Ilustrasi berburu takjil. Foto: ShutterstockBeburu takjil memang menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu saat bulan Ramadan. Menjelang waktu berbuka, masyarakat berbondong-bondong mencari aneka makanan dan minuman manis untuk membatalkan puasa. Mulai dari es buah, kolak, hingga gorengan.Namun, di balik kelezatan takjil yang kita santap, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian, yakni kemasan makanannya. Ya, takjil biasanya dikemas menggunakan berbagai jenis wadah, seperti gelas plastik, plastik kiloan, kresek, kertas bekas, hingga stirofoam. Padahal, tidak semua kemasan tersebut aman untuk kesehatan, terutama jika digunakan untuk makanan atau minuman panas.Nah, berikut ini beberapa pembungkus takjil yang sebaiknya diwaspadai seperti yang telah dirangkum dari berbagai sumber.Plastik KiloanSejumlah takjil di Kampung Sunda Bali, Senin (3/3/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparanDikutip dari laman Instagram RSU MMC Bakti Mulia, plastik kiloan masih sering digunakan untuk membungkus gorengan atau makanan berkuah panas. Padahal, plastik umumnya mengandung bahan kimia seperti BPA dan ftalat yang membuatnya lentur dan tahan lama.Masalah muncul ketika plastik tersebut bersentuhan dengan makanan panas atau berminyak. Panas dapat memicu zat kimia berpindah ke makanan. Jika terus-menerus terpapar, bahan berbahaya ini bisa masuk ke dalam tubuh dan berisiko mengganggu kesehatan.Kresek HitamIlustrasi berburu takjil. Foto: ShutterstockBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan bahwa sebagian besar kantong plastik kresek, terutama yang berwarna hitam, merupakan hasil daur ulang. Artinya, bahan bakunya bukan plastik baru yang diproduksi khusus untuk pangan, melainkan berasal dari limbah berbagai produk. Limbah tersebut bisa saja berasal dari wadah bekas produk pangan, kemasan bahan kimia, pestisida, bahkan tercemar kotoran hewan maupun manusia.Selain itu, dalam proses daur ulang, plastik kerap melalui tahapan yang melibatkan bahan kimia tambahan untuk membentuk ulang teksturnya. Kebersihan dan keamanan bahan baku pun tidak selalu dapat dipastikan. Inilah yang membuat plastik kresek daur ulang tidak direkomendasikan untuk kontak langsung dengan makanan.BPOM mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan kantong plastik kresek daur ulang untuk mewadahi bahan baku pangan seperti daging, ikan, maupun makanan siap santap. Risiko semakin meningkat ketika plastik tersebut digunakan untuk membungkus makanan dalam keadaan panas. Suhu tinggi dapat memicu pelepasan zat kimia dari plastik, yang kemudian berpotensi larut dan mencemari makanan. Jika makanan bersentuhan langsung dengan permukaan plastik, kemungkinan perpindahan zat berbahaya menjadi lebih besar.Sebagai langkah pencegahan, penting untuk lebih cermat memilih jenis plastik yang digunakan untuk makanan. Beberapa bahan plastik yang relatif lebih aman antara lain HDPE, LDPE, Polietilen Tereftalat (PET), dan Polipropilen (PP). Selain itu, perhatikan pula adanya logo tara pangan berupa simbol gelas dan garpu pada kemasan. Tanda tersebut menunjukkan bahwa wadah dirancang untuk kontak dengan makanan. Meski begitu, tetap penting membaca dan mengikuti petunjuk penggunaan dari produsen, terutama terkait batas suhu.Kertas Bekas (Koran atau Majalah)Penjual gorengan di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jakarta, Jumat (7/4/2023). Foto: Ainun Nabila/kumparanKebiasaan menggunakan kertas bekas, koran, atau majalah sebagai pembungkus makanan masih kerap ditemui di sejumlah tempat, terutama untuk gorengan dan jajanan yang disajikan dalam keadaan panas. Padahal, praktik ini menyimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele.Dikutip dari laman Instagram BPOM Manggarai