Kurniasih (58), lansia pedagang mainan di depan SDN Bendungan Hilir 05, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanHujan turun cukup deras pagi ini, Jumat (27/2). Trotoar di depan gerbang salah satu sekolah dasar di kawasan Benhil, Jakarta Pusat, tampak mengkilap akibat derasnya guyuran hujan.Di antara suara kendaraan dan rintik hujan yang tak kunjung reda, seorang wanita paruh baya duduk diam di bangku kecil yang ia bawa dari rumahnya. Jas hujan menutup tubuhnya rapat-rapat.Di hadapannya, selembar tikar digelar di atas trotoar sebagai alas dagangan. Terhampar di atasnya, mainan-mainan anak. Semuanya ditutup plastik bening agar tak diguyur hujan.Perempuan itu bernama Kurniasih (58). Ia berjualan mainan anak yang sederhana. Ada pedang-pedangan plastik, plastisin, slime, kartu, hingga mainan kecil lain yang dijual Rp 2 ribu sampai Rp 10 ribu.Hujan tak membuatnya beranjak. Sesekali, ia mengelap dagangannya yang basah dengan kanebo, lalu kembali menatanya, sambil melayani anak-anak SD yang datang satu per satu selepas jam sekolah.Di tengah gerak tangannya yang pelan, matanya kadang ikut basah. Air hujan dan air mata bercampur, tanpa banyak suara.Kurniasih tak berjualan dengan lapak tetap. Dulu ia sempat berkeliling dari satu kawasan ke kawasan lain, mulai dari Kebon Nanas, Kebayoran, hingga Kebon Jeruk. Namun sejak lama, ia memilih menetap di titik ini.Kurniasih (58), lansia pedagang mainan di depan SDN Bendungan Hilir 05, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan“Iya, (jualan) dari tahun 1989,” ujar Kurniasih saat ditemui kumparan di lokasi.Sudah lebih dari 30 tahun ia menjual mainan. Dari tempat yang sama, ia membesarkan anak-anaknya. Dari hasil dagangan itulah kebutuhan rumah tangga dipenuhi, sedikit demi sedikit.“Kalau dulu mah, masih bisa, ya namanya aku gedein anak dari sini masih bisa. Beda kan kalau dulu mah,” tuturnya.Zaman berubah. Anak-anak kini lebih akrab dengan layar ponsel ketimbang mainan plastik di trotoar. Kurniasih menyadari betul hal itu.“Justru itu makanya iya. Ini mumpung bulan puasa lumayan lah. Emang ada yang laku juga nih, satu dua gitu beli ini nih mainan ini pedang-pedangan,” kata dia.Jumat ini, hujan turun sejak pagi. Bagi Kurniasih, kondisi ini menjadi dilema. Libur sekolah akhir pekan berarti dua hari tanpa pemasukan. Hujan berarti risiko dagangan basah dan pembeli berkurang. Namun pilihan itu tetap ia ambil.“Kalau nggak hujan-hujanan gini kan nekat, entar besok dua hari nggak makan. Libur Sabtu Minggu. Iya tadinya udah PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) terus. Ya Allah, kata aku sedih lah,” ucap Kurniasih sendu.“Bukan PR lagi (kalau libur). Kita udah kayak orang spaneng gitu. Tidur salah, ini pegel,” keluhnya.Dagangan Basah, Pemasukan Tak Pernah PastiDagangan mainan milik Kurniasih (58) di depan SDN Bendungan Hilir 05, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanPenghasilannya pun tak menentu. Bahkan pernah, dalam sehari, ia hanya membawa pulang Rp 20 ribu.“Sekarang mah nggak nentu parah, apalagi waktu yang kemarin tuh lagi sebelum PJJ tuh, dapat Rp 20 ribu semuanya. Gede modalnya aja,” ungkap dia.Mainan-mainan itu ia beli satuan, bukan lusinan. Modal terbatas membuatnya tak sanggup membeli dalam jumlah besar.Pasar Gembrong menjadi tempatnya belanja, karena di sana ia bisa mencampur jenis mainan meski hanya satu-satu.“Kalau di kota itu bisanya lusinan. Aku nggak kuat modalnya, enggak ada,” kata Kurniasih.Hujan yang membuat sebagian dagangannya basah bukan hal baru baginya. Setelah pulang, ia akan mengelap satu per satu mainan tersebut.“Ini PR nih, kalau di rumah udah aku ngelapin satu-satu,” ucapnya.Tak semua modal kembali. Ada mainan yang tak habis terjual, ada pula yang ketinggalan musim.“Kalau dibilang balik modal ya, pasti ada bangkainya sih. Misalnya selusin tuh enggak habis selusin semua, enggak. Pasti ada separo-separonya. Kalau lagi mujur ya habis gitu,” ujar dia.Namun ia tetap menyimpannya. Mainan memang tak basi, tapi waktu sering kali membuatnya kehilangan peminat.“Iya. Cuma udah ketinggalan musim, ya gitu sama aja. Kalau udah ketinggal tuh ya udah resikonya gitu aja,” kata Kurniasih.Rumah Kontrakan dan Tubuh yang Tak Lagi KuatKurniasih (58), lansia pedagang mainan di depan SDN Bendungan Hilir 05, Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparanKurniasih tinggal di sebuah rumah kontrakan. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah, masing-masing mengontrak rumah sendiri.Untuk biaya hidup, ia mengandalkan hasil jualan. Anak-anaknya membantu sebatas biaya kontrakan dan kebutuhan tertentu.“Masih pada dadak (mendadak) nyari, Alhamdulilah inget sama orang tua,” tuturnya.Tubuhnya tak lagi sekuat dulu. Penyakit datang satu per satu.“Diabetes. Banyak aku, diabetes ada, kolesterol ada. Pengapuran dua-duanya nih,” kata Kurniasih.“Sakit kalau ini pada, makanya aku kalau gini-gini, terapi, tapi aku kadang terapi enggak dagang-dagang aku. Ke rumah sakit mulu,” sambungnya.Meski rutin kontrol kesehatan, ia tetap turun ke trotoar hampir setiap hari. Jika libur sekolah, ia memilih tinggal di rumah, tanpa pemasukan.“Kalau libur, PJJ, enggak, aku nggak dagang di mana-mana, udah nganggur aja seadanya aja,” ungkapnya.Kurniasih tahu, zaman tak lagi berpihak pada pedagang mainan kaki lima. Namun ia juga tahu, menyerah bukan pilihan.Ia tak bicara tentang mimpi besar. Yang ia sebut hanya satu keyakinan sederhana, yang ia pegang setelah puluhan tahun duduk di trotoar.“Kalau libur sekolah aja (istirahat). Kalau enggak libur, enggak aku. Mau dapat apa enggak, aku enggak nyerah gitu. Udah gitu aja. Insya Allah besok ada dapat gitu aja,” kata dia.