● Penelitian terbaru menunjukkan genetik sapi bali dan banteng liar sangat mirip.● Sapi bali berpotensi membantu konservasi banteng, tetapi mesti dilakukan dengan sangat hati-hati.● Kondisi kesehatan banteng perlu diperhatikan untuk memastikan apakah mereka cocok menerima gen dari sapi bali, begitu pula sebaliknya.Sapi bali sudah lama diyakini sebagai hasil domestikasi (penjinakan) banteng, meski sampai saat ini belum ada informasi detail tentang bagaimana, di mana, dan kapan prosesnya terjadi.Studi genom terbaru kami menunjukkan bahwa banteng liar dan sapi bali ternyata memang punya komposisi genetik yang sangat mirip.Adapun banteng saat ini termasuk spesies terancam punah (Critically Endangered) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Habitat banteng yang rusak, terpencar, dan pencemaran genetik (genetic swamping) dari kawin dengan sapi domestik, diperkirakan membuat populasi banteng terus menyusut.Lantas, jika genetik keduanya mirip, bisakah kita memodifikasi gen sapi bali untuk membantu upaya pelestarian populasi banteng?Jejak proses domestikasi dalam data genomikDalam riset terbaru di Current Biology, kami mempelajari perbedaan genetik antara banteng liar dan yang sudah didomestikasi (sapi bali).Kami menganalisis DNA dari 78 banteng liar dan domestikasi, termasuk tiga sampel lama dari koleksi museum (dari abad ke-19). Kami juga mengurutkan genom utuh (whole genome sequencing) lima banteng Jawa dari kebun binatang di Indonesia yang diketahui lahir di alam liar, serta beberapa banteng keturunan liar yang kini dipelihara di kebun binatang di Inggris dan Amerika Serikat. Kami pun berhasil menyajikan referensi susunan genom utuh pertama untuk banteng.Ada beberapa temuan penting dari riset kami, di antaranya:1. Keberagaman genetik sapi bali justru lebih tinggi daripada bantengDomestikasi hewan umumnya membuat keberagaman genetik hewan menurun. Hal ini terjadi karena manusia biasanya hanya memilih beberapa hewan yang paling mereka sukai untuk dikembangbiakkan. Akibatnya, hewan-hewan domestik pilihan ini jumlahnya lebih sedikit dari populasi liar dan variasi genetiknya pun menjadi lebih sempit. Hal ini disebut juga efek leher botol domestikasi (domestication bottleneck). Namun, riset kami menemukan bahwa sapi bali hasil domestikasi justru memiliki keragaman genetik lebih tinggi dari banteng. Menurut analisis kami, hal ini terjadi karena domestikasi banteng menjadi sapi bali kemungkinan berlangsung secara bertahap dalam waktu yang sangat lama. Selama periode tersebut, banteng liar terus-menerus dikawinkan dengan kelompok sapi peliharaan atau pun dimasukkan ke dalam habitat mereka. Alhasil, perbedaan genetik antara banteng liar dan sapi bali sangat tipis.Domestikasi “lunak” seperti ini jarang terjadi, tetapi pernah terjadi pada hewan domestik lain seperti rusa kutub dan yak. Baca juga: Riset: Sapi Indonesia punya jejak DNA banteng liar, tertinggi di sapi madura 2. Genetik sapi bali dan banteng sangat miripDari sampel banteng yang kami kerjakan, kami menemukan komposisi genetik sapi bali dan banteng tidak terlalu jauh berbeda. Hal ini dapat diketahui salah satunya dari indeks fiksasi (FST), yang menunjukkan seberapa banyak alel (variasi gen) yang berbeda dalam suatu populasi terhadap spesies lain. Semakin mendekati nol, maka spesies semakin mirip. Dari skala 0-1, banteng dan sapi bali memiliki FST dalam kisaran 0,1-0,2. Artinya, genetik keduanya sangat mirip. Sebagai perbandingan, sapi bali dan sapi zebu