Puasa Kedua Belas: Ketika Lapar Menjadi Jalan Turunnya Rahmat

Wait 5 sec.

Ilustrasi Khidmat berdoa di ujung senja, menanti berbuka puasa dengan hati penuh harap dan tawakal. Foto: Gemini AITak ada yang lebih sunyi dari kabar tentang ajal yang terasa dekat.Seorang murid Nabi Ibrahim pernah berada pada titik itu. Ia mendengar bahwa umurnya tak akan sampai pada esok pagi. Dunia yang hendak ia bangun terasa runtuh sebelum berdiri. Namun, alih-alih tenggelam dalam ketakutan, ia memilih satu jalan yang hening: puasa.Bukan untuk menawar kematian, melainkan untuk memperbaiki diri sebelum kematian datang.Ketika Ajal Adalah KetetapanAl-Qur’an dengan tegas menyatakan,"Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya telah datang, maka mereka tidak dapat menundanya dan tidak pula memajukannya walau sesaat.” (QS. Al-A’raf: 34)Dalam ayat lain ditegaskan,“Apabila ajal mereka datang, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. An-Nahl: 61)Secara dzahir, ayat ini menegaskan kepastian dan ketetapan ajal. Dalam tafsir klasik, seperti Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ajal adalah batas waktu yang telah Allah tetapkan sejak azali. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengubahnya dengan kekuatan sendiri.Namun, para ulama juga menjelaskan adanya konsep ajal mu’allaq (ketetapan yang bergantung pada sebab) dan ajal mubram (ketetapan final). Di sinilah rahasia doa, sedekah, dan amal saleh bekerja sebagai sebab turunnya rahmat Allah.Puasa sebagai Perisai dan Jalan TaqwaKetika sang pemuda memilih puasa, ia sedang memilih jalan takwa. Allah berfirman,“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)Menurut Tafsir Al-Qurthubi, tujuan utama puasa tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga membentuk jiwa yang tunduk dan sadar akan pengawasan Allah. Takwa inilah yang menjadi sebab turunnya perlindungan Ilahi.Rasulullah SAW bersabda,“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)Perisai dari apa?Bukan hanya dari api neraka, melainkan juga dari dorongan nafsu yang menjerumuskan manusia pada kehancuran spiritual. Dalam konteks ini, puasa menjadi benteng dari bala yang mungkin turun akibat kelalaian manusia.Amal sebagai Sebab Turunnya RahmatIlustrasi ajaran agama. Foto: ShutterstockDalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda,“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.” (HR. Tirmidzi)Dan dalam riwayat lain,“Sedekah itu menolak bala dan memperpanjang umur.” (HR. Thabrani; hasan menurut sebagian ulama)Para ulama menjelaskan bahwa yang berubah bukan ilmu Allah, melainkan apa yang tampak bagi manusia. Dalam Lauhul Mahfuz, semua telah tertulis. Namun, Allah menetapkan sebab-akibat dalam kehidupan dunia. Doa, puasa, dan sedekah menjadi bagian dari sunnatullah itu.Murid Nabi Ibrahim itu memahami satu hal: ia tidak bisa mengatur ajalnya, tetapi ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Allah.Ia berpuasa dengan penuh kesadaran. Ia bersedekah tanpa riya. Ia beristighfar dalam kesunyian malam.Hak Prerogatif AllahAl-Qur’an menyatakan,“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauhul Mahfuz).” (QS. Ar-Ra’d: 39)Ayat ini sering dijadikan dasar oleh para mufasir bahwa ada ketetapan yang dapat berubah berdasarkan kehendak Allah melalui sebab-sebab yang Dia tetapkan sendiri.Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa perubahan itu bukan berarti Allah tidak mengetahui sebelumnya, melainkan menunjukkan keluasan rahmat dan kekuasaan-Nya.Ketika waktu yang dikhawatirkan tiba, Allah menahan tangan Malaikat Maut. Umurnya diperpanjang hingga mencapai usia yang lebih matang. Bukan karena ia menawar takdir, melainkan karena ia menjemput rahmat dengan kesungguhan.Lapar yang MenghidupkanIlustrasi puasa Ramadhan. Foto: Oleksandra Naumenko/ShutterstockPuasa kedua belas itu menjadi simbol satu hal penting: kesadaran sebelum terlambat.Kita mungkin tidak pernah mendapat kabar kapan ajal tiba. Namun, Al-Qur’an mengingatkan,“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu...” (QS. Al-Munafiqun: 10)Ayat ini menggambarkan penyesalan orang yang lalai ketika ajal datang. Mereka ingin kembali hanya untuk bersedekah dan beramal saleh.Murid Nabi Ibrahim itu tidak menunggu penyesalan. Ia berpuasa sebelum ajal mengetuk.Dan mungkin di situlah rahasianya.Bukan soal panjangnya umur, melainkan soal bagaimana umur itu dipenuhi takwa.Puasa mengajarkan bahwa lapar bisa menjadi jalan kesadaran. Kesadaran melahirkan taubat. Taubat membuka pintu rahmat.Karena pada akhirnya, kematian adalah kepastian. Namun, rahmat Allah selalu lebih luas dari ketakutan kita.