Pemimpin Dirancang dari Perpustakaan Sekolah Rakyat

Wait 5 sec.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminuddin Azis mengharapkan dari Siswa Sekolah Rakyat ini akan lahir pemimpin Indonesia di masa depan. Foto: Humas PerpusnasPemimpin tidak selalu lahir dari bakat alamiah. Ia dibentuk melalui lingkungan belajar yang secara sadar dirancang. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada pembukaan Pelatihan Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat di Bandung Barat (3 Maret 2026).Kebetulan, saya hadir langsung bersama Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat dan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial yang mewakili Menteri Sosial.Membentuk PemimpinDalam dunia kepemimpinan, Vince Lombardi mengatakan, "Leaders are not born, they are made," sementara dalam tradisi literasi sering dikutip kalimat, "A library is where the future is born." Jika kedua gagasan ini dipertemukan, perpustakaan sekolah bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku. Ia menjadi ruang awal tempat masa depan kepemimpinan bangsa mulai dibentuk.Kalimat tersebut awalnya terdengar seperti pernyataan motivatif. Namun, maknanya terasa jauh lebih nyata ketika saya menyempatkan diri melihat langsung bagaimana perpustakaan Sekolah Rakyat di Bandung Barat mulai dimanfaatkan oleh para siswa.Dalam satu bulan, tercatat sekitar 125 transaksi peminjaman buku. Angka ini mungkin belum besar jika dibandingkan dengan sekolah yang sudah mapan. Namun, bagi sebuah ekosistem literasi yang baru tumbuh, ia menunjukkan satu hal penting: buku mulai dibaca dan perpustakaan mulai hidup.Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Jumat (7/2/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTOYang menarik, perpustakaan di sekolah tersebut tidak dibiarkan menjadi ruang yang pasif. Saya menemukan sendiri pustakawan menyiapkan buku dalam beberapa kardus yang setiap pagi dibawa oleh siswa ke kelas. Sebelum pelajaran dimulai, mereka membaca buku-buku tersebut secara bersama. Dengan cara ini, buku tidak hanya berada di rak perpustakaan, tetapi juga hadir langsung dalam ritme belajar sehari-hari.Dalam literatur pendidikan, praktik semacam ini sebenarnya memiliki dasar teoritis yang kuat. John Dewey—salah satu pemikir pendidikan progresif—menekankan bahwa proses belajar yang bermakna lahir dari pengalaman yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Belajar bukan sekadar aktivitas menerima informasi di ruang kelas, melainkan juga proses interaksi aktif antara peserta didik dan lingkungannya.Dalam kerangka ini, perpustakaan yang hadir dalam kegiatan belajar—bukan hanya sebagai ruang terpisah—menjadi bagian dari pengalaman belajar itu sendiri. Membaca bersama sebelum pelajaran dimulai bukan sekadar rutinitas tambahan, melainkan juga mekanisme yang menanamkan kebiasaan intelektual secara perlahan dalam kehidupan sekolah.Setelah membaca, siswa diminta menuliskan jurnal sederhana tentang buku yang mereka baca. Mereka merangkum, memberi komentar singkat, lalu guru memberikan penilaian. Kebiasaan ini tampak sederhana, tetapi memiliki arti penting. Membaca tidak berhenti pada aktivitas membuka halaman buku, tetapi berkembang menjadi kemampuan memahami gagasan dan mengekspresikannya kembali.Akses terhadap pengetahuan juga diperluas melalui teknologi. Anjungan Baca Digital yang telah disediakan oleh Perpustakaan Nasional, telah terhubung dengan jaringan LAN sekolah, dan dapat diakses langsung dari komputer notebook yang dibagikan kepada siswa oleh Kementerian Sosial. Perpustakaan, dengan demikian, tidak lagi hanya terbatas pada koleksi fisik, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju sumber pengetahuan digital yang lebih luas.Penguatan Literasi Sekolah RakyatAktivitas keseharian siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung di sekolah dan asrama. Foto: Dok. Humas SRMP 9 BandungPengalaman tersebut memperlihatkan bahwa literasi tidak tumbuh hanya dari ketersediaan buku. Ia membutuhkan ekosistem yang membuat kegiatan membaca menjadi bagian dari kehidupan belajar sehari-hari.Karena itu, Perpustakaan Nasional