Batu Singapura yang masih menyisakan teka-teki hingga kini. wikipedia.org, CC BY● Perangkat lunak ‘Read-y Grammarian’ menggunakan algoritma komputasi untuk merekonstruksi teks pada batu Singapura.● Batu Singapura masih menjadi teka-teki besar karena aksaranya unik dan tidak cocok dengan sistem penulisan mana pun.● Keberhasilan rekonstruksi teks secara utuh adalah langkah krusial untuk mengurai struktur dan makna di dalamnya.Beberapa tahun lalu, saya bersama tim peneliti linguistik mulai mengembangkan perangkat komputasi yang kami sebut sebagai Read-y Grammarian. Ambisi kami adalah merekonstruksi teks pada batu Singapura—sebuah artefak dari abad ke-10 hingga ke-14 yang memuat aksara misterius mirip huruf Kawi—yang kondisinya sangat terfragmentasi.Perangkat lunak ini menggunakan algoritma khusus yang menerapkan teknik filologi (studi tentang teks lisan dan tertulis) digital serta epigrafi (studi tentang tulisan pada material keras atau tahan lama) untuk menganalisis prasasti kuno.Selama bertahun-tahun mengembangkan Read-y Grammarian, kami menghadapi berbagai rintangan. Namun, berkat ketekunan tim, sistem ini akhirnya rampung dan kini beroperasi penuh.Meski awalnya dirancang untuk batu Singapura, Read-y Grammarian dapat juga digunakan untuk merekonstruksi teks terfragmentasi apa pun. Kerangka kerjanya yang adaptif memungkinkan alat ini memulihkan berbagai catatan sejarah yang rusak—termasuk manuskrip hingga papirus—hanya dengan sedikit penyesuaian.Fleksibilitas ini menjadikan Read-y Grammarian sebagai senjata baru yang tangguh bagi para peneliti dalam menyusun kembali kepingan sejarah manusia yang hilang. Baca juga: The Singapore Stone’s carvings have been undeciphered for centuries – now we’re trying to crack the puzzle Apa itu batu Singapura?Pertama kali ditemukan oleh bangsa Inggris pada tahun 1819 di mulut sungai Singapura, monolit batu pasir ini kemudian dihancurkan pada tahun 1843 untuk membuka lahan bagi proyek pembangunan. Prasasti berukuran sekitar tiga meter persegi tersebut sebagian besar hancur, dan hanya menyisakan tiga fragmen yang bertahan hingga kini.Setelah para peneliti mengirimkan fragmen-fragmen tersebut ke Museum Royal Asiatic Society di Kalkuta, India, untuk dipelajari, jejaknya menghilang tanpa kabar. Nasib fragmen tersebut tidak terdokumentasi selama berdekade-dekade.Hingga tahun 1918, ketika—sejauh catatan yang ada menunjukkan—lembaga tersebut mengembalikan satu kepingan saja ke museum yang kala itu bernama Museum Raffles Singapura. Fragmen-fragmen dari batu Singapura. https://www.mdpi.com/journal/histories, CC BY Prasasti tersebut awalnya memuat tulisan sepanjang kira-kira 50 baris, tapi teks lengkapnya kini telah hilang. Yang tersisa hanyalah segelintir sketsa kasar yang dibuat sebelum penghancurannya, ditambah dengan salinan dari tiga fragmen yang ditemukan kembali setelah tahun 1843, serta satu-satunya kepingan asli yang masih ada hingga saat ini.Prasasti ini tetap menjadi teka-teki besar. Aksaranya sekilas menyerupai sistem penulisan regional seperti Kawi Jawa. Namun faktanya, tulisan tersebut tidak cocok dengan sistem penulisan apa pun yang pernah ditemukan di Bumi.Karena belum ada satu pun orang yang mampu membaca batu tersebut, maknanya tetap tak terpecahkan hingga kini.Sejarah panjangnya yang penuh gejolak, serta kerumitan dan keunikan aksaranya, membuat berbagai mitos tentang batu ini tumbuh subur selama berabad-abad. Tak heran, artefak tersebut menjadi salah satu tantangan paling menarik bagi para peneliti.Bersama teka-teki legendaris seperti Phaistos Disc dan Linear A dari Yunani kuno, batu Singapura menjadi salah satu kode besar dalam sejarah yang belum terpecahkan.Beberapa pihak menghubungkannya dengan sosok kuat legendaris dari cerita rakyat Melayu, Badang, serta kemegahan Kerajaan Majapahit. Namun, hingga teka-teki ini terpecahkan, seluruh keterkaitan tersebut—termasuk pengaruh dari India kuno maupun Jawa—tetap menjadi spekulasi belaka.Memecahkan kode yang hilangDi antara berbagai metode komputasi lainnya, ‘Read-y Grammarian’ bekerja dengan mendigitalisasi prasasti dan memberikan kode alfanumerik (gabungan huruf dan angka) yang unik pada setiap karakter yang teridentifikasi. Dengan melacak posisi dan baris yang tepat dari setiap simbol, algoritma ini mampu mengidentifikasi celah dalam teks dan merekonstruksi perkiraan tata