Gusungi Jadi Penanda Waktu: Cara Orang Tidore Membaca Alam dan Fase Bulan

Wait 5 sec.

Gusungi (padang lamun) di Tidore sebagai penanda waktu. Sumber Foto Arifin Abas Kalender TidoreGusungi menjadi salah satu cara masyarakat di Tidore membaca waktu lewat alam. Bunga padang lamun yang hanyut ini dipercaya sebagai penanda fase bulan.Sekilas, ia hanya terlihat seperti bunga yang terbawa arus di permukaan laut. Namun bagi orang tua dulu, itulah tanda penting untuk memahami waktu tanpa harus melihat langit.Gusungi dan Kalender Alam TidoreDalam tradisi lisan, dikenal ungkapan: “Gasung mabunga ruru, ora fane futu moi” (Hanyutnya padang lamun menandakan bulan sudah lewat satu malam).Dari hasil diskusi dengan Arifin Abbas, dijelaskan bahwa ketika bunga Gusungi mulai hanyut pada siang hari—sekitar pukul 11 hingga 12—itu menjadi tanda bahwa bulan telah masuk hari pertama.Artinya, tanpa melihat langit sekalipun, masyarakat bisa membaca waktu hanya dari pergerakan laut.Tidak Sekali, Tapi Dua KaliMenariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi sekali dalam sebulan. Menurut Arifin Abbas, padang lamun berbunga pada dua momen penting: awal bulan dan saat purnama.Di situ, masyarakat membaca dua penanda:awal bulan sebagai permulaan hitunganpurnama sebagai pertengahan siklusSatu tanda alam, tapi memberi dua informasi waktu sekaligus.Gusungi, Fase Bulan, dan Pasang Surut LautJika dilihat dari sisi ilmiah, fenomena ini cukup masuk akal. Padang lamun termasuk Angiospermae laut yang sangat dipengaruhi kondisi lingkungan.Sementara itu, fase bulan berperan dalam Pasang surut laut yang menggerakkan arus di wilayah pesisir.Fenomena ini juga berkaitan dengan pasang surut laut yang memengaruhi kehidupan pesisir. Pada awal bulan dan purnama, arus laut cenderung berubah. Di waktu tertentu—terutama menjelang tengah hari—arus cukup kuat untuk mengangkat bunga lamun ke permukaan.Dari situlah Gusungi terlihat hanyut, dan dari situ pula masyarakat membaca tanda waktu.Saat Gunung “Menunggu” LautGusungi tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga hadir dalam ungkapan yang lebih dalam: “Gasung ngona no bunga rewa, kie ngori mega mangale” (Bila lamun tidak lagi berbunga, apalah guna aku gunung)Menurut Arifin Abbas, dalam tradisi lisan Tidore (dola bilolo), ungkapan ini menggambarkan seolah-olah gunung berharap lamun terus berbunga.Maknanya sederhana namun dalam: laut dan gunung tidak berdiri sendiri. Keduanya saling terhubung dan memberi manfaat, meski hubungan itu tidak selalu terlihat secara langsung.Cara Lama yang Masih RelevanHari ini, orang mungkin lebih mengandalkan kalender digital atau informasi cuaca. Namun, apa yang dilakukan masyarakat Tidore menunjukkan bahwa membaca alam juga bisa akurat—asal dilakukan dengan pengamatan yang sabar dan berulang.Gusungi bukan sekadar bunga yang hanyut. Ia adalah bagian dari kalender alam Tidore, penanda fase bulan, sekaligus pengingat akan hubungan manusia dengan alam.Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya: sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.