Ilustrasi silaturahmi bersama keluarga atau orang tua di hari Lebaran atau Idul Fitri. Foto: Odua Images/ShutterstockKetika gema takbir tahlil dan Tahmid berkumandang di seluruh penjuru negeri menandakan datangnya hari kemenangan bagi umat Islam yakni hari Raya Idul Fitri. Hari kemenangan itu datang sebagai manifestasi perjuangan yang sudah dilakukan oleh Umat Muslim dalam menjalani proses ibadah selama satu bulan penuh. Hari nan suci dan fitri itulah hari Idul Fitri yang kita rayakan setelah belajar di madrasah RamadanTentunya dalam merayakan hari kemenangan itu siapa pun boleh untuk berbahagia dalam suka cita. Dalam tradisi umat Islam di Indonesia merayakan hari kemenangan itu dikenal dengan istilah lebaran. Di seluruh penjuru Nusantara punya istilah yang berbeda dalam merayakan hari kemenangan di Idul Fitri ini.Istilah Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri di Indonesia sangat beragam sesuai dengan budaya lokal, umumnya merujuk pada momen kembali fitrah (suci), silaturahmi, dan makan Bersama Berikut adalah beberapa istilah dan tradisi Lebaran di berbagai daerah di Indonesia: Istilah merupakan suatu proses yang sudah turun menurun di berbagai daerah dalam rangka merayakan hari kemenangan di bulan Syawal ini.Di daerah Jawa & Betawi: Lebaran ini diberikan istilah umum berasal dari kata "lebar" (selesai), menandakan usainya ibadah puasa. Ada juga Bada yang Sering digunakan di Jawa Tengah atau Jawa Timur yang singkatan dari badah (bahasa Arab) yang berarti selesai. Kemudian Sungkem/Sungkeman: Tradisi anak atau yang muda meminta maaf kepada yang lebih tua. Sulawesi istlahnya Kunjung-Kunjung: Tradisi berkunjung ke rumah sanak saudara. Dan Patuddu merupakan Tradisi seni di Sulawesi Barat menyambut hari raya. Kalimantan istilahnya manyanggang/Mengarak Takbir: Tradisi menyambut malam takbiran.Ada yang menarik dan menggelitik mau ke mana kita setelah melakukan Pendidikan madrasah Ramadan selama satu bulan penuh. Andai kata kemarin satu bulan kita sudah melakukan semua perintahNya yang telah diajarkan kepada melalui terdapat di dalam Al-Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW. Atau juga kita berandai jika dalam satu bulan Ramadan kemarin kita masih banyak yang lalai dalam melakukan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.Proses ketika bulan baru itu telah Nampak dan gema takbir membahana membelah langit. Suaranya masuk ke relung hati yang paling dalam, membawa pesan bahwa tidak ada yang besar kecuali Allah. Takbir berkumandang sejak beduk maghrib hingga kita berkumpul menunaikan salat idul fitri dengan pakaian terbaik, dengan wajah yang berseri, merayakan apa yang kita sebut sebagai "Hari Kemenangan".Namun, di tengah keriuhan ini, mari kita sejenak menundukkan kepala. Mari kita bertanya pada diri sendiri dengan nada jujur: Kemenangan apa yang sedang kita rayakan pada hari ini nan fitri? Satu bulan yang lalu ketika seorang tamu agung datang mengetuk pintu rumah kita masing-masing. Ia membawa koper penuh ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka. Ia adalah Ramadan tamu yang istimewa buat kita umat Islam yang beriman kepada Allah dan Rosulnya Muhammad SAW.Banyak dari kita pada saat itu berjanji sungguh dalam hati, Ramadan tahun 2026 ini akan berbeda. Aku akan lebih khusyuk, aku akan khatam Al-Quran, aku akan hiasi malam-malamku dengan sujud dan tilawahku. Namun, waktu berjalan begitu cepat, kini, tamu spesial itu telah pergi meninggalkan kita. Ia melangkah menjauh dan kita tidak punya kekuatan untuk memanggilnya kembali. Pintu surga yang kemarin dibuka lebar, kini telah kembali pada ketetapan-Nya. Dia pergi sesuai dengan ketatapan Allah SWT pemilik Alam semesta raya segala isiNya.Proses perenungan pada saat ini untuk kita lihat ke belakang dengan yang sudah kita lakukan Dengan apa yang terjadi dengan janji-janji kita? Seringkali, Tarawih kita tinggalkan hanya karena merasa sedikit lelah setelah bekerja dan berusaha. Al-Quran yang