasi.● Aktivitas manusia—seperti pencemaran laut, plastik, dan interaksi dengan alat tangkap—turut memperparah risiko.Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan salah satu spesies ikan terbesar di dunia, dengan ukuran yang bisa mencapai 20 meter.Namun, populasi spesies jumbo ini kian mengkhawatirkan. Dalam tiga generasi terakhir—sekitar 120 tahun—subpopulasi hiu paus di Indo-Pasifik menurun hingga 50-79%. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kasus hiu paus terdampar di Indonesia.Riset terbaru kami yang dipublikasikan di Scientific Reports mencatat 115 kejadian hiu paus terdampar di 23 provinsi di Indonesia dalam 13 tahun. Selama 2011–2023, sebanyak 127 individu terdampar, termasuk 80 diantaranya dilaporkan mati.Jumlah ini lebih banyak dari total kasus global (n = 114) yang dikumpulkan dari berbagai negara 141 tahun sebelumnya (1880–2021). Evakuasi bangkai hiu paus yang terdampar di Pantai Pasir Puncu, Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol, Purworejo, Jawa Tengah, Senin (8/12/2025). Proses penanganan dilakukan oleh tim gabungan dari Pemerintah Kabupaten Purworejo, TNI AL, LPSPL Serang Wilker Yogyakarta, dan Sealife Indonesia. Arief Nugroho/Sealife Indonesia, CC BY-NC Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa hewan raksasa yang mampu menjelajahi samudra luas justru berakhir terdampar di pantai?Terjebak di pesisir Selatan JawaAnalisis spasial dalam riset kami menunjukkan bahwa pesisir selatan Jawa muncul sebagai titik utama lokasi hiu paus terdampar di Indonesia. Hampir setengah dari total jumlah keterdamparan tercatat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.Lebih dari 90%, bukanlah keterdamparan massal, namun berupa kasus tunggal alias seekor hiu paus terjebak sendirian di perairan dangkal atau terdampar di pantai. Pola tren hotspot secara ruang dan waktu kejadian hiu paus terdampar di Indonesia. Warna oranye hingga merah menandakan peningkatan tren tahunan, biru menunjukkan penurunan, sedangkan kotak putih menandakan tren yang tidak signifikan. Putra et al 2025, CC BY-NC Grafik jumlah kejadian hiu paus terdampar di Indonesia per provinsi selama 2011–2023. Data menunjukkan bahwa pesisir selatan Jawa—terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur—menjadi wilayah dengan frekuensi keterdamparan tertinggi, menegaskan kawasan ini sebagai hotspot kejadian hiu paus terdampar di Indonesia. Putra et al 2025, CC BY-NC Dan yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari 70% individu yang terdampar adalah hiu paus muda berukuran 4 – 7 meter. Padahal, kelompok usia ini sangat penting bagi keberlanjutan populasi. Hiu paus jantan baru matang secara reproduktif pada ukuran sekitar 8–9 meter. Sementara, hiu paus betina butuh waktu lebih lama lagi karena harus mencapai ukuran tubuh yang lebih besar untuk bereproduksi.Artinya, setiap kematian individu muda berpotensi mengurangi generasi yang seharusnya menopang populasi di masa depan.Lantas, apa yang menyebabkan banyak hiu paus terdampar di pesisir Selatan Jawa? Jawabannya berkaitan dengan dinamika arus laut yang khas di wilayah ini.Setiap tahun, terutama antara Juni hingga November, angin musim tenggara memicu fenomena upwelling. Biasanya terjadi dekat sekali dengan daerah pesisir.Peristiwa ini mendorong massa air super dingin dari kedalaman ±1.000 meter naik ke permukaan hanya dalam waktu singkat, membawa nutrien dari laut dalam yang meningkatkan kesuburan perairan di permukaan. Pola ruang dan waktu kejadian hiu paus terdampar di pesisir selatan Jawa. Sebagian besar kejadian terjadi saat periode upwelling kuat, ketika suhu laut menurun, produktivitas perairan meningkat, dan gelombang menjadi lebih tinggi. Titik putih menunjukkan lokasi dan waktu kejadian hiu paus terdampar. Putra et al 2025, CC BY-NC Kejadian ini memicu ledakan populasi plankton dan ikan kecil yang menjadi sumber makanan bagi hiu paus, terutama buat yang masih muda dan sedang dalam masa pertumbuhan. Ini ibarat “meja makan raksasa” yang siap mereka santap. Saat sibuk mengejar mangsa, hiu paus