Di Balik Tren Generative AI yang Viral, Ada Biaya yang Jarang Kita Pikirkan

Wait 5 sec.

Ilustrasi deretan server pusat data AI. Foto: iStockAI di Setiap Sudut KehidupanSaya pernah melihat orang menyuruh kecerdasan buatan (AI) menghitung dari satu sampai satu juta. Anehnya, itu ditonton ratusan ribu orang, salah satunya saya sendiri.Trennya memang aneh dan tidak masuk akal. Namun entah mengapa tetap menarik untuk ditonton. Saya bahkan tertawa melihat chatbot yang mencoba menghindari perintah tersebut, menyimpannya, lalu akhirnya lupa sendiri. Namun di balik hiburan singkat itu, ada mesin yang bekerja tanpa henti dan energi yang terpakai untuk memenuhi rasa penasaran saya.Beberapa tahun terakhir, AI berkembang sangat cepat. Lewat chatbot, seperti ChatGPT dan Gemini, siapa pun bisa mengakses teknologi yang dulu terasa rumit.AI bukan lagi hanya ada di industri besar atau laboratorium penelitian. Kini, AI hadir di ponsel kita, di media sosial, di ruang kelas, bahkan dalam cara kita mencari jawaban sehari-hari.Akar masalahnya, AI tidak hanya membantu kita bekerja. Ia juga bisa menjadi mesin hiburan yang tidak pernah lelah.Mungkin bumi tidak keberatan kita membuat balerina berkepala cappuccino. Yang keberatan hanya tagihan air dan listriknya.AI sebagai Alat Produktif: Membuka Peluang NyataIlustrasi artificial intelligence. Foto: ShutterstockArtificial Intelligence (AI) sebenarnya bukanlah musuh kita. Sejak awal, menggunakan kecerdasan buatan tidak salah. Teknologi ini—jika digunakan dengan benar dan bijak—bisa berdampak positif dan membantu berbagai industri.Contohnya, AI bisa membantu dokter menganalisis data medis untuk mempercepat proses secara akurat, membantu bisnis membaca tren pasar, ataupun membantu siswa memahami materi pelajaran. Dalam konteks ini, AI menjadi alat produktif yang meningkatkan efisiensi.Dalam kehidupan pribadi pun, AI bisa membantu meluaskan pengetahuan, seperti belajar bahasa, merangkum materi, dan mengeksplorasi ide-ide kreatif. Justru itu adalah contoh pemanfaatan teknologi yang tepat.Hiburan Instan: Konsumsi tanpa MaknaMedia sosial dipenuhi konten AI yang absurd dan viral. Salah satu yang populer adalah Italian brainrot dengan karakter karakter aneh dan tidak masuk akal. Konten “Italian brainrot” menampilkan karakter-karakter absurd, seperti “tung tung tung sahur” atau balerina dengan kepala berbentuk cangkir cappuccino.Konten tersebut memang menghibur. Namun, hiburan semacam ini sering kali hanya memuaskan rasa penasaran sesaat sebelum digantikan tren baru. Pola konsumsi yang serba cepat ini membuat kita terbiasa dengan konten-konten pendek, berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain tanpa refleksi.Di balik kebiasaan yang tampak sepele tersebut, terdapat konsekuensi material yang jarang dibicarakan. Setiap kali kita menekan tombol generate, server di pusat data bekerja dan mengonsumsi energi. Dalam skala individu mungkin terlihat kecil, tetapi dalam skala miliaran permintaan setiap hari, dampaknya menjadi besar.Beban Lingkungan yang Tidak TerlihatIlustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: ShutterstockBanyak orang mungkin kira AI hanya menjadi sebuah program atau aplikasi kecil seperti aplikasi lainnya. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks.AI berjalan di pusat data raksasa yang harus beroperasi 24 jam setiap hari. Sebagai gambaran skala infrastrukturnya, pusat data AI milik Microsoft di Wisconsin memiliki luas sekitar 127 hektare.Server-server ini membutuhkan listrik dalam jumlah besar, yang sebagian masih berasal dari bahan bakar fosil. Artinya, semakin tinggi penggunaan AI, semakin besar jejak karbonnya.Selain itu, untuk memproduksi komputer dan server, dibutuhkan juga mineral langka yang proses penambangannya dapat merusak lingkungan serta menghasilkan limbah beracun seperti merkuri dan timbal.Namun, kerusakan yang ditimbulkan tidak berhenti pada pencemaran bahan beracun