Ilustrasi kanker payudara. Foto: MargJohnsonVA/ShutterstockKemutakhiran Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia medis. Salah satu pemanfaatannya dalam dunia kedokteran adalah untuk membantu deteksi kanker secara lebih cepat dan akurat.Di Indonesia, inovasi ini dihadirkan oleh Siloam melalui kolaborasi bersama AstraZeneca dengan meluncurkan solusi berbasis AI melalui perangkat lunak Qure.ai. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen kedua pihak untuk menekan angka kanker, khususnya kanker payudara dan kanker paru, di Indonesia.Sebab, menurut data Global Cancer Observatory (Globocan), kanker payudara menyebabkan lebih dari 22 ribu kematian di Indonesia pada 2020. Dalam data yang sama, kanker paru tercatat di urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.Melihat tingginya angka tersebut, Siloam dan AstraZeneca berupaya meningkatkan deteksi dini melalui pemanfaatan teknologi AI dalam proses diagnosis.“Deteksi kanker pada tahap lebih awal tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga mengurangi kompleksitas pengobatan, meringankan beban sistem kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka,” ujar Esra Erkomay, Country President AstraZeneca Indonesia, dalam konferensi pers pada Rabu (25/2) di Hotel Raffles Jakarta.Pemanfaatan AI untuk Deteksi Kanker Payudara, Capai Akurasi 92 PersenIlustrasi kanker payudara. Foto: Jirawatfoto/ShutterstockKehadiran teknologi AI membantu proses klasifikasi HER2, yang merupakan salah satu faktor penentu kanker payudara. Klasifikasi tersebut meliputi HER2 negatif, HER2 low, ultra-low, hingga HER2 positif.“Proses identifikasi jenis HER2 ini dapat mendukung pengambilan keputusan terapi yang lebih tepat dan tepat waktu,” jelas Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik.Menurut data American Society of Clinical Oncology (ASCO) pada 2025, akurasi AI dalam mendeteksi kanker payudara mencapai sekitar 92 persen. Dokter Patologi Anatomi, Dr. dr. Patricia Diana Prasetyo, MSi.Med., Sp.PA., menambahkan bahwa AI membantu membuat keputusan dan memperkuat ketepatan klasifikasi jenis HER2.Pemanfaatan AI untuk Deteksi Kanker Paru, Tandai Nodul yang Perlu DipelajariIlustrasi dokter memeriksa gambar rontgen thorax paru-paru pasien. Foto: ShutterstockAI juga dikembangkan untuk membantu deteksi kanker paru. Umumnya, kanker paru ditandai dengan munculnya nodul atau benjolan yang tumbuh secara tidak terkendali di jaringan paru.Dalam proses diagnosis, dokter biasanya menganalisis hasil CT scan untuk menemukan nodul atau kelainan tersebut. Namun, identifikasi nodul tidak selalu mudah karena bisa tertutup struktur lain seperti tulang rusuk atau memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga sulit terlihat secara kasat mata.Dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad., dokter spesialis radiologi, menjelaskan kalau AI berperan sebagai second reader yang membantu menandai area paru yang mencurigakan, seperti adanya nodul atau kelainan tertentu, sehingga dokter dapat mempelajarinya lebih lanjut.“AI ini membantu mengidentifikasi pemeriksaan yang kemungkinan normal atau tidak, jadi radiologi dapat mempercepat waktu dan dapat lebih fokus pada kasus-kasus yang abnormal,” jelasnya.Kehadiran AI Tidak Dapat Gantikan DokterPara dokter yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran dokter. Namun, kehadirannya diperlukan untuk membantu mempercepat kinerja tenaga medis, terutama dalam deteksi kanker agar penanganannya dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.“AI tidak menghentikan posisi dokter radiologi karena keputusan akhir tetap diputuskan oleh dokter. Jadi ini adalah sebagai alat bantu untuk menandai area-area yang kita curigai,” jelas dr. Dewi.Senada dengan itu, dr. Patricia menjelaskan kalau sebagai dokter, mereka tidak dapat menaruh kepercayaan penuh terhadap AI. Keputusan akhir tetap berada di tangan dokter melalui proses analisis.“Kita tidak serta-merta mempercayai 100% hasil AI itu. Jadi kita tetap melakukan evaluasi lagi, ditelaah lagi, baru setelah itu Dokter Patologi akan merilis hasilnya,” ujarnya.Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, berharap kolaborasi ini dapat membantu proses skrining dan analisis kanker secara lebih cepat dan tepat.“Teknologi ini tidak bertujuan menggantikan peran dokter atau tenaga medis, melainkan menjadi pendamping yang memperkaya pengambilan keputusan klinis. Kami berkomitmen mengembangkan model layanan yang dapat direplikasi secara nasional, agar masyarakat di seluruh Indonesia dapat mengakses perawatan kanker berstandar internasional tanpa harus ke luar negeri," ungkapnya.Baca juga: 6 Faktor Penyebab Kanker Payudara yang Perlu Ladies Tahu