Ramadan di Britania: Sujud di Tengah Dingin dan Ujian Keamanan

Wait 5 sec.

University of Leeds Dokumen PribadiRamadan di Indonesia selalu identik dengan keriuhan yang hangat: suara beduk yang bersahutan, aroma takjil di pinggir jalan, hingga kemacetan menjelang waktu berbuka. Namun, bagi kami yang sedang menempuh studi di Britania Raya, Ramadan tahun ini hadir dalam sunyi yang membeku. Di West Yorkshire, fajar menyapa dalam suhu yang sering kali menyentuh angka 2 derajat Celsius, memaksa tubuh berbalut jaket tebal hanya untuk sekadar melangkah menuju dapur untuk sahur.Ada sebuah anomali menarik bagi publik di tanah air yang sering menganggap puasa di Eropa selalu lebih berat karena durasi siangnya yang panjang. Faktanya, tahun ini Ramadan jatuh di penghujung musim dingin (winter). Di Leeds, kami "dihadiahi" durasi puasa yang hanya sekitar 12 jam, bahkan lebih singkat dibandingkan durasi stabil 13 jam di Indonesia. Imsak jatuh sekitar pukul 05.30 dan Magrib sudah menyapa pada pukul 17.30.Namun, "diskon" waktu ini dibayar kontan oleh tantangan geografis. Ujian utamanya bukan lagi rasa lapar yang panjang, melainkan perjuangan fisik menembus angin kencang dan hujan khas Inggris menuju kampus University of Leeds. Berjalan kaki di sela jadwal seminar dengan perut kosong di tengah udara dingin yang menusuk memberikan sensasi spiritualitas yang berbeda; sebuah latihan ketangguhan (resilience) yang melampaui sekadar menahan dahaga.Oase di Kampus dan MasjidBeruntung, Leeds adalah kota yang cukup inklusif. Di tengah kepungan literatur perkuliahan dan tenggat tugas yang ada, kampus menyediakan "The Green Room" sebuah ruang musala yang menjadi oase bagi mahasiswa Muslim untuk sejenak menarik diri dari hiruk-pikuk akademik. Kehangatan institusional semakin terasa ketika universitas menjadwalkan buka puasa bersama sebanyak empat kali selama bulan suci ini. Bagi perantau yang jauh dari keluarga, momen ini bukan sekadar soal mengisi perut, melainkan pengakuan identitas di ruang publik global.Di luar tembok kampus, masjid-masjid ikonik seperti Leeds Grand Mosque dan Makkah Mosque menjadi pusat gravitasi sosial. Di sini, multikulturalisme Islam mewujud nyata. Kami berbuka dengan kurma kiriman dari Arab, hingga nasi biryani khas Asia Selatan. Saf-saf salat Tarawih pun mulai terisi pada pukul 20.00 hingga 21.30. Menempuh perjalanan pulang dari masjid di tengah kegelapan malam musim dingin yang sunyi menjadi momen refleksi paling personal: bahwa di mana pun sujud dilakukan, jarak 12.000 kilometer dari tanah air tidak mengecilkan makna ibadah.Ujian Keamanan dan KetangguhanNamun, kehangatan komunal ini sempat terinterupsi oleh kabar dingin dari kota tetangga. Laporan baru-baru ini mengenai percobaan ancaman penyerangan pusat komunitas Muslim di Manchester, yang hanya berjarak singkat dari Leeds, menjadi pengingat pahit. Menjadi minoritas di negeri orang menuntut kewaspadaan ekstra. Ramadan di Inggris, dalam perspektif sosiologi-kriminal, akhirnya bukan sekadar ritual privat, melainkan bentuk keberanian kolektif untuk tetap hadir dan menunjukkan wajah Islam yang damai di tengah bayang-bayang Islamofobia.Insiden tersebut tidak menyurutkan langkah kami. Justru, ancaman itu memperkuat solidaritas antar-mahasiswa internasional. Kami belajar bahwa keamanan bukan hanya soal perlindungan fisik, tapi soal rasa saling menjaga di meja makan dan saf salat.Rumah dalam DiriPada akhirnya, Ramadan di perantauan adalah sebuah madrasah tentang manajemen diri. Disiplin puasa beririsan dengan disiplin akademik. Menyeimbangkan waktu antara riset, ibadah malam yang berakhir menjelang pukul 10 malam, dan sahur di pagi buta adalah ujian mental yang krusial bagi seorang pelajar.Ramadan di Britania mungkin terasa lebih singkat secara jam, namun ia terasa lebih panjang dalam hal refleksi. Kami belajar bahwa "rumah" bukan lagi sekadar koordinat geografis di peta Indonesia, melainkan rasa aman dan hangat yang kami temukan di dalam komunitas, di ruang-ruang kampus yang inklusif, dan di dalam keteguhan hati untuk tetap beribadah meski di bawah langit yang berbeda.