Ilustrasi rantai mineral China. Foto: Generated by AIKTT Mineral Kritis yang digagas Amerika Serikat di Washington pada bulan Februari ini bukan sekadar pertemuan rutin antarnegara. Pertemuan ini adalah proklamasi resmi bahwa Washington telah "terbangun" dari tidurnya.Setelah hampir satu dekade membiarkan China mendominasi peta jalan energi masa depan, AS kini melancarkan serangan balik diplomatik dan ekonomi yang agresif untuk merebut kembali kendali atas mineral-mineral masa depan.Keterlambatan yang MahalSelama bertahun-tahun, Barat terjebak dalam zona nyaman sebagai konsumen, sementara Beijing dengan tekun membangun imperium pemrosesan mineral.Dari litium hingga kobalt, China menguasai hampir 80 persen rantai pasok global. Bagi AS, ketergantungan ini bukan lagi sekadar masalah perdagangan, melainkan juga ancaman eksistensial terhadap keamanan nasional dan transisi energi hijau mereka.Presiden AS Donald Trump menjawab pertanyaan dari anggota pers di atas Air Force One dalam perjalanan kembali ke Gedung Putih pada 11 Januari 2026 di Palm Beach, Florida. Foto: Samuel Corum/Getty Images via AFPKTT ini menunjukkan bahwa AS tidak lagi mengejar efisiensi biaya—di mana China selalu menang karena harga murah—tetapi keamanan pasokan (security of supply). Washington kini mencoba merangkul sekutu-sekutunya untuk membangun ekosistem tandingan yang mereka sebut sebagai "rantai pasok yang aman, transparan, dan beretika."ESG sebagai Senjata GeopolitikStrategi utama AS dalam menghadapi China adalah mengubah aturan main melalui standar Environmental, Social, and Governance (ESG). Dengan menekankan standar lingkungan yang ketat dan hak tenaga kerja, AS sedang membangun barikade moral untuk mendiskreditkan produk-produk mineral yang diproses dengan investasi China, yang selama ini dianggap memiliki jejak karbon tinggi dan standar buruh yang longgar.Ini adalah taktik "pagar tinggi" (high fence). Dengan menetapkan standar masuk yang tinggi ke pasar Barat, AS berharap bisa memaksa negara-negara kaya sumber daya di Global South untuk menjauh dari orbit ekonomi Beijing dan beralih ke investasi Barat yang diklaim lebih "bersih". Namun, strategi ini sekaligus menunjukkan ambisi AS yang tidak ingin lagi menjadi nomor dua dalam penguasaan sumber daya strategis dunia.Fragmentasi Tatanan GlobalPada akhirnya, KTT di Washington menegaskan bahwa mineral kritis adalah "minyak baru" dalam geopolitik abad ke-21. Persaingan ini bukan lagi soal siapa yang paling hijau, melainkan siapa yang paling berkuasa mengendalikan saklar energi dunia.Ilustrasi kekuasaan. Foto: ShutterstockWashington kini sedang mempertaruhkan segalanya untuk membangun "tirai besi" baru—kali ini bukan berbasis ideologi politik, melainkan berbasis kendali atas tabel periodik unsur.Obsesi Amerika Serikat untuk tidak mau kalah dari China akan memaksa tatanan dunia masuk ke dalam fragmentasi ekonomi yang dalam. Di satu sisi, China berdiri dengan infrastruktur pemrosesan yang sudah matang dan dominan, sementara di sisi lain berdiri AS dengan upaya pembentukan aliansi eksklusif yang memaksakan standar baru.Pertarungan ini tidak akan berakhir dengan kesepakatan dagang yang damai, tetapi dengan perlombaan tanpa henti untuk mengamankan setiap inci cadangan mineral di kerak bumi. Siapa pun yang berhasil memenangkan perlombaan rantai pasok ini, dialah yang akan mendikte arah peradaban teknologi dunia di masa depan.Di tengah ambisi besar Washington untuk kembali memegang kendali, dunia hanya akan menyaksikan sebuah kenyataan pahit: transisi energi bersih ternyata harus lahir dari rahim persaingan kekuasaan yang sangat kotor.