Foto pemandangan Kawasan Hutan di Pegunungan (Sumber: Dokumentasi Pribadi/Nandi)Di tanah Pasundan, bentang alam bukan sekadar topografi mati yang menghampar tanpa makna. Deretan elevasi yang menjulang membelah cakrawala menyimpan nilai yang jauh lebih dalam dari sekadar gundukan tanah, material vulkanik, dan bebatuan andesit. Bagi masyarakat Sunda kuno, daratan tinggi ini diposisikan pada tempat yang sangat terhormat dan sakral. Terdapat sebuah kearifan lokal berdimensi filosofis yang menempatkan gunung sebagai guru; sebuah entitas yang diam, tak pernah bersuara, namun mengajarkan segalanya tentang kehidupan, batas-batas ambisi, dan kelestarian ekosistem. Konsep guru nu agung ini telah lama menjadi fondasi peradaban tentang bagaimana manusia masa lampau seharusnya berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.Realitas sosial kiwari justru menyajikan lanskap yang sangat ironis. Ribuan pasang kaki berbondong-bondong mendaki puncak setiap akhir pekan. Eskalasi tren pendakian dan aktivitas luar ruang yang terekam secara masif di berbagai platform digital kerap kali mereduksi kesakralan alam menjadi sekadar komoditas konten visual atau latar belakang swafoto yang estetik. Hasrat penaklukan ego manusia modern sering kali membutakan kepekaan ekologis. Puncak-puncak tertinggi kini kerap dijejali oleh riuhnya arogansi penaklukan, melupakan esensi dasar bahwa alam semesta tidak pernah meminta untuk ditaklukkan oleh siapa pun, melainkan murni untuk dipahami, diresapi, dan dihormati eksistensinya.Kurikulum Ekologis dari Gunung Sebagai GuruDalam tatanan kosmologi Sunda kuno, puncak-puncak bukit dan pegunungan sering kali dijadikan kabuyutan atau mandala kawasan suci yang dijaga ketat dan terlarang untuk aktivitas profan yang merusak. Hal ini sama sekali bukan sekadar mistikisme buta, melainkan strategi konservasi spasial yang sangat brilian. Mengakui keberadaan gunung sebagai guru berarti bersedia melucuti keangkuhan dan menjadi murid yang rendah hati di hadapan semesta. Guru nu agung tidak pernah memberikan ceramah panjang lebar di dalam ruang kelas yang nyaman. Kurikulum yang diajarkan terwujud langsung melalui ujian-ujian fisik, mental, dan spiritual di sepanjang jalur pendakian.Tanjakan terjal yang dipenuhi jalinan akar raksasa, udara tipis yang perlahan membekukan tulang, hingga cuaca ekstrem yang sanggup berubah wujud hanya dalam hitungan menit adalah cara alam menampar kesombongan rasionalitas dan teknologi manusia. Di atas ketinggian, segala atribut duniawi kekayaan, pangkat, dan status sosial luruh tidak bersisa. Peradaban manusia dipaksa untuk menyadari betapa kecil, fana, dan rentannya eksistensi mereka di hadapan kekuatan ekosistem purba yang mendikte ritme kehidupan.Lebih jauh lagi, pembelajaran ekologi paling fundamental dari sang guru nu agung terletak pada fungsinya sebagai penopang utama kehidupan makrokosmos. Hutan-hutan lebat basah yang menyelimuti punggung pegunungan bertindak sebagai tandon air raksasa bagi jutaan kehidupan yang bermukim di daerah hilir. Tanpa pernah mengeluh atau meminta imbalan, gunung menahan resapan curah hujan, menyaringnya secara natural melalui lapisan humus dan bebatuan vulkanik, lalu mengalirkannya ke bawah menjadi mata air jernih yang terus menghidupi denyut nadi peradaban.Sayangnya, ketamakan modernitas yang termanifestasi melalui deforestasi massal, alih fungsi lahan menjadi