Sulit Lepas dari Toxic Relationship? Ini Penjelasan Psikologisnya

Wait 5 sec.

Sulit Lepas dari Toxic Relationship? Ini Penjelasan Psikologisnya. Foto: ShutterstockBeberapa orang sudah menyadari bahwa hubungannya tidak sehat, tetapi tetap merasa sulit untuk benar-benar mengakhiri atau melepaskannya. Secara logis, keputusan untuk pergi seharusnya membawa kelegaan. Namun dalam praktiknya, keterikatan emosional sering kali masih terasa kuat.Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai trauma bond. Menurut Patrick Carnes, terapis dan peneliti asal Amerika Serikat yang banyak meneliti relasi disfungsional, hubungan yang disertai siklus ketegangan dan kasih sayang yang datang bergantian dapat menciptakan ikatan emosional yang sangat kuat.“Hubungan yang tidak sehat bisa membentuk keterikatan mendalam justru karena adanya rasa takut, ketidakpastian, dan momen afeksi yang muncul secara tidak terduga,” jelasnya.Artinya, sulit lepas dari toxic relationship bukan semata-mata persoalan kurang tegas, melainkan hasil dari dinamika emosional yang kompleks.Pola Emosi yang Intens dan Tidak StabilPola Emosi yang Intens dan Tidak Stabil. Foto: ShutterstockHubungan toxic sering berjalan dalam pola konflik dan rekonsiliasi. Setelah pertengkaran atau perlakuan menyakitkan, biasanya muncul fase perhatian atau sikap manis. Pola ini menciptakan dinamika emosional yang tidak stabil namun intens.Dalam teori perilaku, pola seperti ini mirip dengan intermittent reinforcement, ketika respons positif muncul secara tidak konsisten, tetapi justru membuat seseorang semakin terikat. Intensitas tersebut bisa terasa seperti kedekatan yang kuat, padahal yang terbentuk adalah ketergantungan emosional.Pengulangan Pola LamaPengulangan Pola Lama. Foto: ShutterstockSebagian orang tanpa sadar tertarik pada hubungan yang secara emosional terasa familiar. Jika di masa lalu seseorang terbiasa merasa harus berjuang untuk mendapatkan perhatian atau validasi, pola tersebut bisa terulang dalam hubungan dewasa.Upaya untuk mempertahankan hubungan sering kali berkaitan dengan keinginan memperbaiki pengalaman emosional sebelumnya. Hal ini membuat proses melepaskan menjadi lebih sulit karena yang dipertahankan bukan hanya pasangan, tetapi juga harapan akan perubahan.Harga Diri yang TerkikisHarga Diri yang Terkikis. Foto: ShutterstockHubungan yang dipenuhi kritik, manipulasi, atau peremehan dapat mengikis rasa percaya diri secara bertahap. Akibatnya, seseorang mulai meragukan intuisi dan penilaian dirinya sendiri.Ketika ingin mengakhiri hubungan, muncul kekhawatiran seperti merasa tidak cukup baik atau takut tidak akan menemukan pasangan lain. Keraguan ini memperkuat keterikatan meskipun hubungan tersebut tidak sehat.Rasa Bersalah dan Ketakutan terhadap KetidakpastianRasa Bersalah dan Ketakutan terhadap Ketidakpastian. Foto: TimeImage Production/ShutterstockDalam hubungan toxic, satu pihak sering kali dibuat merasa bertanggung jawab atas konflik yang terjadi. Setelah hubungan berakhir, pola menyalahkan diri sendiri bisa terus berlanjut.Di sisi lain, mengakhiri hubungan berarti menghadapi masa depan yang belum pasti. Bagi sebagian orang, situasi yang sudah dikenal, meskipun menyakitkan, terasa lebih aman dibandingkan ketidakpastian tersebut.Memahami faktor-faktor seperti ini penting agar proses pemulihan tidak hanya berfokus pada perpisahan, tetapi juga pada pemulihan rasa percaya diri dan kemampuan membangun hubungan yang lebih sehat ke depan.