60% pasien TB berisiko kurang gizi: Pemenuhan nutrisi justru bisa percepat pemberantasan tuberkulosis

Wait 5 sec.

● Penanganan TB tidak bisa hanya fokus pada pengobatan, tapi juga pemenuhan gizi pasien dan orang kontak erat.● Pemenuhan gizi yang tepat terbukti dapat meningkatkan peluang hidup dan keberhasilan pengobatan pasien TB.● Cara ini juga bisa mengurangi 50% risiko penularan penyakit pada orang yang tinggal serumah dengan pasien TB.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 memperkirakan ada lebih dari satu juta kasus TB dengan 125 ribu kematian di Indonesia. Salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian pasien TB adalah malnutrisi alias asupan gizi tidak seimbang seperti kekurangan gizi. Kekurangan gizi bisa mengganggu sistem kekebalan tubuh pasien dan membuat bakteri Mycobacterium tuberculosis kebal obat. Akibatnya, penyebaran infeksi TB makin parah, menjangkiti organ-organ vital, dan meningkatkan risiko kematian.Data Kementerian Kesehatan pada 2022 mengungkapkan 60% pasien TB di Indonesia berisiko mengalami malnutrisi. Angka ini melebihi rata-rata dunia sebesar 57%.WHO merekomendasikan pemenuhan nutrisi untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan dan peluang hidup pasien TB. Pemenuhan gizi harus diprioritaskan dalam standar perawatan pasien TB global. Idealnya, berupa bantuan pangan dan konseling gizi, terutama bagi pasien TB malnutrisi.Sebagai peneliti kesehatan masyarakat, saya melihat upaya pemenuhan gizi ini sayangnya belum diterapkan dengan maksimal dalam penanganan kasus tuberkulosis di Indonesia.Program gizi untuk pasien TB masih terbatasPemberian makanan bergizi secara signifikan meningkatkan berat badan, serta mengurangi risiko kematian pasien TB dengan kekurangan gizi.Nutrisi yang baik mendukung regenerasi jaringan tubuh dan meningkatkan respons imun terhadap infeksi. Dengan begitu, tubuh lebih bisa menoleransi dan menyerap obat-obatan TB dengan lebih efektif.Sayangnya, penyaluran program pemenuhan gizi untuk pasien TB di Indonesia masih sangat terbatas dan tidak merata. Padahal, Kemenkes telah mengeluarkan Pedoman Pelayanan Gizi pada Pasien TB sejak 2014. Baca juga: Mengapa kegagalan pengobatan tuberkulosis banyak terjadi di Indonesia? Laporan Center for Tropical Medicine UGMpada 2020 mengungkapkan hanya 8% pasien TB yang menerima bantuan berupa paket makanan bergizi tinggi ataupun pemberian makanan tambahan. Bentuk bantuan sosial untuk pasien TB tiap daerah di Indonesia juga tidak seragam. Masing-masing pemerintah daerah memiliki pendekatan yang berbeda dalam menyalurkan bantuan, baik berupa bahan pangan maupun dana tunai. Di Pekanbaru, Riau, misalnya, orang dengan TB menerima bantuan tunai sebesar Rp750 ribu per bulan. Sementara itu, Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan, memberikan dua kilogram telur ayam dan dua kotak susu tinggi protein kepada setiap pasien. Di Kabupaten Jembrana, Bali, pasien TB mendapatkan makanan tambahan beragam, mulai dari susu, buah-buahan, sayuran, hingga aneka sumber protein lainnya. Keberagaman ini menunjukkan bahwa kebijakan penanganan TB di tingkat daerah masih berjalan sesuai kapasitas anggaran dan prioritas masing-masing.Di sejumlah daerah, pasien TB sering kali terpinggirkan dalam skema bantuan sosial karena kurangnya koordinasi antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan pemerintah desa. Ditambah lagi, sistem kesehatan kita masih berfokus pada deteksi dini dan pengobatan tuberkulosis, sehingga pemenuhan