Ilustrasi PNS. Foto: ShutterstockJam masih menunjukkan pukul 07.25. Halaman kantor mulai ramai. Pegawai berdiri berbaris. Ada yang masih menguap pelan, ada yang sibuk merapikan seragam, ada juga yang diam-diam melirik jam tangan.Apel pagi sebentar lagi dimulai.Bagi banyak aparatur sipil negara (ASN), pemandangan ini sudah terlalu akrab. Bahkan mungkin lebih akrab daripada rapat evaluasi kinerja. Hampir setiap pagi, rutinitas yang sama terjadi: berbaris, mendengar arahan, lalu kembali ke meja kerja.Selesai.Tidak jarang seluruh proses itu hanya berlangsung 10 sampai 15 menit. Tapi tetap saja semua orang harus berhenti sejenak dari pekerjaan yang sedang disiapkan.Pertanyaannya sederhana: apakah apel pagi benar-benar membuat birokrasi bekerja lebih baik?Secara konsep, apel pagi tentu punya tujuan yang baik. Ia dimaksudkan untuk membangun disiplin, memperkuat koordinasi, dan menyampaikan arahan pimpinan. Di masa ketika komunikasi masih terbatas dan organisasi birokrasi berjalan dengan ritme yang sangat formal, apel mungkin memang penting.Tapi sekarang situasinya sudah berbeda.Arahan pimpinan bisa disampaikan lewat grup WhatsApp dalam hitungan detik. Koordinasi bisa dilakukan lewat rapat daring. Bahkan banyak sistem kerja pemerintahan sudah berbasis aplikasi dan dashboard kinerja. Namun satu hal tetap bertahan dengan sangat kuat: apel pagi.Lucunya, di banyak kantor, ukuran disiplin ASN kadang masih sangat simbolik. Selama hadir di apel, dianggap disiplin. Selama berdiri rapi di barisan, dianggap tertib.Padahal setelah apel selesai, belum tentu pekerjaan langsung bergerak lebih cepat.Birokrasi sering kali terjebak pada hal-hal yang terlihat “rapi di permukaan”. Barisan pegawai yang tertib memang enak dilihat. Tetapi pelayanan publik tidak diukur dari seberapa lurus barisan pegawai saat apel.Ia diukur dari seberapa cepat masyarakat dilayani, seberapa responsif birokrasi bekerja, dan seberapa efektif pegawai menyelesaikan tugasnya.Di era ketika efisiensi waktu menjadi hal yang sangat penting, setiap menit kerja sebenarnya berharga. Jika satu kantor dengan ratusan pegawai menghabiskan waktu belasan menit setiap pagi untuk apel, coba bayangkan berapa banyak jam kerja yang sebenarnya terpakai dalam sebulan.Tentu saja apel tidak harus dihapus sepenuhnya. Dalam situasi tertentu, apel bisa menjadi ruang membangun kebersamaan organisasi. Tapi mungkin sudah waktunya birokrasi bertanya dengan jujur: apakah apel pagi masih menjadi kebutuhan, atau hanya sekadar kebiasaan yang diwariskan begitu saja?Reformasi birokrasi sering dibicarakan dalam bentuk digitalisasi, regulasi baru, atau perubahan struktur organisasi. Tapi kadang reformasi justru dimulai dari hal yang paling sederhana: berani mengevaluasi rutinitas lama yang selama ini tidak pernah dipertanyakan.Termasuk apel pagi.Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli apakah ASN berdiri rapi setiap pagi. Yang mereka pedulikan jauh lebih sederhana: apakah urusan mereka selesai dengan cepat atau tidak.