letak aslinya baris demi baris.Sistem ini kemudian menerapkan analisis frekuensi serta kalkulasi statistik dan matematis—berdasarkan pola linguistik yang ditemukan dalam bahasa manusia Tujuannya untuk memprediksi karakter mana yang mungkin mengisi bagian-bagian yang hilang. Dengan cara ini, ‘Read-y Grammarian’ bekerja layaknya sebuah ‘mesin prediksi’, menganalisis teks selangkah demi selangkah dan mengubah kembali luaran alfanumeriknya menjadi karakter yang nyata.Kita juga dapat menyesuaikan pengaturan spesifik dalam sistem ini. Contohnya, kita bisa memodifikasi sintaksis (aturan tata bahasa dan urutan kata) dari bahasa referensi atau rumpun bahasa tertentu—seperti bahasa Jawa atau Austronesia—maupun menyesuaikan morfologi terkait (struktur internal kata dan bagaimana kata-kata tersebut terbentuk).Algoritma ini kemudian menghasilkan berbagai versi teks yang memungkinkan, lalu tim peneliti kami meninjau versi-versi tersebut untuk menentukan mana yang paling masuk akal secara linguistik.Pendekatan ini memungkinkan kami memetakan fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan makna kata) ke setiap karakter dalam teks. Ini membantu kami mengidentifikasi kemungkinan kata-kata yang terkandung di dalamnya. Proses ini secara signifikan merampingkan perbandingan data, sehingga para peneliti dapat menguji aksara tersebut dengan berbagai kandidat bahasa untuk menemukan kecocokan yang paling mungkin. Contoh restorasi karakter batu Singapura. https://www.mdpi.com/journal/information, CC BY Apa yang sudah diketahui sejauh iniTujuan utama kami adalah memecahkan misteri aksara yang sulit dipahami. Sebab, sebuah teks baru bisa dianggap benar-benar terpecahkan ketika ia dapat dibaca dan dipahami secara utuh.Mengidentifikasi bahasa yang tepat memang membutuhkan waktu. Namun, kami telah mencapai sebuah terobosan penting: setelah berabad-abad, kami berhasil merekonstruksi beberapa versi teks lengkap yang masuk akal. Ini merupakan pencapaian yang signifikan, mengingat monolit itu sendiri hampir sepenuhnya hancur. Merekonstruksi prasasti asli tersebut akan mustahil dilakukan tanpa bantuan algoritma khusus kami.Selain itu, saat ini kami sedang mengembangkan model yang lebih canggih untuk memperluas kemampuan Read-y Grammarian. Pembaruan ini akan memungkinkan kami menghasilkan transkripsi sistematis dengan laju yang jauh lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih besar. Versi terbaru ini juga akan menggabungkan fitur-fitur lanjutan, seperti elemen fonologi sejarah (studi tentang bagaimana sistem bunyi berubah dan berevolusi dari waktu ke waktu), untuk semakin mempertajam hasil rekonstruksi.Masih dalam prosesMemecahkan kode batu Singapura terbukti sangat sulit, terutama karena bagian prasasti yang tersisa sangat sedikit. Fragmen-fragmen yang ada terlalu kecil untuk mendukung analisis frekuensi yang andal—metode untuk menilai seberapa sering simbol tertentu muncul dalam sebuah teks—maupun studi statistik lainnya.Meski demikian, metode pengenalan pola merupakan perangkat inti dalam kriptanalisis (seni memecahkan kode dan sandi), dan metode tersebut membutuhkan jauh lebih banyak data daripada yang saat ini dapat disediakan oleh epigraf yang rusak parah ini.Untuk memecahkan kebuntuan, pertama-tama kita harus berfokus pada rekonstruksi prasasti secara utuh dan konsisten. Dengan memulihkan teks keping demi keping dan baris demi baris, kita dapat melihat hasilnya sebagai satu komposisi yang lengkap.Meskipun ini tidak sama dengan membaca prasasti tersebut secara langsung, membangun kembali konten asli batu tersebut memberi kami landasan untuk menganalisis struktur teksnya.Sebelum kita dapat menafsirkan dan memecahkan sisa-sisa fragmen ini, langkah awal yang krusial ini akan membuka jalan untuk mengurai sistem penulisannya—dan akhirnya mengidentifikasi bahasa tak dikenal yang tersembunyi di dalamnya. Baca juga: Mengapa repatriasi prasasti Sangguran dan Pucangan penting untuk membantu Indonesia menghadapi krisis iklim? Francesco Perono Cacciafoco received funding from Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU): SURF Grant "Unveiling the Secrets of the Singapore Stone: A Digital Philology Investigation" - Grant Number: SURF-2025-0032, School of Humanities and Social Sciences (HSS), Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), Suzhou (Jiangsu), China, 2025.