Puasa Kesembilan: Ketika Doa Mengalahkan Kekuasaan

Wait 5 sec.

Ilustrasi Di tengah ancaman dan keterbatasan, doa yang tulus menjadi benteng terakhir manusia. Foto: Gemini AIMemasuki puasa kesembilan ramadan, kita mulai memahami bahwa kekuatan sejati bukan selalu terletak pada kekuasaan, harta, atau strategi manusia. Kadang, ia hadir dalam sesuatu yang tampak sederhana: doa yang tulus.Bayangkan sebuah negeri yang dilanda kemarau panjang. Sumur-sumur mengering. Tanah retak. Rakyat kelaparan. Istana pun mulai kehilangan cadangan airnya. Raja memanggil para menteri, ahli nujum, dan penasihat terbaiknya. Namun semua gagal menemukan solusi. Kekuasaan berhenti di batasnya.Kisah berikut ini menggambarkan krisis yang tak terpecahkan oleh tangan manusia. Dan memang, sejarah Islam menyimpan kisah-kisah serupa.Batas Kekuasaan DuniawiAl-Quran mengingatkan, “Katakanlah: Wahai Tuhan pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali Imran: 26).Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan manusia bukan mutlak. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa semua otoritas di bumi hanyalah titipan, sementara kuasa hakiki tetap milik Allah.Dalam konteks kisah kemarau panjang, raja bisa menggerakkan pasukan dan harta, tetapi tidak bisa memerintahkan langit menurunkan hujan.Mimpi dan PetunjukDalam narasi kisah di atas, sang raja mendapatkan mimpi tentang seorang lelaki miskin pembawa air bercahaya. Mimpi dalam tradisi Islam bukan sekadar bunga tidur. Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa mimpi yang baik adalah bagian dari kenabian (HR. Bukhari).Namun inti kisahnya bukan pada mimpi itu sendiri, melainkan pada siapa yang membawa perubahan: bukan bangsawan, bukan pejabat, melainkan seorang hamba dengan hati yang hancur dalam doa.Doa yang IkhlasAl-Quran secara tegas menyatakan:“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60).Tafsir Al-Qurthubi menjelaskan bahwa janji pengabulan bukan selalu berarti sesuai keinginan, tetapi sesuai hikmah terbaik dari Allah. Syaratnya adalah keikhlasan dan kerendahan hati.Kisah ini jelas menggambarkan seorang lelaki berlutut, mengangkat tangan, dengan hati yang retak namun penuh harap. Doa yang lahir dari kerendahan seperti itulah yang mengguncang langit.Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa Allah malu menolak tangan hamba-Nya yang terangkat memohon dengan penuh harap. Doa bukan sekadar permintaan; ia adalah pengakuan kelemahan.Keajaiban Turunnya HujanKetika doa dipanjatkan dengan tulus, langit yang gelap berubah menjadi hujan deras yang membasahi negeri. Kisah ini mengingatkan pada peristiwa istisqa’ salat meminta hujan yang dilakukan Nabi saw. ketika Madinah dilanda kekeringan. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa setelah Nabi berdoa, hujan turun hingga sepekan.Peristiwa itu bukan sekadar fenomena meteorologis, melainkan pengajaran bahwa doa kolektif dan kesadaran spiritual mampu mengubah keadaan.Puasa dan KetulusanPuasa adalah latihan merendahkan diri. Saat lapar dan haus, manusia menyadari betapa lemahnya ia. Doa dalam kondisi seperti itu memiliki kedalaman berbeda.Nabi saw. bersabda bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak, salah satunya doa orang yang berpuasa (HR. Tirmidzi). Puasa kesembilan adalah momentum memperbanyak doa, bukan sekadar memperpanjang daftar permintaan, tetapi memperdalam keikhlasan.Satirnya, kita sering merasa lebih percaya pada strategi dan koneksi daripada pada doa. Padahal doa bukan pelarian dari usaha, melainkan penyempurna usaha.Ketulusan Melampaui KekuasaanKisah kemarau panjang itu mengajarkan satu hal: bukan kekuasaan yang mengguncang istana, melainkan doa hamba yang ikhlas.Puasa kesembilan mengingatkan bahwa dalam hidup modern dengan teknologi dan sistem yang canggih manusia tetap memiliki batas. Ketika semua jalan tampak tertutup, doa membuka kemungkinan yang tak terduga.Bukan karena doa melanggar hukum alam, tetapi karena ia menautkan manusia dengan Pemilik hukum alam itu sendiri. Dan mungkin, hujan terbesar yang kita butuhkan bukanlah yang membasahi tanah, tetapi yang melembutkan hati.