Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (11/12/2025). Foto: Widya Islamiati/kumparanAsosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) terus memantau eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang sedang terjadi. Salah satu sektor yang dikhawatirkan akan terdampak adalah sektor padat karya.Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani secara keseluruhan menilai dampak terhadap sektor usaha sendiri akan beragam. Namun, industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada energi dan logistik internasional seperti sektor padat karya akan merasakan tekanan langsung.“Sektor padat karya menjadi salah satu yang paling rentan karena margin yang tipis dan sensitivitas tinggi terhadap biaya distribusi, bahan baku impor, serta permintaan ekspor yang terganggu,” kata Shinta kepada kumparan, Minggu (8/3).Walaupun hubungan dagang langsung Indonesia dengan Iran dan Israel relatif terbatas, Shinta melihat efek tidak langsung bagi pengusaha Indonesia tetap ada melalui harga energi global, disrupsi perdagangan internasional, inflasi pangan, nilai tukar, dan sentimen pasar keuangan.Wait and SeeAdapun dalam jangka pendek, Shinta menuturkan pelaku usaha saat ini fokus pada langkah-langkah mitigasi risiko yang bersifat realistis dan adaptif.Langkah tersebut dilakukan melalui penyesuaian struktur biaya produksi dan distribusi, peningkatan efisiensi operasional, penerapan manajemen risiko yang lebih disiplin termasuk pengelolaan eksposur valas, diversifikasi sumber pasokan, hingga pemanfaatan instrumen lindung nilai atau natural hedging yang tersedia.“Secara keseluruhan, dunia usaha menyikapi kondisi ini dengan pendekatan wait and see but prepared apabila tekanan global berlanjut,” ujarnya.Saat ini, kekhawatiran utama pelaku usaha adalah meningkatnya harga minyak dan gas, serta kenaikan biaya logistik internasional. Shinta menyebut, tanpa adanya penutupan jalur seperti Selat Hormuz secara fisik saja, ketidakpastian bisa mendorong lonjakan harga energi dan biaya logistik global.“Bagi Indonesia sebagai net importer minyak, tekanan tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mempersempit ruang fiskal apabila harga energi global terkerek naik di atas asumsi APBN,” kata Shinta.Untuk itu, ia mendorong pemerintah untuk melakukan beberapa langkah. Di antaranya adalah menjaga stabilitas harga energi dan pangan secara terukur, memperkuat cadangan dan distribusi logistik strategis, memastikan disiplin fiskal, kebijakan moneter dan pengelolaan utang yang prudent, serta memberikan dukungan terarah kepada sektor-sektor ekonomi yang berpotensi terdampak.Selain itu, ia menekankan bahwa penting bagi Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, menjaga posisi netral, serta mengedepankan prinsip perdamaian dan stabilitas kawasan.“Pendekatan yang tidak reaktif akan memastikan Indonesia tidak terseret ke dalam pusaran konflik geopolitik yang berpotensi menambah risiko ekonomi domestik. Stabilitas politik dan kredibilitas diplomatik menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan pasar serta keberlanjutan aktivitas dunia usaha,” ujarnya.