Mengapa manusia tidak memiliki ekor?

Wait 5 sec.

Natalia Deriabina/ShutterstockMengapa manusia tidak lagi memiliki ekor?Olivia, 12 tahun, asal Belanda.Pertanyaan bagus, dan ini menyentuh inti tentang siapa kita sebenarnya sebagai manusia.Coba pikirkan tentang keluargamu, apakah kamu memiliki sepupu? Jika ya, maka kamu dan sepupumu memiliki kakek dan nenek yang sama. Merekalah leluhur kalian berdua.Nah, sekarang bayangkan kalau kita mundur lebih jauh lagi ke masa lalu. Kamu dan kerabat jauhmu juga sebenarnya memiliki nenek moyang yang sama dalam silsilah keluarga besar kalian. Bahkan, kalau kita melihat semua makhluk hidup di Bumi, kita semua sebenarnya memiliki satu nenek moyang yang sama, yang hidup sekitar 3 sampai 4 miliar tahun yang lalu. Curious Kids adalah seri dari The Conversation yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk mengajukan pertanyaan tentang dunia di sekitar mereka, lalu dijawab langsung oleh para ahli. Jika kamu memiliki pertanyaan yang ingin dijawab pakar, kirimkan ke curiouskids@theconversation.com dan jangan lupa sertakan nama pena, usia, serta kota tempat tinggal. Kami mungkin tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang masuk, tetapi kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menjawab pertanyaan yang ada.Kehidupan di Bumi pada dasarnya seperti satu pohon keluarga raksasa. Artinya, anjing dan kucing masih berkerabat. Begitu juga kamu dengan tupai, ikan, bahkan dengan dinosaurus. Semua makhluk hidup yang hidup sekarang maupun yang pernah hidup di masa lalu, berasal dari satu leluhur yang sama.Empat miliar tahun tentu bukanlah rentang waktu yang mudah kita bayangkan. Angka ini terlalu besar untuk benar-benar terasa nyata di kepala kita.Sebagai gambaran, satu miliar bola golf bisa memenuhi sebuah stasiun kereta besar. Sekarang bayangkan ada empat tumpukan sebesar itu, jumlahnya luar biasa banyak. Gambaran ini menunjukkan betapa lamanya waktu tersebut. Jika kita beranjak ke periode yang lebih “baru” dalam sejarah evolusi, kita termasuk dalam kelompok kera. Kita punya leluhur yang sama dengan kera yang masih hidup saat ini, seperti simpanse, gorila, orangutan, dan owa.Meskipun simpanse dan gorila memiliki banyak ciri yang mirip, manusia dan simpanse sebenarnya bersaudara. Hal ini berarti, dibandingkan dengan spesies lain, kita memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan simpanse.Hal ini juga berarti, banyak hal yang telah terjadi dalam garis evolusi kita. Tubuh kita mengalami perubahan besar. Struktur anatomi kita berkembang sedemikian rupa sehingga memungkinkan kita berjalan tegak, menggunakan berbagai alat, berbicara, serta mengembangkan berbagai kemampuan lain yang membuat manusia menjadi spesies yang unggul seperti hari ini. Manusia memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan monyet. Farewell love/Shutterstock Namun, semua kera, termasuk kita, masih disatukan oleh sejumlah ciri khas. Misalnya, semua kera memiliki otak yang relatif besar, meskipun otak manusia merupakan otak yang paling besar. Selain itu, seluruh kera juga memiliki bentuk tubuh yang memungkinkan postur tegak. Dada kita jauh lebih vertikal dibandingkan anjing, bahkan dari monyet. Struktur tubuh inilah yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan evolusi kita.Kita juga memiliki pola alur yang khas pada gigi geraham bawah. Jika diraba, lima tonjolan kecil di permukaannya tersusun membentuk huruf Y, yang