Kisah di Sebuah Peron Senja

Wait 5 sec.

Sore ini kembali aku berdiri di antara kerumunan orang yang berlalu lalang di stasiun sebuah kota. Ada gerombolan ibu-ibu dengan banyak tentengan belanja di tangan mereka. Ada sekelompok anak muda yang sepertinya akan hangout bersama. Serta nampak pula wajah-wajah letih orang pulang bekerja.Ilustrasi orang-orang di peron. Sumber: iStockDi antara banyak orang itu, mataku terpaku pada seorang ibu dengan dua anaknya. Bayangan kelelahan terlihat jelas di matanya. Kerudungnya sedikit kusut, bajunya sederhana, dan di tangannya ia menggenggam sebuah tas kain yang tampak berat. Di sampingnya berdiri dua anak kecil—seorang anak perempuan sekitar kelas empat SD dan seorang anak laki-laki yang tampaknya masih duduk di taman kanak-kanak.Anak laki-laki itu memegang erat ujung baju ibunya, seakan takut tersesat di tengah keramaian. Sementara kakaknya berdiri tenang, memeluk sebuah tas sekolah yang sudah tampak usang. Mereka bertiga berdiri agak menjauh dari kerumunan, seperti berusaha memberi ruang bagi orang lain yang lalu lalang.Sesekali sang ibu menunduk menatap kedua anaknya. Ia tersenyum kecil, meski kelelahan di wajahnya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.“Sebentar lagi keretanya datang, Nak,” katanya lembut.“Masih lama, Bu?” tanya si kecil dengan suara polos.“Tidak lama. Kita tunggu sedikit lagi.”Aku tidak tahu mengapa pandanganku terus tertuju pada mereka. Ada sesuatu dalam sikap sang ibu—tenang namun penuh keteguhan—yang membuatku penasaran.Beberapa menit kemudian anak perempuan itu berkata pelan, “Bu, tadi Ibu belum makan sejak siang.”Ibunya tersenyum. “Ibu tidak lapar.”“Tapi tadi Ibu cuma minum teh,” anak itu menimpali.Sang ibu mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih. “Tidak apa-apa. Yang penting kalian sudah makan.”Kalimat sederhana itu membuatku terdiam. Begitu biasa terdengar, tetapi begitu dalam maknanya.Tak lama kemudian anak laki-laki itu mulai gelisah. Ia duduk di bangku stasiun lalu bersandar pada ibunya.“Bu capek?” tanyanya.Sang ibu menatap anak itu dengan lembut. “Sedikit.”“Kalau capek, kita istirahat saja di rumah, Bu.”Ibu itu tersenyum lebih lebar, walau matanya terlihat berkaca-kaca.“Iya. Nanti kita istirahat di rumah.”Aku memperhatikan mereka lebih saksama. Di dalam tas kain yang dibawa sang ibu tampak beberapa kotak plastik dan botol minuman. Sepertinya itu adalah sisa dagangan.Seorang petugas kebersihan stasiun yang lewat menyapa, “Bu Sari, baru pulang jualan?”Sang ibu mengangguk ramah. “Iya, Pak. Alhamdulillah, lumayan hari ini.”Petugas itu tersenyum. “Semangat terus, Bu.”Dari percakapan singkat itu aku baru memahami sedikit gambaran hidupnya. Barangkali setiap hari ia datang ke kota ini untuk berjualan—mungkin makanan, mungkin minuman—demi menghidupi kedua anaknya.Kereta yang mereka tunggu belum juga datang. Orang-orang di peron semakin ramai. Namun sang ibu tetap berdiri tenang, sesekali memeriksa jam di ponselnya yang sudah terlihat tua.Anak perempuan itu kemudian membuka tas sekolahnya.“Bu, aku dapat nilai bagus hari ini,” katanya sambil menunjukkan buku.Sang ibu segera mendekat, menatap halaman buku itu dengan mata berbinar.“Wah, bagus sekali!”“Guru bilang kalau aku terus belajar, aku bisa dapat beasiswa nanti.”Sang ibu terdiam sejenak. Lalu ia mengangguk perlahan.“Iya. Kamu harus terus belajar.”“Supaya bisa bantu Ibu nanti,” kata anak itu.Mendengar itu, sang ibu tertawa kecil, meskipun matanya tampak semakin lembap.“Kamu tidak perlu bantu Ibu. Tugasmu cuma belajar dan jadi orang baik.”Sementara itu si kecil yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “Kalau aku sudah besar, aku mau kerja juga.”“Kerja apa?” tanya ibunya sambil tersenyum.“Kerja yang bisa beli rumah besar buat Ibu.”Sang ibu tidak langsung menjawab. Ia hanya memeluk kedua anaknya perlahan.“Rumah kecil kita juga sudah cukup,” katanya pelan. “Asal kita bersama.”Angin sore berhembus melewati peron stasiun. Suara kereta dari kejauhan mulai terdengar.Pengumuman pun menggema melalui pengeras suara: kereta tujuan kota mereka akan segera tiba.Sang ibu segera berdiri tegak. Ia merapikan kerudungnya, lalu menggenggam tangan kedua anaknya.Di wajahnya masih terlihat lelah, tetapi kini juga ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar kelelahan—sebuah keteguhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.Ketika kereta akhirnya berhenti di depan mereka, sang ibu membantu anak-anaknya naik terlebih dahulu. Ia memastikan mereka duduk dengan aman sebelum akhirnya duduk di kursi di samping mereka.Kereta itu perlahan bergerak meninggalkan stasiun.Gambar kereta mulai berjalan. Sumber: PexelsAku masih berdiri di peron, memandangi kereta yang semakin menjauh. Di dalam salah satu gerbongnya, seorang ibu sederhana sedang membawa pulang dua alasan terbesar dalam hidupnya untuk terus bertahan.Saat itu aku sadar, di tengah hiruk pikuk kota dan ribuan orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, ada begitu banyak perjuangan yang berjalan diam-diam.Perjuangan seorang ibu yang mungkin tidak pernah dianggap luar biasa oleh dunia.Namun bagi kedua anaknya, ia adalah rumah, harapan, dan alasan mengapa mereka percaya bahwa hari esok bisa menjadi lebih baik.Dan di mataku, ibu itu adalah gambaran paling nyata tentang kegigihan yang tidak pernah menyerah.