Ketika Literasi Hadir di Jalur Mudik

Wait 5 sec.

Buku sering kalah bersaing dengan hiburan digital. Anak-anak lebih mudah menikmati tayangan visual daripada membaca teks panjang. Gambar: ChatGPT Image.Mudik merupakan peristiwa sosial yang sangat khas di Indonesia. Setiap tahun jutaan orang bergerak pulang ke kampung halaman. Berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan masyarakat selama mudik Lebaran 2026 diperkirakan mencapai sekitar 143,9 juta orang, atau sekitar 50 persen lebih dari total penduduk Indonesia (Kompas, 3/3/2026). Jalan tol dipadati kendaraan. Stasiun, terminal, dan bandara dipenuhi penumpang. Perjalanan sering berlangsung berjam-jam, bahkan berhari-hari. Dalam situasi panjang dan melelahkan itu, anak-anak mudah merasa bosan dan gelisah.Banyak orang tua kemudian memilih cara paling praktis untuk menenangkan anak selama perjalanan. Mereka memberikan telepon pintar kepada anak. Gawai memang mampu mengalihkan perhatian dengan cepat. Anak-anak dapat menonton video atau bermain gim tanpa merasa bosan. Cara ini terlihat sederhana dan efektif. Namun kebiasaan tersebut membawa konsekuensi lain. Interaksi anak dengan buku semakin berkurang.Fenomena ini memperlihatkan tantangan besar budaya membaca di Indonesia. Buku sering kalah bersaing dengan hiburan digital. Anak-anak lebih mudah menikmati tayangan visual daripada membaca teks panjang. Padahal membaca memiliki manfaat penting bagi perkembangan kognitif. Buku membantu anak memahami dunia secara lebih mendalam. Kebiasaan membaca juga memperkaya kosakata dan kemampuan berpikir kritis.Di tengah situasi tersebut, pemerintah menghadirkan pendekatan baru untuk memperkuat budaya membaca. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggagas program Mudik Asyik Baca Buku melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Program ini bertujuan mengubah perjalanan mudik menjadi ruang literasi yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Langkah ini relevan dengan temuan Kompas yang menyebut pembiasaan membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar karena akses buku dan kebiasaan membaca masyarakat belum merata di berbagai daerah (Kompas,19/2/2025). Karena itu, literasi perlu hadir tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam ruang kehidupan sehari-hari, termasuk perjalanan mudik.Kegiatan ini berlangsung pada 16 hingga 17 Maret 2026. Lokasinya tersebar di sembilan titik keberangkatan mudik. Beberapa di antaranya adalah Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir. Program juga hadir di sejumlah terminal besar, bandara, serta pelabuhan. Tempat-tempat tersebut dipilih karena menjadi simpul pertemuan pemudik dari berbagai daerah.Acara pembukaan dilaksanakan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meresmikan kegiatan tersebut. Dalam sambutannya ia menegaskan pentingnya memperkuat budaya membaca. Literasi tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ruang publik juga harus menjadi bagian dari ekosistem literasi nasional.Melalui program ini pemerintah menyediakan sekitar 24.000 buku bacaan. Buku-buku tersebut dibagikan di sembilan titik kegiatan. Setiap lokasi menerima sekitar 2.600 buku. Anak-anak dapat membaca langsung di tempat. Mereka juga diperbolehkan membawa pulang buku yang dipilih. Cara ini memberi pengalaman membaca yang lebih personal.Kegiatan literasi yang dihadirkan juga cukup beragam. Anak-anak diajak mengikuti sesi membaca nyaring. Relawan literasi menghadirkan kegiatan mendongeng yang interaktif. Ada pula aktivitas mengulas buku sederhana. Permainan edukatif dan kegiatan mewarnai ikut memeriahkan suasana. Pendekatan ini membuat buku terasa dekat dengan dunia anak.Program ini dipandu oleh Duta Bahasa serta relawan literasi. Mereka membantu anak-anak mengenal buku secara menyenangkan. Membaca tidak diposisikan sebagai kewajiban yang membosankan. Anak-anak justru melihat buku sebagai sumber cerita menarik. Pengalaman positif seperti ini sangat penting dalam membangun kebiasaan membaca.Tantangan Budaya MembacaUpaya tersebut memiliki dasar yang kuat. Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam budaya membaca. Laporan UNESCO berjudul Reading Literacy in Primary Education (2012) menunjukkan tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Laporan ini sering menjadi rujukan dalam diskusi literasi nasional. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa gerakan literasi membutuhkan kerja panjang dan konsisten.Persoalan literasi juga berkaitan dengan akses terhadap buku. Banyak keluarga kesulitan memperoleh buku berkualitas dengan harga terjangkau. Distribusi buku di Indonesia belum merata. Situasi ini membuat bahan bacaan sulit dijangkau sebagian masyarakat. Padahal ketersediaan buku merupakan fondasi penting budaya membaca.Peneliti perbukuan Arys Hilman dalam buku Industri Perbukuan Indonesia (2020) menjelaskan bahwa distribusi buku masih terkonsentrasi di kota besar. Banyak daerah belum memiliki jaringan distribusi buku yang memadai. Akibatnya masyarakat di wilayah tertentu memiliki pilihan bacaan yang terbatas.Kondisi tersebut membuat perpustakaan dan toko buku sulit ditemukan di sejumlah wilayah. Anak-anak tidak memiliki akses rutin terhadap bahan bacaan. Tanpa akses yang memadai, minat membaca sulit berkembang secara konsisten. Literasi akhirnya tumbuh tidak merata di berbagai daerah.Namun menyediakan buku saja tidak cukup. Pembiasaan membaca tetap menjadi faktor paling menentukan. Peneliti literasi Retno Listyarti menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan membaca. Dalam bukunya Gerakan Literasi Sekolah (2017), ia menjelaskan anak cenderung meniru kebiasaan orang tua di rumah.Program Mudik Asyik Baca Buku mengandung pesan simbolis yang kuat. Buku tidak hanya milik sekolah atau perpustakaan. Buku dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan perjalanan mudik dapat menjadi ruang membaca. Dari ruang tunggu stasiun hingga kursi bus, buku tetap bisa dinikmati.Tantangan lain juga datang dari dunia penerbitan. Penerbit perlu menghadirkan buku yang menarik bagi generasi muda. Cerita yang dekat dengan kehidupan anak akan lebih mudah menarik perhatian mereka. Selain itu harga buku juga perlu tetap terjangkau bagi keluarga.Program Mudik Asyik Baca Buku menunjukkan pentingnya kerja sama lintas lembaga. Kegiatan ini melibatkan Perpustakaan Nasional, Ikatan Penerbit Indonesia, serta sejumlah penerbit besar. Dukungan juga datang dari pengelola transportasi publik. Kolaborasi ini memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.Gagasan menghadirkan buku di jalur mudik sebenarnya sangat sederhana. Perjalanan panjang tidak harus selalu diisi layar gawai. Buku dapat menjadi teman perjalanan yang hangat. Anak-anak bisa menemukan cerita baru sepanjang perjalanan. Orang tua pun dapat membaca bersama keluarga.Budaya membaca tumbuh dari kebiasaan kecil. Satu buku yang dibaca dapat memicu rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu membawa seseorang mencari bacaan lain. Kebiasaan itu perlahan membentuk tradisi membaca. Jika perjalanan mudik mampu memantik kebiasaan tersebut, literasi dapat menemukan jalannya di tengah masyarakat.ReferensiUNESCO, Reading Literacy in Primary Education, 2012.Arys Hilman, Industri Perbukuan Indonesia, 2020.Retno Listyarti, Gerakan Literasi Sekolah, 2017.Kompas, “Budaya Membaca Masih Perlu Diperkuat”, 19 Februari 2025.