semata. Masalah lain yang jarang kita pikirkan adalah besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem AI.Beberapa analisis menunjukkan bahwa energi yang digunakan AI untuk menjawab satu permintaan kompleks bisa berkali kali lebih besar dibandingkan pencarian sederhana di Google. Hal ini disebutkan dalam laporan dari United Nations Environment Programme pada 2025. Artinya, satu permintaan yang terlihat sederhana di layar ponsel sebenarnya memerlukan energi yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.Ilustrasi Google. Foto: Nick N A/ShutterstockMasalahnya tidak berhenti pada listrik. Pusat data juga membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Air ini dipakai untuk mendinginkan mesin-mesin server agar tetap bisa bekerja tanpa henti.Laporan dari United Nations Environment Programme mencatat bahwa konsumsi air infrastruktur AI bisa mencapai skala yang sangat besar. Dalam beberapa analisis, bahkan disebutkan bahwa penggunaan airnya diperkirakan dapat mencapai enam kali lebih banyak dibandingkan konsumsi air di Denmark yang memiliki populasi sekitar enam juta orang.Di saat yang sama, masih ada jutaan orang di berbagai belahan dunia yang kesulitan mendapatkan akses air bersih. Kontrasnya terasa aneh. Di satu sisi, ada orang yang harus berjalan jauh untuk mendapatkan air. Di sisi lain, ada sistem digital raksasa yang menghabiskan air hanya agar server tetap dingin.Ironisnya, sebagian dari sumber daya itu kadang dipakai untuk menghasilkan konten yang hanya bertahan beberapa detik di layar ponsel. Kita menonton sebentar, tertawa sebentar, lalu menggeser layar ke tren berikutnya.Dalam skala individu, satu permintaan memang terasa kecil. Namun ketika miliaran permintaan dibuat setiap hari—terutama untuk hiburan yang tidak memiliki nilai jangka panjang—dampaknya berubah menjadi akumulasi konsumsi energi dan sumber daya yang sangat besar.Kesadaran yang Masih MinimKini, informasi tentang jejak karbon digital sebenarnya sudah semakin mudah ditemukan. Namun, reaksi yang muncul sering kali justru berupa candaan atau sikap meremehkan. Pembahasan tersebut dianggap terlalu serius atau tidak menyenangkan.Ilustrasi internet. Foto: NicoElNino/ShutterstockKita hidup dalam budaya internet yang mengutamakan kecepatan, hiburan, dan viralitas. Dampak jangka panjang terasa jauh dan abstrak. Karena tidak terlihat secara langsung, banyak orang merasa tidak perlu memikirkannya. Padahal jika pola pikir ini dimiliki oleh jutaan orang secara bersamaan, konsekuensinya bisa menjadi sangat besar.Tanggung Jawab Pengguna: Memilih BijakAI pastinya merupakan salah satu inovasi terbesar abad ini. Namun, kemajuan teknologi seharusnya diikuti oleh kesadaran untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.AI pada dasarnya hanyalah alat. Ia tidak pernah memaksa kita membuat konten absurd atau mengikuti tren yang tidak masuk akal. Kita sendiri yang memilih bagaimana teknologi itu digunakan. Apakah AI menjadi alat untuk belajar, bekerja, dan memecahkan masalah nyata, atau hanya menjadi mesin hiburan instan yang kita gunakan tanpa berpikir panjang? Semuanya tergantung pada cara kita menggunakannya.Karena itu, kita bisa mulai dari hal sederhana. Menggunakan AI ketika benar-benar membantu, misalnya untuk belajar, mencari informasi, atau mengembangkan ide. Di sisi lain, kita juga bisa lebih sadar untuk tidak terus menerus menggunakan atau mengonsumsi konten AI hanya demi tren sementara yang cepat lewat.Kesadaran individu mungkin terlihat kecil. Namun jika banyak orang mulai berpikir dengan cara yang sama, dampaknya bisa menjadi jauh lebih besar.Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologinya. Kemajuan juga ditentukan oleh pilihan manusia yang menggunakannya. Apakah kita memakainya untuk sesuatu yang bermakna, atau hanya sebagai mesin untuk menghasilkan hiburan yang lewat begitu saja di layar ponsel.Pilihan itu, pada akhirnya, ada di tangan kita.