Kepala Pemandu Bakat (Head of Scouting) PSSI Simon Tahamata meninjau sesi latihan Timnas Indonesia jelang melawan Timnas China di Stadion Madya, Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Senin (2/6/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTOKepala Pemandu Bakat PSSI, Simon Tahamata, soroti minimnya kompetisi untuk usia dini di Indonesa. Ia bandingkan hal ini dengan di BelandaSimon Tahamata ditunjuk PSSI menjadi pemandu bakat sejak era kepelatihan Patrick Kluivert pada tahun lalu. Eks pemain Ajax itu banyak ditugaskan dalam mengorbitkan pemain untuk tim nasional kelompok umur.Simon Tahamata menyebut Indonesia sangat minim kompetisi untuk usia dini. Padahal, menurutnya hal ini sangat penting bagi perkembangan sepak bola di Indonesia."Selama saya di sini, saya tidak pernah melihat [kompetisi] untuk anak-anak umur sekitar 9 tahun sampai 10 tahun. Padahal, itu yang penting untuk anak-anak kita. Dasar, adalah yang paling penting untuk [persepak bolaan] bangsa ini," kata Simon Tahamata kepada pewarta di Jakarta, Senin (16/3).Kepala Pemandu Bakat (Head of Scouting) PSSI Simon Tahamata (kanan) berbincang dengan staf pelatih Timnas Indonesia saat sesi latihan jelang melawan Timnas China di Stadion Madya, Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Senin (2/6/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTOSimon Tahamata pun bandingkan kompetisi usia dini yang ada di Belanda. Di sana, kompetisi usia dini punya struktur yang baik. Bahkan, disebutnya anak-anak usia dini di Belandan sudah bermain untuk klub."Dari umur 7 tahun sampai 8 tahun seharusnya anak-anak sudah bermain di klub. Sama seperti di Belanda, bahkan di san anak-anak umur 8 tahun sudah berkompetisi," tambahnya.