seharusnya menjadi penghibur hati, justru jarang kita sentuh hingga ia berdebu di sudut lemari kaca. Bahkan, salat lima waktu yang merupakan tiang agama, terkadang masih kita lalaikan demi urusan dunia yang tidak ada habisnya, atau bahkan puasa kita tinggalkan hanya karena sibuk bergulat dengan keduniawian. Kita lalai dengan urusan negeri akhirat karena kita lebih memilih urusan dunia yang lebih mewah dan menjanjikan.Lalu hari ini ketika sambil kita sujud duduk bahkan berdiri pada saat salat Idul Fitri di masjid atau di tanah lapang ini dalam merayakan kemenangan. Benarkah kita menang secara fitrah, apabila jika kita sendiri saja masih ragu apakah kita sudah sungguh-sungguh telah berjuang selama ini untuk mendapatkan apa yang diinginkan? Setelah kita belajar memperbaiki diri selama untuk mengejar mimpi dan cita-citaBahkan kita tidak tahu, apakah sujud kita yang hanya sebentar itu diterima. Hal itu kita tidak tahu, apakah puasa kita yang masih diwarnai lisan yang kurang terjaga itu sampai kepada-Nya. Dan yang paling menggetarkan hati: Kita tidak tahu apakah kita masih punya kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan tahun depan. Mungkin saja, ini adalah Idul Fitri terakhir bagi kita. Mungkin saja, tahun depan nama kita sudah tertulis di batu nisan. Kadang kita tidak menyadarinya bahkan kita terlambat untuk menyadarinya.Karena Allah mengatakan dalam hadist QudsiNya bahwa puasa itu untuk ku dan Akulah yang akan memberikan penilaiaNya secara langsung.Dalam sebuah nasihat seorang ulama Kiai Sejuta umat bernama KH Zainuddin MZ dalam ceramahnya beliau mengatakan bahwa kita semua berhak merayakan hari lebaran dan hari kemenangan. Siapa saja boleh merayakan tak ada yang melarang orang untuk berlebaran. Akan tetapi ada perbedaan bagi yang berlebaran dan merayakan kemenangan di hari Idul Fitri. Berbedanya adalah bagi yang merayakan kemenangan bagi mereka telah berhasil menunaikan satu bulan penuh melakukan ibadah Ramadan baik itu Qiyam Ramadan maupun shaum Ramadan serta amalan lainnyaSelagi napas masih ada, dan selagi matahari hari ini masih menyinari bumi, Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk pulang. Bukan sekadar pulang ke kampung halaman, tapi pulang ke pelukan kasih sayang. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan Pertama, mari saat ini lihatlah orang tua kita. Jika mereka masih ada, pandanglah wajahnya. Garis-garis keriput itu adalah saksi bisu betapa kerasnya mereka berjuang untuk kita. Tangan yang kini mulai gemetar itu adalah tangan yang dulu menggendong kita. Memberi makan kita, memeluk kita Ketika rasa takut cemas bahkan Ketika kita sakit.Datanglah pada mereka. Cium tangannya, peluk tubuhnya, dan mintalah maaf dengan setulus hati. Jangan biarkan gengsi menghalangi kita, karena kelak, ketika mereka sudah tidak ada, kita akan merindukan suara mereka yang memanggil nama kita, namun hanya sunyi yang akan menjawab. Doa orang tua yang hari ini kita bisa merasakan keberhasilan. Atau doa orang tua yang akan menghantarkan kita ke arah cita-cita yang diharapkan Bagi kita yang orang tuanya sudah mendahului kembali ke haribaan Allah, jangan putus silaturahmi itu. Kirimkan doa terbaik di setiap sujud kita. Hanya doa anak yang saleh yang menjadi cahaya bagi mereka di alam kubur. Katakan pada Allah, "Ya Allah, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.Kedua Setiap hari yang dilalui oleh seorang mukmin tanpa dituliskan satu dosa pun baginya, maka hari itu adalah hari raya. Mari untuk dibayangkan Ketika sebuah hari di mana mulut dan lisan kita terjaga dari menyakiti orang lain, mata kita tunduk dari hal yang terlarang, dan hati kita bersih dari benci. Itulah hari raya yang paling dekat. Saat bantal tempat kita merebahkan kepala di malam hari tidak basah oleh air mata penyesalan, melainkan tenang karena penjagaan Allah atas diri kita. Kebahagiaan sejati adalah saat kita mampu menaklukkan ego demi cinta kepada-Nya.Kadang ego kita yang tak mampu