Ilustrasi es blewah. Foto: Gemini AIMenjadi ibu pekerja di bulan puasa itu ibarat menjalani dua shift kepemimpinan nonstop. Di kantor, kita dituntut jadi manajer yang presisi. Begitu buka pintu rumah? Bam! Kita langsung berubah wujud jadi "CEO" urusan domestik yang mengatur segala hal—dari cucian sampai menu berbuka.Sore itu, jam dinding menunjukkan pukul 17.00 WIB.Ini Ramadan 2026. Saya baru saja mendarat di rumah dengan sisa baterai tubuh nyaris 0%. Setelah full day meeting yang menguras jiwa raga, cuma satu hal yang menari-nari di kepala saya sebagai reward hari ini: Segelas es blewah dingin yang manis.Bukan sembarang es blewah. Tadi pagi, di tengah rush hour bersiap berangkat kantor, saya cuma melempar instruksi singkat ala bos yang lagi buru-buru ke Mbak ART: "Mbak, tolong siapin es blewah buat buka puasa ya."Pesannya simpel, tanpa detail teknis. Namun di kepala saya, ekspektasinya sudah setinggi langit: Blewahnya harus diserut halus memanjang biar nyess pas masuk tenggorokan.Sore ini, dengan langkah cepat dan penuh harap, saya membuka kulkas. Jeng-jeng!Imajinasi indah itu ambyar seketika. Di dalam mangkuk kristal itu, blewahnya sama sekali tidak diserut. Alih-alih helaian halus yang sopan di lidah, yang tersaji adalah potongan dadu presisi. Aesthetic sih, tapi sukses bikin mood berbuka saya terjun bebas.Darah rasanya hampir mendidih, tapi saya paksa dingin. Namanya juga lagi puasa. Akhirnya, saya cuma bisa melempar senyum kecut—campuran antara lapar, lelah, dan kecewa. Bibir tersenyum kaku, tapi hati cemberut maksimal. "Ya Allah... ujian banget sore-sore. 'standar umum' es blewah itu diserut, masa gini aja nggak inisiatif?"Di momen kritis menahan amarah itulah, dapur rumah saya mendadak berubah jadi ruang simulasi manajemen tingkat tinggi."Tegur Sekarang!" vs "Nanti Dulu"Suami saya yang kebetulan lewat dan menangkap sinyal muka cemberut saya langsung berkomentar."Panggil aja, sih. Langsung tegur sekarang," katanya santai, tapi tegas. "Standar itu harus ditegakkan. Memang kamu nggak kasih instruksi detail, tapi kalau kamu diam, dia nggak akan pernah tau kalau caranya salah. Kasih tahu sekarang."Ilustrasi suami dan istri. Foto: Gemini AITanpa sadar, perdebatan receh suami-istri di depan kulkas ini adalah live action dari Path-Goal Theory ala Robert House.Ini adalah teori kepemimpinan legendaris tahun 1971, di mana House bilang pemimpin harus adaptif. Suami saya jelas sedang pakai topi Directive Style. Dia ingin memberikan koreksi instan supaya tujuan (es blewah enak) tercapai. Logikanya masuk akal: Tanpa arahan dan teguran yang jelas, bawahan akan terus tersesat dalam asumsinya sendiri.Namun entah kenapa, hati saya menolak.Membayangkan wajah mbak ART yang mungkin juga lelah seharian berpuasa mengurus rumah dan menyadari fakta bahwa kekacauan ini juga berawal dari instruksi saya yang ambigu, rasanya nggak tega kalau harus menggelar "sidang paripurna" jam 5 sore.Manuver 'Healing' ala Servant LeaderSaya memilih jalan lain. Teringat akan konsep Ethical Leadership dari Levine & Boaks. Intinya simpel: Pemimpin etis itu fokusnya nge-heal, bukan nge-kill.Alih-alih jadi bos galak yang menuntut kesempurnaan, saya mengambil parutan dari laci. Saya serut ulang blewah-blewah dadu itu sendiri (iya, sambil sedikit ngedumel dalam