Ilustrasi tren dopamine dressing. Foto: AnemStyle/ShutterstockDi tengah arus digital yang semakin deras, tren telah menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengarahkan cara konsumen berpikir dan bertindak. Setiap hari, media sosial dipenuhi dengan berbagai produk yang sedang viral, mulai dari fashion, makanan, hingga teknologi. Tanpa disadari, paparan informasi yang terus-menerus ini membentuk preferensi konsumen, bahkan sebelum mereka benar-benar memahami kebutuhan mereka sendiri. Akibatnya, keputusan pembelian tidak lagi murni didasarkan pada fungsi, melainkan juga pada daya tarik tren yang sedang berkembang.Kemudahan akses informasi menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat pengaruh tren. Hanya dengan menggulir layar, konsumen dapat menemukan berbagai rekomendasi produk dari influencer, ulasan pengguna, hingga konten promosi yang dikemas secara menarik. Ketika suatu produk muncul berulang kali dan mendapatkan respons positif, hal tersebut menciptakan persepsi bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang baik dan layak dimiliki. Dalam kondisi ini, konsumen cenderung terdorong untuk ikut mencoba, bukan semata karena kebutuhan, tetapi karena dorongan sosial untuk menjadi bagian dari tren tersebut.Lebih dari sekadar kebutuhan, tren juga berkaitan erat dengan pembentukan identitas diri. Bagi banyak konsumen, terutama generasi muda, produk yang digunakan mencerminkan gaya hidup dan kepribadian mereka. Memilih produk yang sedang tren sering kali dianggap sebagai cara untuk menunjukkan bahwa seseorang mengikuti perkembangan zaman, modern, dan relevan dengan lingkungan sosialnya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor emosional dan keinginan untuk diakui.Namun demikian, pengaruh tren tidak selalu membawa dampak positif. Di satu sisi, tren dapat membantu konsumen menemukan produk baru yang inovatif dan sesuai dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, tren juga berpotensi mendorong perilaku konsumtif yang berlebihan. Tidak jarang konsumen membeli produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan hanya karena takut dianggap ketinggalan. Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa kontrol, maka dapat berdampak pada pengelolaan keuangan yang kurang bijak.ilustrasi AI (OpenAI/DALLE),2026.Melihat fenomena tersebut, pelaku usaha pun semakin aktif memanfaatkan tren sebagai strategi pemasaran. Mereka berlomba-lomba menciptakan produk yang sesuai dengan selera pasar serta mengemas promosi secara kreatif agar mudah viral. Strategi ini terbukti efektif dalam menarik perhatian konsumen dalam waktu singkat. Namun, di tengah derasnya pengaruh tren, konsumen tetap dituntut untuk bersikap kritis dan selektif dalam menentukan pilihan.Pada akhirnya, tren memang memiliki peran besar dalam memengaruhi keputusan konsumen. Meskipun demikian, keputusan yang bijak tetap bergantung pada kemampuan individu dalam menyeimbangkan antara keinginan dan kebutuhan. Dengan sikap yang lebih rasional dan terkontrol, konsumen tidak hanya menjadi pengikut tren, tetapi juga mampu menjadi pengambil keputusan yang cerdas.