Eling lan Waspada-Sederhana Sarat Makna

Wait 5 sec.

Filosofi Jawa Eling lan Waspada merupakan pitutur luhur yang sederhana namun sangat mendalam maknanya. Dalam tradisi kebijaksanaan Jawa, ungkapan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan pedoman hidup yang menuntun manusia agar selalu sadar dan berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan.Secara harfiah, eling berarti ingat atau sadar, sedangkan waspada berarti berhati-hati atau mawas diri. Selama ini, banyak orang memaknai eling sebatas ingat kepada Gusti Allah—kesadaran spiritual bahwa hidup ini berada dalam kuasa Tuhan. Pemahaman itu benar dan sangat penting. Namun, filosofi ini tidak berhenti di sana. “Eling” juga berarti sadar akan diri sendiri: sadar akan pikiran, niat, emosi, dan tindakan yang muncul dari dalam batin.Ilustrasi ragam emosi. Sumber : PexelsDi sinilah kedalaman ajaran ini tampak. Manusia sering merasa telah religius karena rajin berdoa atau beribadah, tetapi lupa mengawasi pikirannya sendiri. Padahal, segala tindakan berawal dari pikiran. Pikiran yang dibiarkan liar dapat melahirkan kesombongan, iri hati, prasangka, bahkan keputusan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka, eling bukan hanya vertikal kepada Gusti, tetapi juga horizontal dan internal—menyadari apa yang sedang terjadi dalam batin.Sementara itu, waspada adalah sikap berjaga-jaga. Bukan hidup dalam ketakutan, melainkan hidup dalam kesadaran penuh. Waspada terhadap godaan kekuasaan, terhadap pujian yang berlebihan, terhadap amarah yang tiba-tiba muncul, dan terhadap keputusan yang diambil dalam keadaan emosi. Orang Jawa percaya bahwa hidup yang tergesa-gesa tanpa kewaspadaan akan mudah tergelincir.Jika eling adalah kesadaran batin, maka waspada adalah kontrol diri dalam tindakan. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Sadar tanpa kewaspadaan bisa membuat seseorang lengah. Waspada tanpa kesadaran bisa membuat seseorang curiga berlebihan. Keseimbangan keduanya melahirkan pribadi yang matang, tenang, dan bijaksana.Dalam kehidupan modern yang serba cepat—terutama di era media sosial—ajaran ini terasa semakin relevan. Banyak konflik muncul bukan karena fakta, tetapi karena reaksi spontan yang tidak disaring oleh kesadaran. Komentar ditulis tanpa dipikir panjang. Emosi diluapkan tanpa pertimbangan. Jika prinsip eling lan waspada benar-benar dihayati, seseorang akan berpikir sebelum berbicara, merenung sebelum bertindak, dan menimbang sebelum memutuskan.Ilustrasi reaksi spontan (terkesan menghakimi) yang dapat menyebabkan konflik. Sumber : PexelsLebih dalam lagi, filosofi ini mengajarkan penguasaan diri. Orang yang mampu waspada terhadap pikirannya sendiri tidak mudah diprovokasi. Ia tahu bahwa tidak semua yang ia pikirkan harus diucapkan, dan tidak semua yang ia rasakan harus dituruti. Kesadaran seperti ini melahirkan kebijaksanaan.Pada akhirnya, Eling lan Waspada adalah ajaran tentang keseimbangan antara spiritualitas dan pengendalian diri. Ingat kepada Gusti memberi arah hidup, sedangkan waspada terhadap pikiran sendiri menjaga langkah agar tidak menyimpang. Dalam keseimbangan itulah manusia menemukan ketenteraman batin.Maka, hidup yang baik bukan hanya tentang seberapa sering kita berdoa, tetapi juga seberapa jujur kita mengawasi hati dan pikiran sendiri. Sebab orang yang benar-benar eling lan waspada tidak hanya dekat dengan Tuhan, tetapi juga mampu menaklukkan dirinya sendiri.