akhirnya tanpa sadar berenang hingga ke area yang terlalu dekat ke pantai (perairan dangkal) hingga terjebak atau terdampar. Di samping itu, gelombang tinggi selama musim upwelling juga bisa memperburuk situasi. Ombak bisa terus mendorong hiu paus ke arah pantai hingga akhirnya terdampar. Baca juga: Temuan riset: Mayoritas hiu paus di Kepala Burung Papua dalam kondisi terluka Aktivitas manusia ikut berperanMeski faktor lingkungan berperan besar, riset kami menunjukkan bahwa aktivitas manusia dan pencemaran lingkungan turut berkontribusi memperbesar risiko hiu paus terdampar.Limbah, seperti sisa pakan tambak, pupuk pertanian, dan kotoran domestik, serta sampah plastik yang mengapung di laut mengandung zat kimia berbahaya. Hiu paus bisa sakit karena terpapar zat beracun itu, hingga membuatnya lemah dan akhirnya terdampar.Riset di beberapa negara menemukan materi plastik di lambung hiu paus yang mati terdampar. Hal ini mengonfirmasi pencemaran laut bisa menjadi pemicu kematian.Uji histopatologi (pemeriksaan jaringan tubuh) pada sampel individu hiu paus yang terdampar di Kebumen pada 2023 juga menunjukkan indikasi kerusakan organ yang diduga berkaitan dengan paparan zat toksik dari pencemaran pesisir, termasuk limbah tambak. Kebumen diketahui pernah menjadi lokasi proyek tambak udang berskala besar.Selain itu, interaksi dengan alat tangkap seperti jaring pantai juga bisa menyebabkan luka, stres, dan kelelahan yang membuat hiu paus rentan terdampar.Alarm bagi kesehatan laut IndonesiaKeterdamparan hiu paus tidak hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi antara dinamika laut, pencemaran lingkungan, dan tekanan aktivitas manusia.Meningkatnya kasus hiu paus terdampar bukan hanya isu konservasi satu spesies semata.Sebagai pemakan plankton, hiu paus merupakan indikator kesehatan ekosistem laut. Pergerakan mereka mencerminkan dinamika produktivitas laut, distribusi makanan, serta stabilitas lingkungan perairan.Ketika hiu paus makin sering terdampar, ini menandakan bahwa ekosistem laut sedang tidak sehat dan harus direspons dengan cepat.Sayangnya, penanganan hiu paus terdampar masih bersifat reaktif, hanya berfokus pada penyelamatan ketika peristiwa sudah terjadi.Padahal riset kami menunjukkan bahwa keterdamparan memiliki pola ruang dan waktu yang cukup jelas. Dengan hotspot dan musim rawan yang sudah diketahui, pemerintah dan pemangku kepentingan semestinya bisa lebih proaktif.Beberapa langkah yang perlu dilakukan yakni menyiapkan dan memperkuat tim respons cepat pada musim rawan di wilayah hotspot, melakukan investigasi ilmiah melalui nekropsi dan analisis lingkungan, serta melibatkan masyarakat pesisir dalam pendeteksian dan penyelamatan awal.Tanggung jawab regionalPosisi geografis unik Indonesia yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik membuat banyak hiu paus yang bermigrasi dari wilayah lain—seperti Australia Barat dan Kepulauan Christmas—mesti melintasi perairan Indonesia.Artinya, apa yang terjadi di perairan Indonesia berpotensi berdampak pada keberlanjutan subpopulasi hiu paus Indo-Pasifik secara keseluruhan.Laju pemulihan hiu paus sangat lambat, para ilmuwan memperkirakan butuh waktu sekitar satu abad agar jumlah populasi ini pulih ke tingkat aman.Jika tren hiu paus terdampar ini terus meningkat, peluang pemulihan populasi hiu paus bisa semakin kecil.Bagi Indonesia sendiri, ini akan menjadi kehilangan yang sangat besar bagi laut kita yang selama ini menjadi rumah bagi hiu paus muda.Mochamad Iqbal Herwata Putra menerima dana dari David and Lucile Packard Foundation, MAC3 Impact Philanthropies, GIZ IKI SOMACORE (International Climate Initiative – Solutions for Marine and Coastal Resilience), serta Ant International, yang telah memberikan dukungan bagi upaya konservasi hiu paus di Indonesia. Para pemberi dana tidak terlibat dalam perancangan penelitian, pengumpulan data, analisis dan interpretasi data, penulisan artikel ini, maupun dalam keputusan untuk mengirimkan naskah ini untuk dipublikasikan.Edy Setyawan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.