Zoom: Sebagian Off-Cam

Wait 5 sec.

Ilustrasi Zoom atau meeting online. Foto: ymphotos/ShutterstockBeberapa pekan lalu, saya pulang ke Banyuwangi. Kota itu selalu memiliki aroma angin yang bercampur kenangan masa kecil. Di ruang tamu rumah orang tua saya, kipas angin berputar pelan dan adik saya, seorang Gen Z yang baru 1 tahun bekerja, duduk di hadapan saya dengan wajah yang tidak sepenuhnya lelah, tetapi juga tidak sepenuhnya hidup.“Mas,” ujare lirih, “saiki donya kuwi rame pol, koyo ora ana jeda. Awak rasane kesel terus, atine kaya keseret arus sing ora tau mandheg. Mbiyen pas isih dadi mahasiswa, isih iso ngglundhung wektu, scrolling HP sampek suwi, turu-turu ayem tanpa dikejar target. Saiki? Wektu entek kanggo nyambut gawe. Nyambut gawe tenanan, nanging upahe mung cukup kanggo urip sak sasi."Bahasa kalimat itu sederhana, tetapi berat. Ia bukan sekadar bahasa keluhan individual, melainkan juga simptom sosial. Sebagai seorang akademisi, saya terbiasa menyebutnya sebagai lived experience, pengalaman yang tidak bisa direduksi menjadi angka statistik semata.Ketika saya kembali ke kampus dan membuka zoom meeting kelas, saya tidak langsung membahas kontrak kuliah. Saya menceritakan percakapan itu kepada mahasiswa.“Kita hidup,” saya memulai, “di zaman ketika keletihan intelektual menjadi atmosfer. Ia bukan lagi perasaan episodik, melainkan ekosistem psikologis.”Di layar, wajah-wajah muda itu diam. Sebagian off-cam. Sekali lagi, sebagian off-cam.... menutup kameranya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Ilustrasi kontemplasi. Foto: Generated by AIGenerasi yang lahir dalam kelimpahan teknologi justru tumbuh dalam kelangkaan makna. Setiap hari mereka mengonsumsi data, tetapi kekurangan arah. Setiap detik terkoneksi, tetapi relasi menjadi rapuh. Ini paradoks modernitas yang oleh banyak pemikir disebut sebagai condition of late modernity—kondisi ketika percepatan tidak selalu diiringi kedalaman.Adik saya merasa tidak punya waktu untuk sekadar scrolling seperti dulu. Ironis, bukan? Kita sering mengkritik generasi ini sebagai “kecanduan layar”, tetapi realitas dunia kerja membuatnya harus beradaptasi secara instan—habit sebelumnya tidak memberikan jaminan penyesuaian dalam lingkungan kerja.Mereka diajarkan narasi meritokrasi bahwa kerja keras pasti berbuah hasil. Namun di lapangan, struktur sosial tidak selalu netral. Lapangan kerja menyempit. Kebutuhan hidup melonjak.Di saat yang sama, praktik korupsi terasa seperti penyakit kronis yang kebal terapi. Dalam bahasa filsafat politik, hal ini disebut crisis of legitimacy, krisis kepercayaan terhadap institusi.Saya bertanya kepada mahasiswa, “Apa yang terjadi ketika generasi muda melihat bahwa hukum bisa dinegosiasikan oleh kuasa?”Salah satu menjawab, “Mereka jadi sinis, Pak.”Benar. Sinisme adalah bentuk pertahanan diri. Namun, sinisme yang terlalu lama dipelihara berubah menjadi apatisme. Dan apatisme adalah kemewahan yang seharusnya tidak kita miliki.Ilustrasi perempuan mengobrol. Foto: ShutterstockKonteks percakapan itu menjadi semakin relevan karena kita sedang berada di bulan Ramadan. Saya katakan kepada mereka, Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah existential interruption (interupsi eksistensial). Ia menghentikan rutinitas dan memaksa manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.Dalam keheningan sahur, dalam lengang menjelang berbuka, ada ruang kontemplasi yang jarang kita miliki di hari biasa. Kita dipaksa bertanya: Apa sebenarnya yang kita kejar?Saya mengingatkan mahasiswa pada pemikiran Al-Ghazali. Ia menulis bahwa penyakit terbesar manusia bukan kemiskinan materi, melainkan keterikatan berlebihan pada dunia yang fana. Ketika kekuasaan dijadikan tujuan, bukan amanah, ketika harta menjadi identitas, bukan alat, ketika jabatan menjadi kebanggaan, bukan tanggung jawab, di situlah dominasi dan eksploitasi tumbuh subur.Adik saya lelah bukan hanya karena beban kerja. Ia lelah karena merasakan disonansi antara usaha dan hasil. Ia lelah karena melihat program-program politik yang digadang ternyata tak berpihak dalam dunia kerja Gen Z, seolah solutif, tetapi dalam praktiknya sering tidak menyentuh akar persoalan. Negara memproduksi kebijakan, tapi di sisi lain menciptakan kecemasan.Kita lihat kondisi kita sekarang: apakah cukup mampu untuk beradaptasi, atau hanya berpura-pura mampu. Padahal, otak dan pikiran kita tidak siap menerima kondisi yang terjadi. Kemudian, saya mengajak mahasiswa melihat dimensi eksistensial.Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia mampu bertahan dalam situasi paling getir jika ia menemukan makna di balik penderitaan. Tanpa makna, kemakmuran pun terasa kosong. Dengan makna, keterbatasan bisa menjadi ruang pertumbuhan. Di sini saya berhenti sejenak, lalu berkata pelan, “Mungkin yang hilang bukan hanya lapangan kerja, melainkan juga horizon makna.”Ilustrasi Ramadan. Foto: Noushad Thekkayil/ShutterstockRamadan mengajarkan batas. Lapar menyingkapkan bahwa tubuh ini rapuh. Haus mengingatkan bahwa kita bergantung. Dalam pengalaman fisik itu, ambisi yang berlebihan tampak absurd. Untuk apa menumpuk kekuasaan seolah hidup ratusan tahun lamanya, jika satu detik saja dapat merenggut semuanya?Namun saya juga menegaskan, kesadaran spiritual tidak cukup menggantikan reformasi struktural. John Rawls berbicara tentang keadilan sebagai fairness, tentang institusi yang harus dirancang seolah-olah kita memilihnya dari balik “veil of ignorance” (tirai ketidaktahuan). Artinya, sistem yang adil menuntut desain yang berpihak pada yang paling rentan.Saya mengajak mahasiswa berpikir kritis, lebih dalam lagi. Ketika kita lelah, capek, dan membiarkan kapasitas intelektual kita menurun keadilan itu jauh panggang dari api. Ramadan, dalam perspektif ini, bukan eskapisme. Ia bukan pelarian dari realitas sosial. Ia adalah penjernih realitas. Ia melatih kesabaran bukan sebagai pasivitas, melainkan sebagai disciplined agency—disiplin bertindak tanpa kehilangan integritas.Saya katakan kepada mahasiswa, “Bayangkan jika kecemasan generasi kalian diubah menjadi empati. Jika kebosanan pada kemunafikan diubah menjadi komitmen integritas. Jika kemarahan pada korupsi diubah menjadi keberanian etis.”Generasi Z sering dicap mudah bosan dan cemas. Namun, mungkin itu bukan kelemahan. Mungkin itu adalah sensitivitas moral. Mereka cepat bosan pada retorika kosong. Mereka cemas karena sadar dunia tidak sedang baik-baik saja. Sensitivitas ini, jika diarahkan, dapat menjadi energi etik yang baik.Ilustrasi Gen Z. Foto: Odua Images/ShutterstockAdik saya di Banyuwangi mungkin tidak membaca Rawls atau Al-Ghazali. Ia hanya tahu bahwa ia lelah. Namun di balik kelelahan itu, ada pertanyaan mendasar: Apakah hidup hanya tentang lelah, sibuk, gaji, dan bertahan?Kita memang tidak mampu menyelesaikan semua. Harta, jabatan, popularitas, semuanya berhenti di batas waktu yang tak tau kapan. Namun, kita membawa jejak. Jejak kebijakan yang adil atau zalim. Jejak kata yang menguatkan atau melukai. Jejak pilihan yang memperkaya nurani atau menggerogotinya.Ramadan mengingatkan bahwa hidup ini sementara dan justru karena sementara itu ia menjadi berharga. Seperti senja yang indah karena akan berakhir, demikian pula kehidupan.Kepada generasi yang cemas, saya katakan: jangan biarkan keletihan menjadi penjara. Jadikan ia kompas. Kepada mereka yang berkuasa, ingatlah bahwa kekuasaan hanyalah titipan. Dan kepada kita semua, Ramadan adalah undangan untuk menata ulang bukan hanya sistem, melainkan juga hati.Perubahan yang paling cepat bukanlah yang lahir dari revolusi amarah, melainkan dari revolusi kesadaran. Dan kesadaran itu tumbuh dalam pikiran—di antara detak waktu yang terus berkurang, di antara doa yang lirih, di antara keyakinan bahwa meski dunia tidak sempurna, manusia masih bisa memilih untuk menjadi baik.Di akhir zoom meeting, layar satu per satu menghilang. Namun saya tahu, di balik setiap layar itu ada pergulatan yang nyata. Dan ketika saya melihat kolom chat zoom, salah satu mahasiswa Gen Z menuliskan, "Dunia masih sibuk sekali untuk sekadar melihatku" dan dia bagian dari "sebagian off-cam".