menalukkan cinta Tuhan kepada Kita. Ego yang menjadikan kita keras kepala merasa paling unggul di dunia. Konflik yang terjadi karena rasa ego dalam diri kita. Maka di hari kemenangan menundukkan rasa ego untuk mendapatkan dan meraih rasa kasih sayang Allah harus betul dijagaKetiga Hari di mana ia keluar meninggalkan dunia dengan membawa iman dan persaksian (syahadat)...".Sebab Kematian bukanlah akhir bagi seorang mukmin, melainkan pintu pertemuan yang telah lama dinanti. Hari raya ini adalah saat roh kita dilepaskan dari penatnya dunia dengan lisan yang basah menyebut nama-Nya. Di saat setan mencoba mencuri iman kita di detik terakhir, Allah memeluk kita dengan keteguhan. Itulah hari kemenangan, saat sang pengembara akhirnya sampai ke ambang pintu rumah kekasihnya. Begitulah indahnya hidup kita apabila kita bertemu dengan Tuhan pada saat di hari yang Bahagia Ketika kita merasakan kehadiran Tuhan di setiap jengkal hidup kita.Keempat: Hari di mana ia berhasil melintasi jembatan Shirath dan merasa aman dari kengerian hari kiamat..." Betapa bergetarnya hati membayangkan titian yang halus dan tajam itu. Namun, di hari raya ketiga ini, ketakutan itu sirna. Allah mengganti rasa cemas kita di dunia dengan rasa aman yang luar biasa. Saat orang lain jatuh dalam keputusasaan, kita melesat bagai kilat menuju keselamatan, terbebas dari tuntutan makhluk dan pedihnya siksa. Itulah hari di mana janji Allah benar-benar terbukti nyata. Hanya umatnya yang yakin akan kebenaran serta istiqomah maka janji Allah itu pasti benarKelima: Hari di mana ia memasuki surga dan merasa aman dari siksa neraka..." Ingatlah kembali lelahnya kita dalam sujud yang panjang di atas sajadah suci dan sabarnya kita dalam ujian yang perih dan penuh penderitaan. Hari raya merupakan kaki kita pertama kali menyentuh tanah surga. Segala penat duniawi menguap seketika. "Selamat datang di rumah," seolah alam semesta menyapa. Tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi rasa sakit, dan tidak ada lagi rasa takut akan kehilangan. Begitulah jika rasa cinta menggelayut dalam hati umat yang telah merasakan cinta kepada allah swt.Kemenangan yang sejati bukanlah saat kita berhasil membeli baju baru atau menyajikan makanan mewah. Kemenangan sejati adalah ketika kita keluar dari bulan Ramadan dengan hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, dan jiwa yang lebih dekat dengan Allah.Keenam Hari di mana ia dapat memandang Tuhannya..." Inilah hari raya di atas segala hari raya. Semua keindahan surga seolah meredup saat hijab tersingkap. Kita memandang-Nya, Sang Pencipta yang selama ini kita sembah dalam ghaib, yang kita sebut nama-Nya dalam isak tangis di sepertiga malam. Tatapan itu adalah penawar segala duka selama hidup di dunia. Di saat itulah, kita menyadari bahwa seluruh perjalanan panjang kita hanya untuk satu tujuan: pulang dan menatap wajah-Nya. Penutup Semoga hari-hari kita tidak berlalu begitu saja sebagai angka, melainkan sebagai langkah nyata menuju salah satu dari hari raya indah ini. Mari kita jadikan hari kemenangan ini sebagai titik balik. Jika kemarin kita lalai, mari kita perbaiki mulai hari ini. Jika kemarin kita jauh, mari kita mendekat. Jangan biarkan penyesalan datang saat waktu kita sudah habis. Allah SWT sang penguasa jagad raya dan seisinya begitu sayang kepada diri kita walaupun kita sering meninggalkan Dia akan tetapi dia tak pernah bosan untuk menasihati kita melalui alamNyaSemoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni segala khilaf kita, dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang dalam keadaan dunia seringkali menipu kita dengan perayaan yang semu. Kita sering menyangka bahwa hari raya hanyalah tentang baju baru atau jamuan yang mewah. Namun bagi jiwa yang merindu Tuhan, hari raya adalah setiap detik di mana roh kita merasa aman dalam pelukan rida-Nya.Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal 'aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin