Pemerintah Pastikan Impor Pertanian dari AS USD 4,5 Miliar Tak Pakai APBN

Wait 5 sec.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump tanda tangani kesepakatan tarif dagang. Foto: Dok. Instagram @sekretariat.kabinetPemerintah memastikan impor produk pertanian senilai USD 4,5 miliar dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–AS tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Skema tersebut disebut murni kerja sama bisnis antarpelaku usaha atau business to business (B2B).Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menekankan, pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu. Sementara itu, seluruh keputusan transaksi dan pembiayaan berada di tangan sektor swasta.“Pemerintah menegaskan bahwa komitmen fasilitasi impor produk pertanian senilai USD 4,5 miliar dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–AS merupakan dukungan kebijakan untuk memperlancar kerja sama bisnis-ke-bisnis (B2B) antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat, bukan pembelian yang dibiayai oleh APBN,” ujar Haryo dalam keterangan resminya, Minggu (1/3).Ia menambahkan, pemerintah hanya berperan sebagai regulator dan penjaga standar mutu. Sementara keputusan transaksi dan pembiayaan sepenuhnya berada pada sektor swasta.AS merupakan mitra dagang strategis bagi Indonesia sekaligus tujuan ekspor terbesar kedua. Pada 2025, ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam tercatat mencapai USD 31,0 miliar atau sekitar 11 persen dari total ekspor nasional yang sebesar USD 282,9 miliar. Dengan porsi tersebut, menjaga akses pasar AS dinilai penting untuk mempertahankan daya saing produk dalam negeri.Dari sisi industri, kerja sama ini dinilai relevan karena sejumlah komoditas pertanian masih dibutuhkan sebagai bahan baku. Indonesia, misalnya, mengimpor gandum untuk industri pengolahan makanan, termasuk yang berorientasi ekspor. Dengan pilihan pasokan yang lebih luas dan kompetitif, pelaku usaha diharapkan memperoleh bahan baku yang stabil, berkualitas, dan berharga bersaing.Pemerintah juga memaparkan proporsi impor pertanian dari AS masih relatif kecil. Pada 2025, total impor Indonesia dari AS untuk kelompok komoditas pertanian sekitar USD 1,21 miliar. Sementara total impor dari berbagai negara lain untuk kelompok yang sama mencapai USD 13,2 miliar.Artinya, porsi impor pertanian dari AS baru sekitar 9,2 persen. Sebagai gambaran, impor sereal (HS10) dari AS sebesar USD 375,9 juta dari total USD 3,7 miliar atau sekitar 10 persen. Sementara untuk soybeans (HS12), impor dari AS hanya USD 1,0 juta dari total USD 1,6 miliar.Menurut pemerintah, data tersebut menunjukkan ruang penyesuaian pasokan tetap berbasis pertimbangan komersial dan tidak menimbulkan beban fiskal.Komitmen fasilitasi impor ini telah ditindaklanjuti melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara perusahaan terkait dalam dua tahap, yakni pada 7 Juli 2025 dan 19 Februari 2026 dalam forum Indonesia–AS Business Summit. Proses tersebut didukung asosiasi pelaku usaha seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).Pemerintah memastikan kebijakan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat akses pasar sekaligus menjaga rantai nilai industri nasional. Di sisi lain, pemerintah tetap menjamin setiap impor memenuhi standar mutu dan keamanan yang berlaku serta siap mengambil langkah sesuai regulasi apabila terjadi gangguan pada pasar domestik.