Ketika Pencipta “Darah Juang” Pergi, Apa yang Tersisa dari Nyanyian Perlawanan?

Wait 5 sec.

Pencipta lagu Darah Juang, John Tobing. Foto: Dok. IstimewaSahur, Dering Notifikasi, dan Sebuah NamaKabar itu datang kepada saya menjelang sahur.Saya sedang bersiap menyantap sepiring nasi hangat, ditemani segelas air putih ketika notifikasi dari saluran berita muncul di ponsel.Nama itu membuat saya terdiam: John Tobing, pencipta lagu Darah Juang, meninggal dunia, Rabu, 25 Februari 2026, sekitar pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada.Dari kejauhan masih terdengar teriakan “sahur… sahur…” dan bunyi kentongan, atau gendang seadanya yang dipukul anak-anak kampung—riuh kecil yang akrab setiap Ramadan.Namun di tepi meja makan saya, ada keheningan lain. Hanya bunyi kecil notifikasi dan cahaya layar yang memantul di permukaan meja. Di antara nasi hangat dan air putih itu, kabar tentang kepergian beliau terasa seperti jeda yang tidak ikut berisik.Saya membaca perlahan. Kabar duka wafatnya pencipta Darah Juang seperti menyentak ruang batin ini. Bukan semata karena kehilangan seorang seniman, melainkan karena ada sepotong masa muda yang terasa ikut dipanggil pulang. Dan ingatan pun mulai bergerak.Catatan Pribadi tentang Jalan yang BerubahIlustrasi menulis lagu. Foto: Dragon Images/ShutterstockDarah Juang bukan sekadar lagu. Ia adalah simpul emosional. Ia menjahit kegelisahan menjadi keberanian. Liriknya sederhana, bahkan repetitif. Namun, justru di situlah kekuatannya: ia mudah dihafal, mudah diteriakkan, dan mudah menjadi milik bersama.Kini penciptanya telah tiada. Dan saya bertanya pada diri sendiri: Apakah lagu itu juga akan perlahan kehilangan rohnya? Atau justru kepergian abadi sang pencipta mengingatkan kita bahwa ide dan semangat tak pernah benar-benar mati?Ada fase dalam hidup ketika kita begitu yakin bahwa dunia bisa diubah hanya dengan suara lantang. Saya pernah berada di fase itu. Fase di mana turun ke jalan berdemonstrasi lebih dirindukan, daripada belajar di ruang kuliah dan mendengarkan presentasi.Karena saya yakin, demonstrasi bukan sekadar aksi; ia adalah cara membangun identitas, cara merasa berpihak, dan cara menegaskan bahwa kita tidak netral terhadap ketidakadilan.Di momen-momen seperti itu, saya mengenal Darah Juang. Dimulai saat menjadi mahasiswa baru di Makassar—kota yang jika demonstrasi diberitakan di media, hampir tidak pernah tak mendapatkan porsi liputan.Ilustrasi Benteng Rotterdam di Makassar. Foto: Sony Herdiana/ShutterstockDi sanalah diri ini mulai akrab dengan aksi dan tentu saja bersama dengan Darah Juang yang tidak selalu dinyanyikan dengan rapi, tidak pula dengan nada yang presisi. Namun ada satu hal yang selalu sama dan pasti: keyakinan bahwa kami sedang memperjuangkan sesuatu yang berarti.Sebelum di Makassar, selepas menuntaskan tangga akhir sekolah menengah, saya sendiri bermimpi pergi agak jauh: Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.Namun, saya pada saat itu ternyata belum kesampaian, meskipun telah mencoba. Keputusan melanjutkan pendidikan tinggi telah mendapat jawabnya: cukup di kota yang dekat dengan rumah agar merasa tidak sepenuhnya pergi, agar jarak masih bisa dinegosiasikan dengan rindu.Setelah sebentar saja menghanyutkan diri di antara terik matahari kota Makassar, bau aspal, serta degup jantung yang kadang lebih cepat dari langkah kaki aparat, belakangan saya tahu bahwa pencipta lagu yang sering kami nyanyikan itu adalah seorang alumnus UGM.Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Ada sedikit kebanggaan yang tiba-tiba tumbuh—seperti ada simpul kecil yang mengikat mimpi yang belum tercapai dengan lagu yang terus saya lantangkan.Saat itu, karena darah muda masih sangat kental dengan gejolak berontak, berhenti sejenak dan melangkah kembali bukanlah hal yang terasa sunyi.Saya berhenti di Makassar dan menyemai kembali mimpi di Yogyakarta, seraya berharap bisa belajar lebih dekat dengan sumber lagu itu nantinya. Hasilnya ternyata sama: masih belum rezeki. Perihal asbab rezeki yang tak kunjung datang beruntun tentu tak perlu dibagikan di sini. Ia adalah cerita yang lain.Ilustrasi kota Malang. Foto: Anita Handayani/ShutterstockPerjalanan kemudian membawa saya ke Malang, kota indah dengan denyut pergerakan yang juga terasa. Jaraknya jauh. Lebih jauh dari rumah. Mungkin karena jarak itu pula saya semakin tenggelam dalam dinamika gerakan.Dari hanya menjadi bagian biasa dari massa, koordinator lapangan, hingga inisiator aksi yang aksinya sendiri bahkan tak selalu bisa saya ikuti.Ada satu aksi yang masih saya ingat dan selalu teringat lagi. Hujan turun deras. Spanduk mulai basah. Sebagian massa bubar. Namun, ada satu orang tetap menyanyikan Darah Juang, sendirian. Suaranya parau. Kami tertawa sedikit. Lalu entah kenapa kami ikut lagi. Tidak heroik. Tidak revolusioner, tetapi sangat hangat.Di masa-masa aktivisme itu, berdiri di baris depan, memegang megafon, menyatukan suara, mendendang-gemuruhkan Darah Juang membuat saya pernah merasa paling benar. Saya pernah yakin bahwa berdiri di jalan adalah satu-satunya cara untuk berpihak. Dan dengan berdiri di jalan berarti seseorang berpihak pada sisi yang benar.Dan di hari-hari yang lama setelah itu, saya tahu, kenyataan tidak selalu sesederhana itu. Dan hidup juga sama sekali tidak sesimpel posisi berdiri.Dari Massa Aksi ke Ruang BirokrasiHari ini rutinitas telah berganti. Saya lebih sering berada di ruang rapat daripada di atas mobil komando aksi. Menjadi bagian dari birokrasi yang dulu sekali saya kritisi.Mungkin beberapa orang pernah menyentil basi bahwa orang-orang yang dulu gemar ikut aksi, ketika ada di birokrasi ternyata juga ikut korupsi.Namun bagi saya, masuk ke birokrasi ini bukan kebetulan. Itu sebuah pilihan sadar. Di antara puluhan atau ratusan instansi untuk dipilih saat seleksi, hati memang telah sejak awal lebih condong kepada BNP2TKI—lembaga negara yang mengurusi Tenaga Kerja Indonesia sebelum berganti terminologi menjadi Pekerja Migran Indonesia—dan kini dengan transformasi kelembagaan, telah menjadi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.Bagi saya, masuk ke birokrasi, berkarya melalui lembaga ini, bukan perubahan arah yang ekstrem. Bukan pula lompatan yang bertolak belakang dengan masa lalu. Sejak mahasiswa, saya telah aktif mengadvokasi buruh dan tani. Ketimpangan sudah menjadi isu yang sejak awal saya pahami.Maka dari itu, ketika memilih bekerja di lembaga yang melayani pekerja migran—kelompok yang juga rentan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan—saya merasa tidak sedang berpaling. Garisnya masih sama. Isunya tetap sama: pekerja, ketimpangan, pelindungan.Hanya ruangnya saja yang berbeda.Jika dulu saya berdiri di luar pagar dan berteriak, kini saya duduk di dalam ruang rapat dan sedikit-banyak ikut menyusun keputusan serta kebijakan—besar ataupun kecil kontribusinya. Jika dulu suara saya lantang di jalan, kini saya lebih banyak memastikan prosedur