mengusulkan penguatan literasi di Sekolah Rakyat: penguatan itu perlu dilakukan melalui tiga klaster kegiatan yang saling berkelanjutan, yaitu pembiasaan membaca, pendalaman pemahaman melalui diskusi, menceritakan dan menulis kembali, serta memproduksi gagasan melalui tulisan, audio, atau video sebagai refleksi sederhana siswa.Rangkaian kegiatan tersebut tidak berjalan sendiri. Ia didukung oleh empat aktor yang bekerja dalam satu ekosistem. Pemangku kebijakan—yaitu Perpustakaan Nasional dan Kementerian Sosial—akan memberikan arah dan legitimasi melalui kebijakan literasi Sekolah Rakyat.Pengelola sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, dan pustakawan. Mereka berperan menjalankan tata kelola literasi dalam praktik sehari-hari. Para siswa melalui Klub Sahabat Literasi menjadi penggerak kegiatan dari dalam sekolah, sementara komunitas literasi di masyarakat memberikan dukungan dan memperluas jejaring kegiatan literasi.Lingkungan Sosial LiterasiDalam kajian literasi kontemporer, pendekatan ekosistem seperti ini sejalan dengan pemikiran Brian Street dalam kerangka New Literacy Studies. Street menunjukkan bahwa literasi tidak dapat dipahami semata-mata sebagai keterampilan teknis membaca dan menulis.Penyampaian gagasan mengintegrasikan empat aktor penggerak literasi di sekolah rakyat kepada Kepala Perpustakaan Nasional dan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial (Gambar koleksi pribadi) Melalui apa yang ia sebut sebagai ideological model of literacy, literasi dapat dipahami sebagai praktik sosial yang selalu terbentuk dalam konteks budaya, relasi kekuasaan, dan institusi tertentu.Dengan demikian, kemampuan literasi seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individual, tetapi juga oleh lingkungan sosial yang membentuk praktik membaca, berdiskusi, dan menulis dalam kehidupan sehari-hari.Ketika keempat aktor di atas menjadi bagian dari kehidupan sekolah, perpustakaan bukan lagi menjadi ruang pasif. Ia berubah menjadi pusat aktivitas intelektual yang hidup di lingkungan sekolah.Pengakuan dan Apresiasi atas Karya Literasi SiswaProses literasi juga tidak berhenti pada kegiatan membaca, memahami, dan menulis. Ketika siswa mulai menghasilkan karya—baik berupa ulasan buku, jurnal bacaan, maupun tulisan sederhana—muncul kebutuhan berikutnya: memberikan ruang apresiasi atas usaha intelektual mereka.Tanpa pengakuan sosial, karya-karya tersebut berisiko berhenti sebagai tugas sekolah, bukan sebagai pengalaman belajar yang membangun kepercayaan diri.Ilustrasi sekolah. Foto: ShutterstockKarena itu, langkah berikutnya yang penting adalah menghadirkan ruang rekognisi bagi karya literasi siswa. Salah satu gagasan yang sedang dipertimbangkan adalah penyelenggaraan Festival Literasi Sekolah Rakyat.Ajang ini dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan karya mereka, berbagi pengalaman membaca, dan bertemu dengan penggerak literasi dari sekolah lain. Lebih dari sekadar kompetisi, festival ini merupakan bentuk pengakuan bahwa kegiatan membaca, menulis, dan berpikir adalah bagian penting dari kehidupan akademik mereka.Bagi banyak siswa Sekolah Rakyat yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan sosial dan ekonomi, pengalaman sederhana seperti ini memiliki arti yang tidak kecil. Ketika gagasan mereka dibaca, didengar, dan dihargai, tumbuh keyakinan bahwa suara mereka memiliki nilai. Dari pengalaman kecil seperti inilah sering kali lahir keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih luas.Pada akhirnya, desain ekosistem literasi di Sekolah Rakyat—mulai dari pembiasaan membaca, pendalaman pemahaman, produksi gagasan, hingga apresiasi melalui ruang publik seperti festival literasi—bukan sekadar rangkaian program pendidikan, melainkan juga proses panjang yang membentuk cara berpikir generasi muda.Perpustakaan sekolah mungkin tampak sederhana. Namun, di ruang itulah anak-anak belajar membaca dunia, memahami gagasan, dan menuliskan pikirannya sendiri. Dan jika proses itu terus dijaga, bukan tidak mungkin pemimpin masa depan bangsa sedang tumbuh—diam-diam—di antara rak-rak buku perpustakaan Sekolah Rakyat.