Humanisasi AI: Retorika Global atau Agenda Kekuasaan Digital?

Wait 5 sec.

Jika manusia gagal mengendalikan arah AI, AI akan membentuk manusia. Foto: Dok. ChatGPTGagasan humanisasi kecerdasan buatan (AI) terdengar indah di ruang-ruang konferensi global. Di panggung internasional—seperti AI Impact Summit 2026 di New Delhi—narasi kemanusiaan menjadi jargon utama. AI diposisikan sebagai sahabat manusia, bukan ancaman. Teknologi digambarkan sebagai alat pembebasan, bukan instrumen kontrol. Bahasa moral menjadi kemasan politik digital.Di balik optimisme itu, ada pertanyaan mendasar: Apakah humanisasi AI sungguh tentang manusia, atau tentang legitimasi kekuasaan teknologi? Pertanyaan ini penting karena sejarah menunjukkan bahwa teknologi selalu membawa ideologi. Setiap revolusi teknologi selalu punya pemenang dan korban. AI tidak mungkin berbeda. Retorika kesejahteraan sering menutupi relasi kuasa yang timpang. Data, algoritma, dan infrastruktur tidak netral. Mereka dibangun dalam sistem ekonomi politik tertentu. Maka, membicarakan humanisasi AI tanpa kritik struktural adalah ilusi moral.Perubahan teknologi memang selalu mengubah peradaban manusia. Api, listrik, dan internet membentuk ulang cara hidup manusia. AI melakukannya dengan kecepatan jauh lebih ekstrem. Transformasi kini terjadi dalam hitungan minggu, bukan dekade. Namun, percepatan bukan selalu kemajuan sosial. Sejarah industri menunjukkan bahwa efisiensi sering mengorbankan manusia. Revolusi industri menciptakan kelas buruh miskin. Revolusi digital menciptakan ketimpangan data dan akses informasi. AI berpotensi memperdalam pola lama itu. World Economic Forum (WEF). Foto: Poetra.RH/ShutterstockLaporan World Economic Forum 2023 tentang "Future of Jobs" menunjukkan otomatisasi menggantikan jutaan pekerjaan. Pekerjaan baru muncul, tetapi tidak selalu inklusif. Kesenjangan keterampilan menjadi jurang sosial baru. Maka, humanisasi AI harus dibaca sebagai proyek sosial, bukan sekadar proyek teknologi.Dalam buku The Age of Surveillance Capitalism (2019), Shoshana Zuboff menjelaskan bagaimana teknologi digital mengeksploitasi pengalaman manusia sebagai bahan mentah data. Manusia direduksi menjadi sumber prediksi perilaku. AI mempercepat proses ini secara sistemik. Algoritma tidak hanya membaca manusia, tetapi juga membentuk perilaku manusia. Rekomendasi konten, iklan personal, dan sistem skor sosial membangun arsitektur kontrol baru. Humanisasi AI tidak mungkin terjadi jika logika ekonominya tetap eksploitatif. Selama data manusia menjadi komoditas, manusia tetap objek. Retorika etika tidak cukup tanpa perubahan model bisnis. Zuboff menyebut ini kolonialisme digital. Bentuk baru penjajahan tanpa tentara. Penjajahan melalui server, platform, dan kode.Di level global, kerangka etika memang mulai dibangun. UNESCO mengeluarkan "Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence" (2021). Dokumen ini menekankan hak asasi manusia, keadilan, dan transparansi algoritmik. Uni Eropa mengesahkan EU AI Act pada 2024 sebagai regulasi AI pertama yang mengikat secara hukum. Prinsipnya berbasis risiko, bukan retorika moral. Ini langkah maju. Namun, regulasi sering tertinggal dari inovasi. Korporasi teknologi bergerak lebih cepat dari negara. Negara sering menjadi regulator yang reaktif. Dalam kondisi ini, humanisasi AI sering menjadi slogan normatif, bukan kebijakan operasional. Tanpa mekanisme sanksi dan pengawasan, etika hanya menjadi dekorasi institusional.Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: ShutterstockMasalah utama AI bukan pada kecerdasannya, melainkan pada relasi kuasanya. Siapa menguasai data, menguasai masa depan. Data adalah sumber daya strategis abad ke-21. Negara dan korporasi berlomba menguasainya. Humanisasi AI sering dibungkus dengan narasi inklusivitas. Namun, infrastruktur komputasi tetap terkonsentrasi.GPU, pusat data, dan model besar dikuasai segelintir aktor global. Global South sering hanya menjadi pasar dan sumber data. Inovasi lokal sering bergantung pada platform global. Ketergantungan digital menciptakan ketimpangan struktural baru. Ini bukan masalah teknis. Ini masalah geopolitik teknologi.Yuval Noah Harari—dalam 21 Lessons for the 21st Century (2018)—mengingatkan bahwa teknologi bisa menciptakan kelas manusia yang tidak relevan secara ekonomi. Bukan karena mereka bodoh, melainkan karena tidak dibutuhkan sistem. AI mempercepat risiko ini. Otomatisasi tidak hanya mengganti pekerjaan fisik. Ia menggantikan kerja kognitif. Akuntan, jurnalis, analis data, dan guru terancam disrupsi. Humanisasi AI tidak cukup dengan pelatihan ulang. Sistem ekonomi harus berubah. Model distribusi kesejahteraan harus disesuaikan. Jika tidak, AI akan memperlebar jurang sosial—kemanusiaan tidak bisa dipisahkan dari keadilan ekonomi.Isu lain adalah disinformasi dan manipulasi realitas. Teknologi deepfake mengaburkan batas fakta dan fiksi. Demokrasi menghadapi krisis epistemik. Publik sulit membedakan realitas dan simulasi. Tanpa literasi digital kuat, masyarakat mudah dimanipulasi. Ilustrasi deepfake. Foto: ShutterstockLaporan Reuters Institute Digital News Report 2024 menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap informasi digital. Humanisasi AI harus dimulai dari kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, teknologi hanya melahirkan kecemasan kolektif. Labelling konten sintetis penting, tetapi tidak cukup. Pendidikan kritis jauh lebih penting.Anak muda sering dijadikan simbol harapan AI. Mereka disebut generasi digital native. Namun, generasi ini juga paling rentan terhadap manipulasi algoritmik. Platform membentuk identitas, emosi, dan pola pikir mereka. AI tidak netral dalam membentuk kesadaran.Algoritma memiliki bias nilai. Jika tidak dikontrol, AI membentuk generasi yang dikendalikan sistem. Humanisasi AI harus melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas. Pendidikan digital harus berbasis etika, bukan hanya keterampilan teknis. Literasi data harus menjadi literasi dasar.Humanisasi AI juga sering disederhanakan sebagai desain ramah pengguna. Antarmuka yang human friendly bukan humanisasi sejati. Humanisasi berarti relasi yang adil antara manusia dan sistem. Manusia tetap subjek, bukan objek. Keputusan penting harus tetap pada manusia. AI harus menjadi alat bantu, bukan otoritas. Prinsip ini sejalan dengan teori human-centered technology dari Don Norman dalam The Design of Everyday Things (2013). Teknologi harus mengikuti manusia, bukan sebaliknya. Ini prinsip sederhana, tetapi sering dilanggar.Ilustrasi artificial intelligence. Foto: ShutterstockDi negara berkembang, AI sering dipromosikan sebagai solusi pembangunan. Pertanian digital, kesehatan digital, dan pendidikan digital menjadi agenda utama. Program ini memang memberi manfaat nyata. Namun tanpa kedaulatan data, manfaat itu rapuh. Data lokal sering disimpan di situs global. Nilai ekonomi datanya mengalir keluar. Negara hanya mendapat sisa manfaat. Humanisasi AI harus berarti kedaulatan digital. Tanpa itu, AI hanya memperbarui pola ketergantungan lama.Humanisasi AI sejati tidak lahir dari jargon konferensi. Ia lahir dari kebijakan publik yang berpihak. Ia lahir dari regulasi yang tegas, ekonomi yang adil, pendidikan kritis, dan keberanian politik melawan dominasi platform global. Tanpa itu, humanisasi AI hanya menjadi narasi legitimasi. Bahasa moral untuk sistem yang tidak bermoral.Jadi, apakah AI membebaskan manusia, atau mengelola manusia? Apakah AI memperkuat martabat manusia, atau menggantikannya? Humanisasi AI bukan proyek teknologi. Ia adalah proyek peradaban. Jika manusia gagal mengendalikan arah AI, AI akan membentuk manusia. Sejarah menunjukkan bahwa teknologi selalu lebih cepat dari etika. Tantangannya adalah membuat etika bergerak lebih cepat dari algoritma. Jika tidak, humanisasi AI hanya akan menjadi slogan kosong di era mesin yang semakin berkuasa.