berjalan, pelindungan terlaksana, dan pelayanan tidak kehilangan empati.Ilustrasi demo. Foto: Jamal Ramadhan/kumparanTerkadang, ada perasaan ganjil ketika mendengar kritik dari luar yang nadanya sangat familiar. Saya mengenali nada itu. Saya pernah berada di sana. Dan saya tahu, tidak semua kritik keliru. Pun tidak semua kebijakan sempurna. Di situlah saya menyadari: semangat tidak boleh berhenti hanya karena berubah posisi berdiri.Maka ketika kabar wafatnya John Tobing datang, saya tidak hanya merasa kehilangan seorang pencipta lagu. Saya merasa diingatkan. Lagu itu bukan hanya tentang teriakan. Ia tentang keberpihakan: tentang menjaga agar nurani tidak tumpul ketika jabatan, rutinitas, dan kenyamanan mulai terasa biasa.Memang, tidak semua hal sesederhana yang dulu saya bayangkan. Ada dinamika, ada batas, ada tanggung jawab yang lebih kompleks. Namun, satu hal yang tidak ingin saya hilangkan adalah kepekaan terhadap ketidakadilan yang dulu membuat saya bersedia berdiri berjam-jam di dalam aksi.Dan mungkin, itu merupakan cara yang paling sederhana untuk menghormati Darah Juang. Bukan dengan nostalgia berlebihan. Bukan dengan romantisme jalanan, tetapi dengan tetap peduli—meski posisi kita berdiri di masa lalu dan saat ini, tidak sama lagi.Apa yang Tersisa dari “Darah Juang”?Kepergian John Tobing bukan sekadar kehilangan seorang pencipta lagu. Lagu itu telah melampaui dirinya. Ia menjadi milik generasi. Ia dinyanyikan oleh mereka yang mungkin tidak pernah tahu siapa penciptanya, tetapi merasakan getarnya.Mahasiswa hari ini—yang lahir jauh setelah Reformasi—masih menyanyikannya. Mereka mungkin tidak mengalami konteks sejarah yang sama, tetapi tetap menemukan resonansi di dalamnya. Itu sebabnya lagu ini tidak pernah benar-benar usang. Ia berpindah dari satu gelombang aksi ke gelombang berikutnya.Maka, pertanyaannya bukan lagi "Apakah lagu itu akan terus dinyanyikan?" Besar kemungkinan iya, mungkin pasti, tetapi yang lebih penting dari itu adalah "Apakah nilai yang terkandung dan semangat di dalamnya masih kita rawat, bahkan ketika posisi kita telah berubah?"Sahur tadi terasa berbeda. Nasi hangat dan segelas air putih tetap sama seperti biasa. Namun, ada rasa yang mengendap lebih lama. Bukan sekadar duka, melainkan pengingat. Bahwa jalan hidup boleh berbelok. Jarak dari rumah boleh semakin jauh. Peran boleh berubah dari pengkritik menjadi pelayan publik. Namun, idealisme tidak harus ditinggalkan di salah satu persimpangan itu.Dan mungkin, itulah yang benar-benar tersisa dari nyanyian perlawanan: bukan hanya suara yang menggema di jalan, melainkan juga komitmen yang diam-diam tetap hidup di dalam diri.Nyanyian Itu Tidak BerhentiIlustrasi bunga krisan di pemakaman. Foto: Shutter StockSelamat jalan, John Tobing. Lagu yang engkau ciptakan telah melintasi lebih dari satu generasi, melampaui banyak kota dan pagar-pagar perguruan tinggi, bahkan melampaui para penyanyinya sendiri.Dulu, kami menyanyikannya dengan keyakinan penuh,Di sini negeri kami, tempat padi terhampar,seolah sedang menegaskan bahwa tanah ini memang layak diperjuangkan. Dan ketika bait itu berlanjut, “Bunda relakan darah juang kami, kami mungkin belum sepenuhnya mengerti betapa panjang dan berlikunya arti perjuangan itu.Kini, di antara sahur yang sederhana dan ruang pelayanan publik yang ramai, saya menyadari: nyanyian itu tidak pernah benar-benar berhenti.Terima kasih telah menitipkan lagu yang tidak sekadar untuk diteriakkan, tetapi juga untuk terus dihidupi.