Perdana Menteri India Narendra Modi. Foto: Kazuhiro Nogi/AFPKunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Israel pada akhir Februari 2026 menjadi sorotan tajam di India. Sejak diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri India, lawatan tersebut tidak hanya dipandang sebagai agenda diplomatik biasa, tetapi juga memicu demonstrasi massal di kota-kota besar serta perdebatan panjang tentang arah kebijakan luar negeri New Delhi di tengah konflik Israel–Palestina yang masih berlangsung.Bagi banyak pengamat, reaksi domestik ini mencerminkan perubahan signifikan dalam politik luar negeri India: dari tradisi netral atau pro-Palestina menjadi hubungan pragmatis yang semakin mendalam dengan Israel, yang justru berisiko menimbulkan ketegangan internal.Sorotan Protes: Identitas dan Solidaritas PublikDilansir Al Jazeera, gelombang protes anti-kunjungan Modi secara terbuka menuntut agar pemerintah mencabut rencana perjalanan tersebut, dengan alasan bahwa lawatan itu “bertentangan dengan nilai sejarah dan solidaritas India terhadap rakyat yang terjajah”.Demonstran yang berkumpul di Delhi membawa spanduk pro-Palestina dan mengatakan bahwa India tidak boleh “mengabaikan tradisi solidaritasnya” terhadap isu kemanusiaan di Timur Tengah.Aksi ini mencerminkan sentimen yang berkembang di kalangan masyarakat India, terutama di komunitas Muslim dan kelompok progresif lainnya. Meskipun protes tidak seluruhnya mewakili mayoritas politik India, suara-suara ini mencerminkan ketegangan antara kebijakan strategis pemerintah dan realitas pluralitas sosial di lapangan.Ilustrasi peta Palestina dan Israel. Foto: Rokas Tenys/ShutterstockSecara historis, India bersikap netral dalam isu Israel–Palestina dan bahkan mengakui Palestina pada 18 November 1988. Hubungan diplomatik dengan Israel baru resmi dimulai pada 1992, jauh setelah banyak negara lain membangun relasi. Namun sejak itu, hubungan bilateral berkembang pesat—terutama di bidang perdagangan, teknologi, dan pertahanan (Prothomalo).Arab News juga mencatat, perdagangan bilateral antara India dan Israel mencapai sekitar US$3,75 miliar pada 2024–2025, dengan produk teknologi dan pertanian menjadi sektor utama ekspor dan impor. Di sektor pertahanan, Israel menjadi salah satu pemasok utama peralatan militer India, termasuk sistem radar, drone, dan teknologi pertahanan lainnya. Menurut data SIPRI, antara 2020–2024 Israel menyediakan hingga 13 persen dari total impor militer India.Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama ini semakin diperluas melalui joint venture produksi pertahanan di India, serta proyek-proyek teknologi sipil dan militer yang melibatkan kedua negara.Kritik Domestik dan Strategi DiplomatikKunjungan Modi mendapat kritik tajam dari sejumlah tokoh politik dalam negeri. Misalnya, senior legislator Jairam Ramesh dari Partai Kongres yang menyebut kunjungan tersebut “cynical dan hypocritical”, sekaligus mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap legacy dukungan India terhadap Palestina (Asianet Newsable).Kritik semacam ini semakin kuat karena kunjungan Modi terjadi di tengah eskalasi konflik di Gaza dan Tepi Barat—isu yang telah menarik perhatian dunia internasional. Beberapa lawan politik Modi menilai fokus hubungan bilateral dengan Israel justru melemahkan posisi India di forum global yang lebih luas, sekaligus mengabaikan aspirasi dan sensitivitas publik domestik.Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara pada konferensi pers di kantor Perdana Menteri di Yerusalem pada 10 Agustus 2025. Foto: Abir SULTAN / POOL / AFPIndia saat ini menghadapi dilema antara memperkuat aliansi strategis dengan Israel dan menjaga citra tradisionalnya sebagai negara yang mengadvokasi solusi dua negara dalam konflik Israel–Palestina. Politik luar negeri India di bawah Modi sering digambarkan sebagai “multi-alignment”, yakni bersikap pragmatis dengan menjalin hubungan bilateral kuat tanpa secara eksplisit berpihak pada satu kubu dalam konflik internasional.Namun, tekanan publik menunjukkan bahwa strategi ini tidak luput dari risiko. Demonstrasi di kota-kota besar sering kali mencerminkan aspek identitas politik domestik yang kuat, terutama di kalangan mahasiswa dan komunitas minoritas yang melihat isu Palestina sebagai simbol solidaritas global.The Times of India memuat bahwa lawatan Modi juga dapat dipandang sebagai langkah penting untuk memperkuat kerja sama strategis antara India dan Israel dalam menghadapi tantangan geopolitik yang lebih luas. Israel mengakui India sebagai “global power” serta mitra penting dalam upaya merumuskan aliansi yang berfokus pada keamanan, stabilitas regional, dan inovasi teknologi.Bagi Israel, hubungan dengan India bukan hanya soal kerja sama ekonomi, melainkan juga soal memperluas jaringan diplomatik di Asia Selatan dan Global South. Kunjungan tingkat tinggi semacam ini dipandang mampu meningkatkan profil Israel dalam forum multilateral, terutama ketika konflik di Timur Tengah terus menjadi perhatian global.Namun, kontestasi politik Israel sendiri juga ikut memengaruhi narasi kunjungan Modi. Menurut laporan, ada perdebatan di parlemen Israel mengenai undangan terhadap pihak-pihak tertentu di acara resmi yang melibatkan Modi, yang menunjukkan kompleksitas politik domestik Israel sendiri dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi hubungan bilateral.Tantangan Citra Internasional India ke DepanIlustrasi bendera India. Foto: Rahul Sapra/ShutterstockIndia kini berada di persimpangan antara kepentingan strategis dan ekspektasi nilai moral publik. Dalam era hubungan internasional yang semakin realis, pemerintah India tampaknya memilih kerja sama yang pragmatis dengan Israel untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dan teknologi.Namun, sisi domestik menunjukkan bahwa tekanan opini publik dan dinamika politik internal tetap memengaruhi legitimasi kebijakan luar negeri. Potensi dampak dari kunjungan ini bagi hubungan India dengan negara-negara Arab juga menjadi sorotan.New Delhi harus memastikan bahwa hubungan bilateral dengan Israel tidak mengorbankan kerja samanya dengan negara-negara Teluk yang merupakan mitra energi utama dan pemasok pekerja migran India di luar negeri.Sebagai kekuatan regional dan negara demokrasi terbesar di dunia, India tampak terus memperjuangkan posisi yang seimbang dalam geopolitik global. Namun, demonstrasi domestik yang dipicu oleh kunjungan Modi ke Israel menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri kini lebih rentan terhadap tekanan publik, dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya.Ke depan, perkembangan situasi dan sentimen global akan menunjukkan apakah India dapat mempertahankan dualitas strategi perdagangan dan pertahanan dengan Israel, sambil tetap menegaskan dukungan moral terhadap aspirasi bangsa Palestina, atau apakah tekanan domestik akan memaksa New Delhi untuk melakukan rekalibrasi politik luar negerinya.