dikenal sebagai pola Y-5. Pola ini sendiri hanya ditemukan pada kelompok kera.Terakhir, semua kera memiliki kemampuan memanjat pohon dan bergelantungan di dahan. Struktur lengan dan bahu kita pun masih mempertahankan ciri-ciri tersebut, hal ini memungkinkan kita melakukan gerakan memanjat pohon dengan aman.Ciri-ciri itu kita miliki karena kita berasal dari satu leluhur kera yang sama dengan kera, yang diperkirakan hidup sekitar 20 hingga 30 juta tahun lalu. Kalau kembali memakai analogi bola golf tadi, satu juta bola golf bisa memenuhi sebuah kamar tidur besar. Sekarang bayangkan ada 30 kamar sebesar itu, semuanya dipenuhi bola golf. Dari situ, kita bisa membayangkan betapa jauhnya rentang waktu yang sedang kita bicarakan.Bukti terbaik yang kita miliki tentang seperti apa rupa leluhur para kera berasal dari fosil, yaitu sisa-sisa makhluk hidup purba yang telah mengalami proses panjang hingga berubah menjadi batu.Misalnya spesies kera yang telah punah bernama Ekembo heseloni asal Afrika. Kera ini secara tampilan sebenarnya lebih mirip monyet. Spesies ini diketahui memanjat pohon, tetapi kemungkinan tidak bergelantungan di bawah dahan seperti kera modern. Alih-alih berayun, mereka lebih sering berjalan di atas cabang. Temuan ini tentunya cukup mengejutkan, karena semua kera yang hidup saat ini memiliki ciri tubuh yang memungkinkan mereka bergelantungan di dahan.Namun, para ilmuwan mengetahui bahwa spesies Ekembo heseloni merupakan kera karena karena dua ciri utamanya. Pertama, spesies ini memiliki pola Y-5 yang khas pada geraham bawahnya, sama seperti yang kita miliki. Kedua, ia tidak memiliki ekor. Ketiadaan ekor merupakan salah satu ciri pembeda paling jelas yang dimiliki semua kera.Mengapa semua kera tidak memiliki ekor?Sejauh ini, kita baru memiliki hipotesis, dengan dugaan yang didasarkan pada bukti ilmiah, tentang mengapa leluhur kita bersama kera tidak memiliki ekor.Hal ini menarik karena sebagian besar kelompok primata lainnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah, justru memiliki ekor. Dorongan alami untuk bergerak seperti monyet. Nataliabiruk/Shutterstock Salah satu dugaan menyebutkan bahwa ketika kera-kera paling awal mulai beralih ke postur yang lebih tegak dan mengubah cara mereka bergerak di pepohonan, ekor menjadi semakin kurang berguna.Oleh karena itu, ada kemungkinan evolusi “mengalihkan” fungsi otot-otot yang sebelumnya digunakan untuk menyangga ekor, lalu berubah fungsi dan menjadi bagian dasar panggul.Dasar panggul adalah kumpulan otot di bagian bawah tulang belakang yang membantu organ-organ dalam tubuh melawan gaya gravitasi, sehingga tetap berada di tempatnya dan tidak “turun” ke bawah. Fungsinya sangat penting, seperti yang bisa kita bayangkan.Hipotesis lain menduga bahwa hilangnya ekor pada kera-kera awal mungkin bermula dari sebuah kesalahan genetik. Dalam sebuah studi tahun 2024, para peneliti menambahkan satu potongan pendek DNA yang ditemukan pada manusia dan kera lain (tetapi tidak pada primata lain) ke dalam tikus. Hasilnya, tikus-tikus tersebut berkembang dengan ekor yang sangat pendek, bahkan ada yang hampir tidak memiliki ekor sama sekali.Jadi, meskipun memiliki ekor mungkin terdengar menarik, leluhur kita mungkin kehilangan ekor karena memang tidak lagi membutuhkannya. Atau, bisa jadi sesederhana karena kesalahan genetik yang kebetulan saja terjadi.Mark Grabowski tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.