Pawai Ogoh-ogoh dan Kerinduan Perantau Bali di Jakarta Jelang Nyepi

Wait 5 sec.

Wayan dan keluarga dari Bekasi ikut merasakan kemeriahan Festival Pawai Ogoh-ogoh 2026 di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (8/3). Foto: Nauval Pratama/kumparanHujan yang mengguyur kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu pagi (8/3), tak menyurutkan semangat Wayan Fajar dan keluarganya.Bersama rombongan komunitas Hindu dari Bekasi, ia sudah berada di lokasi sejak pukul 07.00 WIB untuk mengikuti pawai ogoh-ogoh yang untuk pertama kalinya digelar di Jakarta.Wayan datang tidak sendirian, ia membawa orang tua, istri, dan anaknya untuk ikut merasakan kemeriahan arak-arakan ogoh-ogoh yang melintas dari kawasan Monas menuju Bundaran HI.“Kita di sini dari jam 7 tadi. Kita standby, ikut dari Monas sampai Bundaran HI ikut pawai ogoh-ogohnya,” kata Wayan kepada kumparan, Minggu (8/3).Bagi Wayan, pawai ogoh-ogoh di Jakarta menjadi momen yang istimewa. Ia mengaku mengetahui acara tersebut dari komunitas di pura serta dari media sosial.“Walaupun hujan tetap antusias, karena memang sudah ramai dari informasi di perkumpulan di Pura Bekasi dan juga media sosial,” ujarnya.Simbol Kebersamaan di Tengah KeberagamanGelaran Festival Pawai Ogoh-ogoh 2026 di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (8/3). Foto: Nauval Pratama/kumparanBagi Wayan yang merupakan perantau asal Tabanan, Bali, kehadiran pawai ogoh-ogoh di Jakarta menjadi pengalaman yang membanggakan. Ia sendiri sudah lama menetap di Bekasi sejak awal tahun 2000-an.“Orang tua saya asli Bali, dari Tabanan. Saya sempat tinggal di Bali juga, tapi sekarang merantau dan menetap di Bekasi,” katanya.Ia menilai pawai ogoh-ogoh di ruang publik seperti kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta menjadi simbol kebersamaan masyarakat Indonesia yang beragam.Terlebih, tahun ini Hari Raya Nyepi berdekatan dengan perayaan Idul Fitri.“Ini bagus ya. Di sinilah simbol NKRI. Kita kan terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Semua bisa berkumpul bersama,” kata Wayan.Baginya, kehadiran tradisi Bali di tengah hiruk-pikuk Ibu Kota menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya merupakan kekuatan Indonesia.“Di sini kita bisa lihat bagaimana keberagaman itu bisa menjadi satu,” ujarnya.Tradisi dari Bali Hadir di JakartaGelaran Festival Pawai Ogoh-ogoh 2026 di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (8/3). Foto: Nauval Pratama/kumparanPawai ogoh-ogoh identik dengan tradisi masyarakat Hindu di Bali menjelang Hari Raya Nyepi.Patung raksasa dengan berbagai bentuk tersebut biasanya diarak keliling sebelum akhirnya dilebur sebagai simbol mengusir roh jahat.Wayan menjelaskan, ogoh-ogoh merupakan simbol dari berbagai wujud energi negatif yang dipercaya harus disingkirkan sebelum memasuki Hari Nyepi.“Ogoh-ogoh itu simbol roh jahat atau arwah jahat. Biasanya digambarkan dalam berbagai bentuk, seperti raksasa, celuluk, atau leak,” katanya.Menurutnya, prosesi arak-arakan ogoh-ogoh memiliki makna filosofis untuk membersihkan diri dan lingkungan dari hal-hal buruk sebelum memasuki hari suci.“Jadi sebelum Nyepi itu kita usir semua yang sifatnya jahat. Diarak supaya terlihat, lalu nanti dilebur. Filosofinya semua yang buruk harus selesai sebelum hari Nyepi,” jelasnya.Nyepi Jadi Momen RefleksiGelaran Festival Pawai Ogoh-ogoh 2026 di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (8/3). Foto: Nauval Pratama/kumparanHari Raya Nyepi sendiri dikenal sebagai hari sunyi bagi umat Hindu. Pada hari tersebut, umat menjalankan Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang.Wayan menyebut Nyepi menjadi momen refleksi setelah setahun penuh beraktivitas.“Dari 365 hari, kita korbankan satu hari untuk benar-benar hening. Istilahnya seperti mengatur ulang semuanya dari awal,” ujarnya.Karena itu, menurutnya, tradisi ogoh-ogoh menjadi bagian penting sebagai penanda berakhirnya segala hal buruk sebelum memasuki hari sunyi tersebut.