5 Tradisi Unik Lebaran di Indonesia, Perang Topat hingga Binarundak

Wait 5 sec.

Ekspresi peserta setelah mengikuti Perang Topat. Foto: dok. KemenparekrafSebagian besar masyarakat Indonesia menyambut Lebaran dengan tradisi yang serupa, mulai dari mudik, silaturahmi, berziarah, serta tak lupa menyajikan ketupat dan opor ayam sebagai menu spesial.Tapi enggak hanya itu, keberagaman adat istiadat dan budaya di Indonesia juga melahirkan tradisi unik dari berbagai daerah saat menyambut Lebaran.Tradisi ini tak hanya melambangkan rasa syukur dan kerukunan umat beragama tetapi juga menjadi ciri atau keunikan tiap daerah di Indonesia. Mulai dari Grebeg Syawal hingga Tumbilotohe berikut lima tradisi unik Lebaran di Indonesia. 1. Grebeg Syawal, YogyakartaWarga berebut gunungan usai didoakan di Masjid Agung pada perayaan Tradisi Grebeg Syawal di Keraton Kasunanan, Solo, Jawa Tengah, Selasa (1/4/2025). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTOTradisi yang dilakukan setiap tanggal 1 Syawal ini dilangsungkan dengan cara mengarak berbagai gunungan dari hasil bumi, seperti sayuran dan buah-buahan.Gunungan hasil bumi tersebut terbagi menjadi dua yaitu Gunungan Kakung dan Gunungan Putri. Gunungan ini menjadi simbol sedekah sultan kepada rakyatnya.Gunungan berbentuk kerucut tersebut kemudian diarak oleh pengawal keraton, dan akan dibagikan pada warga setelah didoakan. Cara pembagiannya juga unik, bukan dibagi-bagikan secara harafiah, tetapi diperebutkan oleh warga. Konon, yang bisa mendapatkan bagian dari gunungan ini akan mendapat kesejahteraan dan berkat.Ada tujuh gunungan sebagai daya tarik utama: tiga gunungan lanang (kakung), serta masing-masing satu gunungan wadon (estri), gepak, dan pawuhan. 2. Festival Meriam Karbit, PontianakIlustrasi Meriam Karbit di Pontianak. Foto: Borneogravpic/ShutterstockMalam takbiran di tepian Sungai Kapuas dijamin meriah dengan ratusan meriam raksasa yang menyambut datangnya Idul Fitri.Dalam festival ini, kamu akan mendengar suara dentuman keras bersahut-sahutan yang berasal dari meriam yang diletakkan berderet di tepi Sungai Kapuas. Meriam sepanjang 60 sentimeter tersebut dibuat dari kayu dan bambu. Awalnya suara keras dari meriam ini digunakan untuk mengusir makhlus astral seperti kuntilanak. Namun, saat ini, meriam menjadi salah satu atraksi yang ditunggu-tunggu oleh penduduk di bulan Ramadhan.3. Binarundak, Sulawesi UtaraNasi jaha, salah satu menu kesukaan masyarakat umat muslim di Kota Ternate saat Ramadan, Ternate. Foto: Abdul Fatah/ANTARAKalau Lebaran identik dengan ketupat, di Sulawesi Utara ternyata punya cara berbeda. Di daerah Motoboi Besar, perayaan Lebaran dilakukan dengan memakan nasi jaha lewat tradisi Binarundak. Tradisi ini dipercaya dapat mempererat tali silaturahmi.Dilakukan tiga hari setelah hari raya Idul Fitri, nasi jaha dimasak di dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Dibakar beramai-ramai di lapangan dengan menggunakan sabut kelapa. Setelah nasi tersebut matang, maka warga sekitar akan memakannya secara bersama-sama sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Maha Pencipta.4. Perang Topat, Nusa Tenggara BaratPeserta Perang Topat antusias mengikuti acara. Foto: dok. KemenparekrafDisebut juga "Perang Ketupat", tradisi asal Lombok ini dilakukan dengan saling melempar ketupat. Lewat tradisi ini, masyarakat Hindu dan Islam menunjukkan sikap toleransi dan kebersamaan.Meski disebut Perang Topat alias perang ketupat, sama sekali tidak tersirat rasa benci di dalamnya. Malahan, tradisi ini justru melambangkan rasa syukur serta kerukunan umat beragama di Lombok. Tradisi ini dilakukan dengan mengarak berbagai hasil bumi, kemudian dilanjutkan dengan selebrasi saling melempar ketupat antara suku Sasak dan Bali. Yang menarik, acara ini dilakukan di sebuah pura, yaitu Pura Lingsar di Lombok Barat.5. Tumbilotohe, GorontaloTradisi Tumbilotohe Foto: Antara/Adiwinata SolihinTradisi Tumbilotohe dalam bahasa Indonesia disebut sebagai malam pasang lampu. Berasal dari bahasa Gorontalo, 'Tumbilo' yang berarti memasang dan 'Tohe' yang berarti lampu.Lampu-lampu yang digunakan adalah lampu tradisional dengan minyak tanah yang disebut sebagai Tohetutu. Dalam perayaan ini, penduduk setempat akan memasang lampu di halaman rumah, dan jalan menuju masjid sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadhan di Kota Gorontalo.Festival yang dilakukan pada tiga malam terakhir jelang hari raya Idul Fitri ini dahulu dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat melakukan zakat di malam hari. Kini, tradisi ini menjadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu. Tak hanya lampu dan lentera yang menghiasi kota, festival Tumbilotohe juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti meriam bambu dan festival bedug.