Imbas Konflik di Timur Tengah, Ekspor Mobil Toyota Terhambat

Wait 5 sec.

Aktivitas ekspor kendaraan buatan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN/Toyota Indonesia). Foto: TMMINAktivitas ekspor mobil Toyota dari Indonesia ke kawasan Timur Tengah mulai terdampak meningkatnya konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut membuat jalur logistik laut terganggu sehingga pengiriman kendaraan menjadi tidak lancar.Presiden Direktur Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengatakan pihaknya tetap menjaga komitmen pengiriman kendaraan kepada para importir di kawasan tersebut. Namun, situasi geopolitik membuat proses pengapalan harus menyesuaikan kondisi di lapangan.“Sampai saat ini, komitmen kami dengan importir tidak ada perubahan, hanya masalahnya adalah logistik terganggu sehingga saat ini kita tetap produksi normal sesuai dengan order, tapi shipping atau pengapalan melihat situasi,” buka Nandi saat ditemui di acara Toyota di Jakarta, Jumat (6/3/2026).Aktivitas ekspor kendaraan buatan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN/Toyota Indonesia). Foto: TMMINToyota Indonesia selama ini mengekspor sejumlah model kendaraan ke berbagai negara di Timur Tengah. Beberapa pasar tujuan tersebut di antaranya Irak, Lebanon, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, serta Kuwait yang lokasinya relatif dekat dengan wilayah konflik.Seiring terganggunya jalur pelayaran menuju kawasan tersebut, TMMIN kini mempelajari berbagai alternatif rute pengiriman kendaraan utuh atau completely built up (CBU).“Karena kapal sekarang tidak ada yang jalan ke sana. Jadi, kami saat ini sedang studi rute-rute baru. Tetapi kalau spare part sekarang kami kirim lewat udara,” jelasnya.Aktivitas ekspor mobil Toyota Indonesia melalui Pelabuhan Patimban. Foto: Dok. TMMIN Meski demikian, pengiriman komponen kendaraan masih dapat berjalan normal karena memanfaatkan jalur transportasi udara.Di luar Timur Tengah, kontribusi pasar ekspor terbesar Toyota Indonesia saat ini masih berasal dari kawasan Asia Tenggara dan Amerika Latin. Sementara itu, porsi ekspor ke Timur Tengah diperkirakan berada di kisaran 17 hingga 20 persen dari total pengiriman kendaraan ke luar negeri.Situasi geopolitik di kawasan tersebut juga berpotensi memberi dampak lanjutan apabila memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini dapat memengaruhi stabilitas ekonomi negara-negara importir sekaligus menekan daya beli masyarakat terhadap kendaraan.Aktivitas ekspor mobil Toyota Indonesia melalui Pelabuhan Patimban. Foto: Dok. TMMIN "Kita enggak mengharapkan itu (perang berlanjut) tapi kalau itu terjadi, enggak cuma ekspor, tapi domestik juga terpengaruh. Karena harga minyak, ekonomi, kemudian logistik yang lain, logistik pangan, dan makanan karena lewat sana juga," jelasnya.Di tengah kondisi global yang belum stabil, perusahaan tetap memasang target ekspor moderat pada tahun ini. TMMIN menargetkan pengiriman sekitar 300.000 unit kendaraan sepanjang 2026.Model kendaraan elektrifikasi yang diekspor dari Indonesia antara lain Toyota Yaris Cross Hybrid dan Toyota Innova Zenix Hybrid. Sementara model non-elektrifikasi meliputi Toyota Avanza, Toyota Veloz, Toyota Fortuner, serta Toyota Rush.Sebagai catatan, selama 2025 TMMIN mencatat ekspor kendaraan completely built up (CBU) sebanyak 298.457 unit atau sekitar 58 persen dari total ekspor mobil nasional.