hati karena merutuki kesalahan komunikasi sendiri).Setelah jadi, saya foto es blewah hasil revisi itu, lalu saya kirim via WhatsApp ke si Mbak dengan nada paling santai yang bisa saya kumpulkan:"Mbak, makasih ya blewahnya sudah disiapin. Tadi pagi aku buru-buru jadi lupa bilang kalau aku sukanya diserut halus, bukan dipotong dadu. Ini aku kasih contoh foto blewah serut yang enak buat besok. Biar Mbak gampang bikinnya, besok aku siapin parutan barunya di meja ya. Semangat puasanya!"Suami saya geleng-geleng kepala melihat tingkah saya. "Kamu terlalu lembek. Leader kok nggak tegaan."Saya cuma nyengir. "Kamu pakai directive buat jaga standar operasional, aku pakai supportive buat jaga mental tim. Kita healing dulu emosinya, akuntabilitas menyusul kemudian."Plot Twist di Meja MakanSaat bedug maghrib berkumandang, es blewah (versi serut ulang) itu terasa bagai surga dunia. Namun, kenikmatan sejati justru datang dari notifikasi HP saya.Balasan dari ART masuk: "Ya ampun Ibu... maaf banget saya tadi motongnya pakai pisau, saya pikir Ibu suka yang tebal-tebal biar kerasa buahnya. Makasih sudah dicontohin ya Bu, besok saya bikin yang persis kayak foto Ibu!"Rasanya? Mak nyess. Lebih segar dari blewahnya itu sendiri.Ilustrasi es blewah. Foto: Instagram/@andres_tyhiaCoba bayangkan kalau tadi saya meledak marah ala gaya directive murni? Si Mbak pasti ketakutan, merasa disalahkan, dan besok kerjanya jadi serba awkward. Namun dengan pendekatan supportive, dia justru merasa didukung meski awalnya terjadi salah paham.Inilah bukti nyata Perceived Organizational Support (POS) di skala rumah tangga.Riset manajemen membuktikan, pegawai yang merasa "dibela" dan didukung emosinya oleh atasan, loyalitasnya bisa naik 30-50%. Mereka bekerja bukan karena takut dimarahi, melainkan karena memiliki komitmen dan tak ingin mengecewakan pemimpin yang pengertian.Dari Dapur ke KantorEsok harinya? Tanpa diminta dua kali, es blewah tersaji sempurna. Serutannya halus, sirupnya pas. Bahkan, dia berinisiatif menambahkan es batu ekstra sebelum saya sampai di rumah.Pelajaran dari drama blewah ini mahal harganya buat kita yang mengemban titel pemimpin-baik di kantor sebagai manajer, maupun di rumah sebagai pengatur keluarga.Sering kali kita terjebak menjadi bos yang kaku. Target meleset dikit, langsung semprot. Kita lupa, tim kita (termasuk ART) itu manusia, bukan mesin pemroses data. Dan sering kali, kita lah akar masalahnya karena memberikan instruksi yang terlalu sumir alias ambigu.Ethical leader yang cerdas tahu persis kapan harus berganti gaya.Seperti kata Robert House, adaptasi adalah kunci. Ada kalanya kita perlu tegas (directive) saat situasi sedang krisis, tetapi lebih sering kita perlu merangkul (supportive) saat tim butuh empati dan kejelasan.Jadi, kalau besok tim kamu di kantor atau asisten di rumah melakukan kesalahan fatal semacam "salah potong blewah": Tahan napas sejenak. Tahan jempolmu dari mengetik pesan pedas di grup WhatsApp.Tanya dulu pada dirimu: Apakah instruksi saya sudah benar-benar jelas? Dan apa yang bisa saya berikan supaya dia bisa bekerja lebih baik besok?Percayalah, tim yang tumbuh dari rasa didukung akan jauh lebih tangguh dan loyal daripada tim yang dibesarkan oleh rasa takut. Selamat menyerut blewah (dan menata ego) masing-masing.