Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas berjalan usai penuhi panggilan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (30/7/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTODirektur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menilai konflik di Timur Tengah akibat perang AS-Israel terhadap Iran berdampak luas terhadap berbagai sektor, termasuk industri pertambangan. Ia menyebut gejolak geopolitik berpengaruh pada rantai pasok energi hingga kinerja perusahaan secara global.“Ya, kalau namanya situasi Timur Tengah yang tidak damai ini kan selalu, pasti ada dampak ke mana-mana. Ke seluruh dunia dampaknya pasti. Persediaan energi antara lain gitu, kan. Kalau dampak ke perusahaan pasti akan berdampak,” ujarnya di Kawasan Widya Chandra, Sabtu (21/3).Menurut Tony, dampak tersebut tidak bisa dihindari, namun perusahaan akan berupaya melakukan langkah mitigasi agar operasional tetap berjalan optimal. “Tapi tentu kita akan coba memitigasinya. Masing-masing perusahaan juga punya cara-cara sendiri untuk memitigasi,” katanya.Dalam kesempatan itu, Tony juga menyinggung dampak konflik terhadap komoditas tambang lain, termasuk batu bara. Namun ia menegaskan bahwa pernyataannya disampaikan dalam kapasitas berbeda.“Ini ngomong saya bukan sebagai pengusaha batubara. Tapi saya bicara mungkin sebagai Sekjen Indonesian Mining Association,” ujarnya.Sebagai Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association, Tony melihat kenaikan harga komoditas tambang sebagai konsekuensi meningkatnya permintaan global. Kondisi ini dinilai menjadi momentum bagi pelaku usaha tambang, termasuk dalam mendorong ekspor.“Tentu saja ini, kan, harganya meningkat. Harganya meningkat berarti apa? Permintaannya, kan, lebih banyak,” kata dia.Ia menambahkan, pasar komoditas tambang bersifat internasional sehingga lonjakan permintaan tidak merujuk pada negara tertentu, melainkan kondisi global secara keseluruhan. “Kalau demand, kalau kita bicara tambang, kan, ini bukan per negara. Ini, kan, international market,” ujarnya.Di sisi operasional, Freeport menargetkan produksi tahun ini mencapai 1,1 miliar pound tembaga dan 800 ribu ounces emas. Target tersebut akan ditopang oleh pengembangan tambang bawah tanah, khususnya di area Grassroot Block Cave.Tony mengungkapkan, saat ini perusahaan tengah bersiap memulai produksi di production block 2 dan 3. Tahap awal produksi diperkirakan mulai berjalan dalam waktu dekat.“Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat 2-3 minggu ke depan kita udah mulai bisa produksi di situ dan akan mulai ramp up,” katanya.Adapun tantangan utama yang dihadapi perusahaan tahun ini lebih banyak berasal dari aspek teknis serta potensi kenaikan biaya operasional. Sementara dari sisi pendapatan, Tony menegaskan hal tersebut sangat bergantung pada harga komoditas global yang tidak bisa dikendalikan perusahaan.“Kalau harga, kan, bukan kita yang mengendalikan. Jadi kita kendalikan yang kita bisa kendalikan, ada produksi dan lain sebagainya, operasional, itu yang kita punya target. Bukan target keuntungan,” ujarnya.Untuk aktivitas di Grassroot Block Cave, Freeport menargetkan produksi mulai kembali meningkat dalam beberapa minggu ke depan, khususnya di production block 2 dan 3. Sementara untuk production block 1, operasional baru akan dimulai pada tahun depan.