Pidato Keras Kim Jong-un: Tak Mau Lagi Berurusan dengan Korsel

Wait 5 sec.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertepuk tangan saat menghadiri Kongres Kesembilan Partai Buruh Korea (WPK) di mana ia terpilih kembali sebagai sekretaris jenderal, di Pyongyang, Korea Utara, 22 Februari 2026. Foto: KCNA via REUTERSPemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, menolak ajakan Korea Selatan untuk memperbaiki hubungan diplomatik. Kim bahkan kembali menyebut Korea Selatan sebagai musuh utama Korut.Hal itu disampaikan Kim dalam penutupan Partai Buruh, Kamis (26/2). Dalam pidatonya, Kim menegaskan Korut sama sekali tidak ingin berurusan dengan Korsel.Komentar Kim merupakan respons atas keinginan Presiden Korsel, Lee Jae Myung, yang ingin memperbaiki hubungan kedua negara. Lee sebelumnya menyatakan ingin menciptakan hubungan damai dan hidup berdampingan dengan Korut.Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung dari Partai Demokrat. Foto: Jung Yeon-je/AFPNamun Kim menolak mentah-mentah ajakan tersebut. Dengan pernyataan berapi-api, Kim secara resmi mengakhiri upaya rekonsiliasi dengan Korsel yang secara teknis masih berperang dengan Korut.“Korut sama sekali tidak akan berurusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan, dan akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori warga negara,” kata Kim seperti dikutip dari AFP.“Selama Korea Selatan tidak dapat menghindari kondisi geopolitik karena berbatasan dengan kami, satu-satunya cara untuk hidup aman adalah dengan melepaskan semua hal yang berkaitan dengan kami dan membiarkan kami sendiri,” sambungnya.Kementerian Unifikasi Korsel menyayangkan pernyataan Kim yang menolak ajakan hidup berdampingan.Sebuah balon yang membawa berbagai benda termasuk sampah, yang diyakini dikirim oleh Korea Utara, terlihat di laut lepas Incheon, Korea Selatan, Minggu (9/6/2024). Foto: Yonhap/via REUTERS Hubungan Korut dan Korsel berada di titik nadir saat Presiden Yoon Suk Yeol berkuasa. Pada 2024, sejumlah drone Korsel sempat menyebarkan pamflet propaganda anti-Korut ke wilayah negara tetangganya itu.Tindakan tersebut memicu kemarahan Pyongyang. Presiden Lee kemudian mencoba memperbaiki hubungan dan bahkan menyatakan siap meminta maaf jika diperlukan.