kawasan komersial, hingga masifnya pertambangan terus menggerogoti dan melukai tubuh sang guru. Ketika tebing-tebing runtuh menjadi longsor atau sungai memuntahkan banjir bandang yang menerjang permukiman di bawahnya, peristiwa tersebut sering kali dilabeli sebagai murka alam. Padahal, secara logis, itu hanyalah konsekuensi matematis dari ulah murid yang membangkang terhadap hukum keseimbangan ekologis.Meresapi Keheningan, Menangkap Pesan AlamKearifan lokal mengajarkan bahwa kebijaksanaan yang sejati sering kali lahir dari rahim keheningan. Dalam kebisuan vegetasi hutan tropis, terdapat harmoni jaring-jaring kehidupan yang berjalan sempurna tanpa sedikit pun membutuhkan intervensi manusia. Di sanalah letak observasi lapangan yang tak ternilai harganya. Pohon Cantigi (Vaccinium varingiaefolium) yang tumbuh kerdil, hangus, namun tetap bertahan hidup di bibir kawah beracun mengajarkan tentang resiliensi daya tahan luar biasa di tengah kondisi yang paling tidak bersahabat. Sementara itu, bunga Edelweiss (Anaphalis javanica) yang mekar abadi di padang sabana mengajarkan tentang esensi keindahan sejati, yakni keindahan yang tidak perlu dipetik atau dikuasai untuk bisa dinikmati nilainya.Memposisikan gunung sebagai guru menuntut manusia untuk melatih kepekaan indra demi membaca tanda-tanda alam yang tersembunyi. Angin dingin yang berhembus melalui celah pinus, kabut tebal yang merayap turun perlahan menyelimuti lembah, hingga paduan suara satwa nokturnal di tengah kegelapan malam adalah bahasa sunyi yang menuntut terjemahan dari kedalaman nurani. Para pejalan yang datang ke hutan dengan kepala tertunduk dan hati yang terbuka pasti akan pulang membawa kedalaman spiritual dan perspektif baru, bukan sekadar membawa pulang plakat penanda puncak apalagi tumpukan sampah plastik.Filosofi luhur ini secara elegan memberikan sindiran tajam bagi pola hidup urban yang serba cepat, bising, dan eksploitatif. Masyarakat modern terlalu sibuk menguras sumber daya bumi hingga ke titik nadir, abai terhadap fakta bahwa alam memiliki batas ambang toleransi. Konsep guru nu agung sejatinya adalah rem darurat kultural. Ia menjadi pengingat keras bahwa merusak dan mencemari kawasan hulu sama persis dengan meminum racun dari cangkir yang diracik oleh tangan sendiri. Setiap tegakan pohon beringin yang ditebang di lereng curam adalah satu lembar buku pengetahuan ekologi yang terbakar sia-sia sebelum sempat dieja dan dipelajari oleh generasi penerus.Pada akhirnya, memandang daratan tinggi di Pasundan semata-mata sebagai objek penaklukan fisik, eksploitasi mineral, maupun komoditas visual adalah sebuah kemunduran peradaban yang tragis. Jika alam raya adalah sekolah terbesar bagi umat manusia, maka sudah sepatutnya manusia kiwari mengevaluasi rapor kelestarian lingkungannya yang kian memerah. Gunung akan selalu berdiri tegak dalam keheningan absolutnya, bertindak sebagai saksi bisu yang merekam dengan presisi setiap jejak keserakahan maupun kepedulian yang ditinggalkan oleh manusia.Tugas peradaban hari ini bukan lagi berlomba-lomba mencapai titik tertinggi dari sebuah peta topografi, melainkan memastikan ajaran tak bersuara dari sang guru nu agung tetap dihormati dan dilestarikan. Pesan keheningan tersebut harus diresapi kembali ke dalam kesadaran kolektif masyarakat, sebagai satu-satunya jalan rasional untuk memutus siklus kehancuran ekologis di masa depan.