Barat, penggunaan kertas bekas, koran, dan majalah untuk membungkus makanan berisiko tidak higienis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kandungan timbal (Pb) pada tinta cetak yang digunakan di koran dan majalah. Ketika kertas tersebut bersentuhan dengan makanan panas dan berlemak, dapat terjadi migrasi atau perpindahan timbal dari tinta ke makanan. Proses ini semakin mudah terjadi karena suhu panas dan kandungan minyak membantu melarutkan zat kimia dari permukaan kertas.Gelas Kertas Ilustrasi gelas kopi berwarna hijau. Foto: Iuliia Pilipeichenko/ShutterstockPenggunaan gelas kertas untuk minuman panas sering dianggap lebih aman karena terlihat berbahan dasar kertas. Banyak orang merasa pilihan ini lebih “ramah” dibanding gelas plastik. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.Mengutip dari laman Pemerintah Kabupaten Asahan, sejumlah studi menunjukkan bahwa minuman panas seperti kopi dan teh yang disajikan dalam gelas kertas berlapis plastik dapat menyebabkan paparan partikel mikroplastik ke dalam tubuh. Hal ini terjadi karena sebagian besar gelas kertas dilapisi film plastik tipis di bagian dalamnya agar tidak bocor.Saat lapisan plastik tersebut bersentuhan dengan cairan panas, ada kemungkinan partikel mikroplastik terlepas dan bercampur dengan minuman. Partikel berukuran sangat kecil ini kemudian dapat ikut tertelan. Dalam jangka panjang, paparan mikroplastik dikhawatirkan berdampak kurang baik bagi kesehatan.Memang ada gelas yang sepenuhnya berbahan kertas, tetapi jenis ini masih jarang ditemui. Selain itu, tutup gelas kertas pun umumnya terbuat dari plastik, yang sebenarnya hanya dibutuhkan saat minuman dibawa bepergian.Karena itu, akan lebih bijak jika kita mulai mempertimbangkan penggunaan wadah minum pribadi yang tahan panas dan dapat digunakan berulang kali. Selain membantu mengurangi potensi paparan zat berbahaya, langkah ini juga mendukung upaya pengurangan sampah sekali pakai.Gelas Plastik Sekali PakaiWarga saat mengambil takjil gratis di kawasan Gatot Subroto, Senayan, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanPenggunaan gelas plastik sekali pakai untuk minuman panas juga tidak dianjurkan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketika gelas plastik terpapar air bersuhu tinggi, materialnya dapat melepaskan partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil yang disebut nanoplastik.Tak hanya itu, gelas plastik tertentu juga berpotensi melepaskan senyawa kimia berbahaya seperti BPA (Bisphenol-A) ketika terkena panas. BPA dikenal sebagai zat yang dapat mengganggu sistem hormon dalam tubuh jika terpapar dalam jumlah tertentu dan waktu lama.StirofoamIlustrasi styrofoam untuk membungkus makanan Foto: Dok.ShutterstockMenggunakan stirofoam sebagai pembungkus makanan dapat membahayakan tubuh karena bahan kimia yang terkandung di dalamnya berpotensi bermigrasi ke makanan yang akan dikonsumsi, terutama jika makanan tersebut dalam keadaan panas. Proses perpindahan zat ini bisa terjadi ketika suhu tinggi membuat struktur bahan menjadi lebih tidak stabil.Dikutip dari Antara, stirofoam umumnya terbuat dari butiran ‘styrene’ yang diproses menggunakan benzana. Kedua zat ini termasuk senyawa kimia yang perlu diwaspadai karena dalam paparan tertentu dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Jika zat tersebut masuk ke dalam tubuh melalui makanan, ia dapat terserap ke dalam aliran darah dan dalam jangka panjang berisiko memengaruhi organ penting, termasuk sumsum tulang.Penggunaan stirofoam secara terus-menerus untuk makanan panas juga dikaitkan dengan gangguan pada sistem saraf. Dampak yang dapat muncul antara lain rasa lelah berlebihan, detak jantung yang lebih cepat, gemetar, mudah gelisah, hingga gangguan tidur.