Mengapa banyak orang merasa harus ‘tampil sukses’ saat lebaran?

Wait 5 sec.

● Pertanyaan sensitif dan ajang pamer saat Lebaran sering kali memicu tekanan mental.● Prespektif psikologis melihat ajang ‘pamer’ ini sebagai upaya pemenuhan kebutuhan untuk diakui dan dihargai lingkungan.● Lebaran mungkin akan lebih bermakna jika dikembalikan sebagai ruang silaturahmi, bukan panggung kompetisi.Lebaran tinggal menghitung hari. Baju baru sudah ada. Tiket mudik sudah di tangan. Tapi di antara semua persiapan itu, ada yang diam-diam kita dipersiapkan: jawaban untuk berbagai pertanyaan yang mungkin akan datang.Contohnya pertanyaan seperti “Kapan nikah?”. Atau variannya yang juga tak kalah menghantui: “Kerja di mana sekarang?”, “Sudah punya rumah belum?”, “Kok kurus banget? Sakit, ya?”, atau sebaliknya “Kok gemukan?” Pertanyaan-pertanyaan ini rasanya sudah menjadi ritual tersendiri di momen Lebaran—bahkan selalu terasa lebih menohok dibanding pertanyaan serupa di hari biasa.Alhasil, tidak semua orang menyambut momen kumpul keluarga dengan hati lapang. Bagi sebagian di antara kita, Lebaran justru menjadi sumber kecemasan. Misalnya, kecemasan tentang pencapaian yang belum bisa dipamerkan, karier belum moncer, atau status pernikahan yang terus-menerus dipertanyakan. Lantas, mengapa Lebaran terasa seperti ajang pembuktian diri?Lebaran sebagai panggung sosial yang menekanDalam kehidupan sehari-hari, kita terus-menerus mengelola kesan yang ingin kita tampilkan kepada orang lain. Cara dengan memilih mana yang ingin kita perlihatkan dan ataupun simpan sendiri. Dalam psikologi sosial, proses ini dikenal sebagai manajemen kesan—terjadi secara sadar maupun tidak sadar tergantung situasi dan siapa yang sedang kita hadapi.Lebaran adalah salah satu “panggung” sosial yang paling sesak dalam kalender kita tersebut. Dalam satu hari, kita bertemu puluhan orang sekaligus: keluarga besar, tetangga, teman masa kecil. Masing-masing membawa ekspektasi berbeda tentang siapa kita (seharusnya) saat ini. Maka tak heran banyak orang secara sadar mempersiapkan “pertunjukan” mereka jauh sebelum hari H: baju baru yang sengaja dipilih, cerita tentang promosi jabatan yang disiapkan, atau foto pertunangan yang sudah dipasang di wallpaper ponsel.Yang membuat Lebaran terasa berbeda adalah sifat relasi sosial yang kita rasakan. Keluarga besar adalah kelompok yang paling awal membentuk gambaran tentang siapa diri kita. Mereka menyimpan ingatan panjang tentang siapa kita dulu dan ekspektasi spesifik tentang ke mana seharusnya hidup kita diarahkan. Nah, ketika ada jarak antara “diri yang ingin ditampilkan” dan “diri yang sebenarnya,” Lebaran tidak lagi terasa seperti perayaan, melainkan ujian yang menentukan kelulusan. Baca juga: Mengapa kita mudah saling memaafkan saat Idul Fitri, tapi amat sulit di luar Lebaran? Lebih dari sekadar pamerLalu, mengapa kita merasa terdorong untuk memperlihatkan pencapaian di momen seperti ini?Jawabannya tidak sesederhana karena kesombongan. Ahli psikologi sosial menyepakati bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa diterima dan dihargai oleh orang-orang yang dirasa penting bagi mereka.Studi menunjukkan bahwa banyak perilaku sosial manusia, termasuk perilaku menyesuaikan diri dengan kelompok (konformitas), upaya membuktikan diri, hingga kecemasan saat berinteraksi, merupakan ekspresi kebutuhan mendasar manusia untuk diterima.Keluarga adalah kelompok rujukan pertama dan paling melekat dalam hidup kita. Penilaian dari mereka, meski kita terima dalam bentuk pertanyaan basa-basi, terasa jauh lebih berefek daripada penilaian orang asing.Itulah mengapa pertanyaan “Kapan nikah?” dari tante kita terasa berbeda bobotnya dibandingkan pertanyaan serupa dari