gizi belum menjadi prioritas.Ketergantungan terhadap mitra donor juga menyebabkan program pemenuhan gizi pasien TB rentan mandek saat pendanaan berhenti. Baca juga: Program USAID dihentikan: Bagaimana nasib pengentasan TB di Indonesia? Pentingnya dukungan sistem kesehatanProgram pemenuhan gizi seharusnya tak terpisahkan dalam program pemberantasan TB di Indonesia. Namun, penerapannya memerlukan pendekatan yang tepat dan terstruktur. Hal ini mencakup skrining gizi rutin pada fase diagnosis pasien, dukungan gizi selama pengobatan, pemantauan status gizi setelah pengobatan, hingga dukungan gizi untuk orang yang serumah dengan pasien TB. Hasil uji coba acak Reducing Activation of Tuberculosis by Improvement of Nutritional Status (RATIONS) di India pada 2023 menunjukkan bahwa pemenuhan gizi untuk anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB mengurangi risiko penularan penyakit sebesar 50%. Penelitiannya melibatkan 10.345 anggota keluarga dari 2.800 pasien TB paru. Dalam riset ini, semua pasien TB memperoleh paket bahan makanan bulanan (berisi beras, kacang-kacangan, susu bubuk, minyak, dan multivitamin) selama enam bulan pengobatan. Kemenkes pun telah merekomendasikan komposisi pola makan bergizi seimbang untuk mendukung ketahanan tubuh pasien TB dan meningkatkan keberhasilan pengobatan. Dalam sehari, pasien TB perlu mengonsumsi masing-masing 3 - 4 porsi karbohidrat, protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah.Sumber karbohidrat, misalnya, nasi, roti, singkong, jagung, ubi, atau kentang. Adapun lauk hewani meliputi daging sapi, ayam, ikan, dan telur. Sementara lauk nabati mencakup tahu, tempe, dan kacang-kacangan.Selain pasien TB dan kontak erat, pemenuhan gizi sebaiknya juga diberikan kepada kelompok rentan, seperti orang dengan HIV/AIDS. Edukasi dan suplementasi gizi untuk kelompok rentan merupakan bagian penting dalam program pemenuhan gizi dan penanganan TB. Tujuannya, agar kasus tuberkulosis tidak meluas.Pendekatan komprehensif ini perlu didukung dengan sistem pemantauan yang baik untuk mengevaluasi efektivitas program.Butuh kerja sama lintas sektorUpaya pemadanan program pemenuhan gizi dalam penanganan TB akan sia-sia jika tidak didukung sistem kesehatan yang memadai. Sebab, kasus kekurangan gizi pada pasien TB bukan masalah kesehatan semata. Akar masalah gizi buruk adalah kerawanan pangan, yang sangat dipengaruhi oleh kesehatan ekosistem dan sistem pangan berkelanjutan. Oleh karena itu, penerapan kebijakan ini harus melibatkan kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian untuk ketahanan pangan. Libatkan pula Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan untuk kelestarian lingkungan. Pemerintah juga perlu memadankan data ketahanan pangan dengan data surveilans (sistem pemantauan) TB. Tujuannya untuk mengidentifikasi dini daerah yang berisiko tinggi mengalami peningkatan kasus TB akibat kerawanan pangan.Tantangannya, menurut analisis CISDI yang terbit tahun 2024, sistem pemantauan dan informasi kesehatan Indonesia saat ini masih terkotak-kotak sehingga menghambat deteksi dini dan respons penanganan TB. Kementerian Kesehatan harus menggencarkan sistem notifikasi aktif TB di fasilitas-fasilitas kesehatan maupun lewat skrining di komunitas—yang mencakup kontak serumah, kontak erat pasien, dan orang dengan HIV/AIDS. Baca juga: Jika pandemi terjadi lagi, bagaimana mitigasi layanan kesehatan TB & HIV seharusnya? Deyo Alfa Christian tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.