memiliki FST 0,7.Dalam beberapa kasus, kami menemukan beberapa populasi yang terisolasi mengalami penurunan variasi gen. Dua contohnya adalah banteng yang dipelihara di kebun binatang di AS dan Inggris dan populasi sapi bali yang sering berkeliaran secara semi-liar atau feral yang terdampar di semenanjung Coburg, Australia dari sejak abad ke-19.Namun, kami hampir tidak menemukan tanda-tanda percampuran gen dari sapi biasa (misalnya sapi taurin atau zebu) ke dalam banteng, baik yang liar maupun domestik.Hanya satu populasi sapi bali dari Kupang, Timor Barat, yang menunjukkan sinyal pencampuran gen yang lemah. Kami menemukan dua kasus persilangan baru di Kupang, termasuk satu anak hasil kawin langsung sapi biasa dengan sapi bali—tapi ini pun kasus terbatas, bukan kejadian luas.Artinya, mayoritas banteng dan sapi bali masih “murni” secara genetik, tidak banyak tercampur dengan sapi biasa. Baca juga: Riset: Populasi hewan langka anoa dan babirusa di pulau kecil lebih tangguh, meski jumlahnya sedikit Potensi sapi bali untuk konservasi bantengKarena kedekatan genetiknya, kami menganggap sapi bali berpotensi digunakan untuk “menyelamatkan” keberagaman genetik banteng yang kini terancam punah. Namun, ada beberapa hal penting yang patut kita perhatikan, di antaranya kondisi fisiologis populasi, perilaku, dan kesehatan mereka.Beberapa populasi sapi bali (di Australia misalnya) memiliki beban genetik tinggi akibat terisolasi cukup lama sejak dimasukkan ke habitat mereka.Jika populasi semacam ini dilepasliarkan ke habitat alami banteng, mereka bisa menyebarkan beban genetik tersebut dan menurunkan ketahanan populasi banteng liar yang masih tersisa. Para pakar banyak mendiskusikan dampak negatif pemindahan populasi dengan beban genetik tinggi hasil berbagai penelitian genomik, misalnya dalam kasus kupu-kupu di Kanada atau pada ikan guppy Trinidad terjadi penurunan populasi akibat mutasi gen.Kita juga perlu mengkaji lebih dalam, apakah populasi banteng yang tengah semakin terpencar di berbagai Taman Nasional di Pulau Jawa misalnya, memiliki keberagaman genetik yang cukup untuk bertahan, dan apakah keberagaman genetik yang ada cocok menerima sumber genetik lain seperti sapi bali. Sebaliknya, untuk menjaga potensi sapi bali sebagai sumber genetik banteng, kita perlu mengetahui dulu populasi sapi bali mana yang paling dekat dengan banteng. Kesehatan mereka pun perlu dipantau secara berkala untuk memastikan tidak ada yang membawa penyakit. Apalagi sapi bali rentan terkena penyakit Jembrana, yaitu infeksi virus yang hanya menyerang sapi bali, menyebabkan demam tinggi hingga keringat darah. Karena sapi bali dan banteng sangat mirip secara genetik, maka kemungkinan banteng juga rentan terpapar Jembrana. Jadi sebelum ada program pertukaran gen, risiko penyakit harus diperhitungkan.Dinamika sejarah populasi sapi bali dan banteng jawa merupakan salah satu kasus menarik ketika dunia konservasi dan peternakan bersinggungan. Dengan riset yang lebih kaya data dan konteks, penelitian sapi bali bisa beriringan dengan banteng jawa untuk keuntungan kedua belah sektor. Konservasi banteng bisa mendapatkan manfaat dari analisis populasi sapi bali. Sementara pengembangbiakan sapi bali dapat lebih optimal dengan menggunakan informasi sejarah varian genetik asalnya dari populasi banteng liar.Sabhrina Gita Aninta menerima dana dari European Research Council untuk penelitian ini. Gono Semiadi tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.