rekan kerja. Bukan karena tante kita lebih usil, tapi karena penerimaan mereka terhadap diri kita terasa lebih penting.Ahli psikologi perkembangan menekankan bahwa koneksi dengan kelompok sosial adalah kebutuhan dasar yang berdampak pada kesehatan mental, fisik, dan perilaku kita. Ketika kita merasa perlu membuktikan diri di Lebaran, sebetulnya kita tengah berjuang untuk memastikan bahwa kita masih layak mendapatkan tempat dalam kelompok itu.Cemas yang muncul setelahnyaManusia sebenarnya memiliki kecenderungan alami untuk bercermin dengan membandingkan diri terhadap orang-orang di sekitarnya. Apalagi tidak ada standar objektif yang jelas untuk mengukur “kesuksesan.” Hal inilah yang akhirnya terjadi saat Lebaran tiba.Perbandingan sosial terjadi secara dua arah. Ketika kita membandingkan diri dengan seseorang yang tampaknya “lebih berhasil” (upward comparison), kita bisa merasa termotivasi, atau justru merasa tidak cukup baik. Sebaliknya, membandingkan diri dengan yang tampaknya “kurang berhasil” (downward comparison) cenderung membuat kita lebih nyaman dengan posisi kita saat ini.Lebaran menyediakan kondisi ideal bagi kedua jenis perbandingan ini untuk terjadi secara bersamaan. Dalam satu meja makan ada sepupu yang baru naik jabatan, adik yang sudah mempunyai anak dua, dan teman lama yang baru membeli rumah. Semua informasi itu datang bertubi-tubi. Otak kita, yang memang terprogram untuk membandingkan, langsung bekerja mengolahnya. Baca juga: Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal? Yang mengkhawatirkan, upward comparison berulang bisa berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan sosial. Studi yang melibatkan mahasiswa di China pada 2024 menyebutkan bahwa perbandingan ke atas secara konsisten memicu kecemasan. Mekanisme ini melibatkan perasaan minder (relative deprivation) dan kecenderungan untuk terus-menerus merenungkan kesenjangan tersebut (secara negatif). Temuan ini sejalan dengan studi meta-analisis yang mencermati puluhan studi tentang perbandingan sosial: paparan terhadap target perbandingan ke atas secara konsisten berdampak negatif pada penilaian diri dan suasana hati.Ketika silaturahmi bergeser menjadi kompetisiTekanan untuk “tampil sukses” di momen Lebaran bukan hanya fenomena perorangan. Ia juga mencerminkan bagaimana budaya kita secara kolektif mengukur nilai seseorang melalui pencapaian yang terlihat: pekerjaan, penghasilan, status pernikahan, atau kepemilikan harta benda.Ketika ukuran-ukuran ini menjadi agenda utama perbincangan Lebaran, silaturahmi yang seharusnya menjadi ruang koneksi perlahan bergeser menjadi arena kompetisi.Akibatnya, mereka yang merasa tidak “lolos ujian"—misalnya yang karier atau kehidupan pribadinya tidak sesuai ekspektasi keluarga—bisa menarik diri dari momen kebersamaan ini. Bukan karena malas bersilaturahmi, tapi karena "biaya” psikologis yang terlalu tinggi.Ini bukan berarti pertanyaan tentang kehidupan seseorang selalu bermaksud buruk: bisa saja sebagai bentuk rasa peduli yang tulus.Tapi, kepedulian tanpa disertai kepekaan terhadap konteks bisa terasa seperti tekanan. Sementara tekanan berulang-ulang, dari banyak arah sekaligus, bisa meninggalkan bekas lebih mendalam dari yang kita duga.Mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang: apa yang sebetulnya ingin kita rayakan ketika Lebaran? Jika jawabannya adalah kebersamaan dan hubungan kekeluargaan yang tulus, maka yang perlu kita latih bukan hanya memaafkan, tetapi juga menahan diri untuk tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai bahan percakapan. Baca juga: Kenali 4 dampak lingkungan jika perayaan Lebaran tak ramah bumi Rizqy Amelia Zein tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.